Connect with us

9info.co.id – Usai ribut soal distribusi air di Batam yang bermasalah, SPAM Batam diisukan memutus kontrak sejumlah karyawan. Seorang korbannya mengaku kontrak mereka tidak lagi diperpanjang kontrak terhitung 31 Januari 2023.

Salah seorang karyawan SPAM Batam mengaku kontrak mereka berakhir di 31 Januari 2023, dan tidak lagi diperpanjang. Mereka menuding pemutusan kontrak itu secara sepihak.

Namun pihak PT Moya sebagai operator air minum Batam, membantah hal tersebut. Moya beralasan ada proyek baru di Pekanbaru dan Jakarta, beberapa karyawan dipindahkan.

“Belum ada info resmi,” ujar Ginda Alamsyah, Humas PT Moya kepada Batamnews saat dikonfirmasi, Selasa (31/1/2023) di Batam. Sedangkan mengenai pengakuan karyawan tersebut belum ditanggapi.

Para karyawan yang merasa diputuskontrak berencana menggelar aksi hingga menyurati DPRD Batam. Seorang karyawan menyebutkan, selama rentang waktu antara 2020-2023 sudah tandatangan kontrak kerja sebanyak 5 kali.

“Mengingat kami seluruh karyawan sudah bekerja mulai 15 November 2020. Kami mengawali kontrak kerja pada masa peralihan perusahaan sebelumnya dengan SPAM Batam. Selama rentang waktu 2020 sampai 2023, sudah terjadi 5 kali tanda tangan kontrak kerja,” ujar seorang karyawan, Selasa (31/1/2023) di Batam.

Penandatanganan kontrak kerja pertama pada 15 November 2020 hingga 14 Mei 2021. Sekitar 6 bulan kontrak kerja pertama.

Kontrak kedua pada 15 Mei 2021 hingga 31 Oktober 2021. Ketiga pada 1 November 2021 hingga 30 April 2022. Keempat pada 1 Mei 2022 hingga 31 Juli 2022 dan kontrak kelima pada 1 Agustus 2022 hingga 31 Desember 2022.

“Kontrak selanjutnya 31 Desember 2022 sampai 31 Januari 2023 ini sekitar satu bulan. Nah, ini yang kita permasalahkan. Kontrak yang terakhir, dari manajemen memberlakukan kontrak ini, secara otomatis hanya berdasarkan surat elektrik yaitu memo dari WA dan Email,” katanya.

Mereka pun mempermasalahkan itu karena sesuai UU Cipta Kerja bahwa setiap kontak kerja itu harus dibuktikan dengan tanda tangan kedua belah pihak yakni perusahaan dan karyawan.

“Di sini tidak ada hitam di atas putih soal kesepakatan dari kontrak kerja itu. Jadi setelah kontrak kerja itu di bulan 31 Desember 2022, itu langsung lanjut bekerja di bulan Januari sampai hari ini 31 Januari 2023.

Artinya, di UU Cipta kerja itu, jika melampaui batas waktu tanpa ada perjanjian secara tertulis, itu artinya dari Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) PKWT berubah menjadi jadi Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT). Secara otomatis seperti itu, PKWTT itu artinya dia permanen,” imbuh dia.

Para karyawan yang kena PHK menuntut permanen dan kerja kembali. Beberapa diantara dipanggil oleh perusahaan dan diminta mengakhiri kontrak kerjanya dengan alasan anggaran yang terbatas atau efisiensi.  ( Hum )

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Dukung Kebutuhan Data Centre, Citramas Group Investasi Rp 600 Miliar Bangun SWRO Kabil

Dukung Kebutuhan Data Centre, Citramas Group Investasi Rp 600 Miliar Bangun SWRO Kabil

9info.co.id | BATAM – Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menghadiri Groundbreaking pembangunan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Kabil, Kamis (5/11/2026).

Pembangunan SWRO tahap pertama ini merupakan komitmen investasi dari Citramas Group dengan nilai proyek sebesar USD 32,8 juta atau sekitar Rp 600 miliar.

Amsakar menjelaskan, pembangunan SWRO Kabil ini akan berlangsung dalam dua tahapan. Tahap pertama ini memiliki kapasitas produksi sebesar 300 lps. Pembangunan akan berlanjut untuk tahap kedua dengan kapasitas produksi 400 lps.

Kehadiran fasilitas pendukung investasi ini, lanjut Amsakar, merupakan langkah strategis dalam memperkuat pasokan air untuk proyek Data Centre dan Kawasan Terintegrasi di dalamnya.

Menurutnya, pembangunan ini tidak hanya menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek kemajuan Batam, tetapi juga menjadi kontribusi dunia usaha dalam memperkuat kesiapan infrastruktur investasi.

“Kami mengapresiasi langkah Citramas yang telah mengambil bagian dalam memperhatikan pasokan air di Batam. Ini merupakan komitmen investasi yang patut kita dukung bersama karena kebutuhan air menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan industri, termasuk pengembangan Data Centre di Batam,” ujar Amsakar.

Ia berharap, investasi tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan kawasan industri sekaligus memperkuat daya saing Batam sebagai tujuan investasi.

Pembangunan ini juga menjawab tantangan pasokan air untuk pengembangan investasi Data Centre ke depannya.

“Investasi tidak hanya berbicara tentang pembangunan fasilitas usaha, tetapi juga bagaimana kita memastikan infrastruktur pendukungnya tersedia dengan baik. Ketersediaan air yang memadai akan memberikan kepastian bagi pelaku usaha untuk mengembangkan kegiatan investasinya. Karena itu, sinergi seperti ini perlu terus kita perkuat,” tambahnya.

Sementara itu, kebutuhan air untuk kawasan Kabil Industrial Estate (KIE) dan Nongsa Digital Park (NDP) selama ini telah mendapat dukungan dari pembangunan embung mandiri yang berada di wilayah Kabil. Embung tersebut memiliki kapasitas sekitar 5.200 meter kubik per hari (60,2 lps) untuk mendukung kebutuhan air di kawasan tersebut.

Selain pembangunan SWRO, Citramas Group tengah mempercepat pembangunan embung di wilayah Nongsa Digital Park. Upaya ini menjadi bagian dari penguatan infrastruktur air untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan seiring dengan berkembangnya aktivitas industri dan investasi di kawasan Nongsa.

BP Batam memandang pengembangan infrastruktur air melalui investasi dan penyediaan fasilitas pendukung secara berkelanjutan sebagai langkah penting dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif.

“Melalui kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha, Batam diharapkan semakin siap memenuhi kebutuhan infrastruktur dasar, memberikan kepastian bagi investor, serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat. Dan pembangunan ini harus kita dukung agar tidak ada kendala dan dapat terselesaikan sampai waktu yang telah ditentukan,” tutup Amsakar.

Senada, CEO Citramas Group, Michael Wiluan, menambahkan bahwa pihaknya menyadari keberhasilan pengembangan Data Centre bergantung pada ketersediaan infrastruktur dasar yang andal. Khususnya pasokan air bagi keberlangsungan industri.

Pembangunan SWRO Kabil ini, lanjutnya, menjadi salah satu langkah strategis agar pertumbuhan investasi digital tersebut dapat terealisasi optimal.

Di samping SWRO, Citramas juga telah memastikan pasokan energi lain seperti listrik dan konektivitas internet dengan beberapa mitra strategis serta instansi terkait dapat tercukupi.

“Kami hari ini akan memulai tahapan pembangunan fasilitas SWRO 300 lps tahap pertama dengan target operasi hingga November 2027 dari total rencana kapasitas 700 lps. Pembangunan ini sekaligus menjadi bagian komitmen kami untuk membangun kawasan industri yang tidak hanya kompetitif tapi ikut bertanggung jawab terhadap pengelolaan infrastruktur pendukung investasi,” tegas Michael Wiluan.

Michael menjelaskan bahwa selama ini Citramas Group juga telah menggarap suplai air bersih untuk kebutuhan Kawasan Kabil dan Nongsa secara mandiri sejak tahun 1992 melalui ketersediaan embung seluas 4 hektare di dalam kawasan Kabil.

Saat ini, lanjut Michael, produksi air bersih tersebut mencapai 5.200 meter kubik per hari (60,2 Lps). Dan pada awal tahun 2027, kapasitas tersebut akan ditingkatkan menjadi 10.000 meter kubik per hari (atau setara dengan 115,74 Lps), melalui penambahan embung baru di Nongsa serta proses daur ulang air limbah industri.

“Kami turut mengapresiasi dukungan BP Batam terhadap pertumbuhan investasi. Kami ingin agar pembangunan ini dapat berjalan lancar hingga waktu yang ditargetkan,” pungkasnya. (DN)

Continue Reading

Berita Lain