Connect with us

9info.co.id – Bupati Simalungun Radiapoh Hasiholan Sinaga SH MH di dampingi Wakil Bupati H Zonny Waldi, menyambut kedatangan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di Kota Wisata Parapat Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kebupaten Simalungun, Sumut, Selasa (1/2/2022).

Kedatangan Menteri PUPR dalam rangka persiapan Peresmian Ruang Terbuka Publik (RTP) yang berlokasi di Pantai Bebas Parapat yang akan dilakukan oleh Presiden RI Ir Joko Widodo

Kepada Menteri, Bupati memberikan cendra mata berupa seperakat pakaian adat Simalungun.

Dihadapan Menteri Bupati menyampaikan permohonan dalam penangan jalan stategis di Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Danau Toba yakni ruas jalan mulai dari Bagei sampai ke Tigaras.

“Ruas jalan ini yang merupakan jalan susur pantai Danau Toba yang ada di Simalungun,”kata Bupatu.

Bupati menjelaskan bahwa, jika jalan tersebut dapat segera di tangani maka konektivitas, akses antar kabupaten akan terintegrasi, dan akan tumbuh objek wisata-wisata baru di sepanjang pantai, yang pada gilirannya tentu akan mampu mendongrak ekonomi daerah dengan tumbuhnya bisnis bisnis baru di sepanjang Pesisir pantai seperti UMKM maupun IKM (industri kecil menengah) .

“Pantai di kawasan Danau Toba khususnya di Simalungun memiliki view yang sangat indah kolaborasi antara view Danau toba dan pegunungan disekitar Danau toba,”jelas Bupati.

Selanjutnya Bupati juga menjelaskan bahwa Simalungun memiliki pantai Danau Toba terpanjang kurang lebih 70 km. “Di sepanjang pantai telah tumbuh kota kota wisata dan pusat pemukiman penduduk, namun perkembangannya sangat lambat, hal ini berhubungan dengan akses jalan yang kondisi rusak berat,”kata Bupati.

Oleh karena itu, Bupati berharap adanya bantuan dari Kementerian PUPR yang di nakhodai oleh Pak Basuki untuk membantu Kabupaten Simalungun dalam hal percepatan penangan jalan susur pantai Danau Toba.

Dalam menanggapi permohonan Bupati Simalungun tersebut Menteri PUPR langsung menginstruksikan Dirjen Bina Marga dan Kepala Balai Jalan Nasional Sumatera Utara untuk menindak lanjuti usul Bupati Simalungun.

Tampak hadir antara lain Sekda Esron Sinaga, Kadis PU Hotbinson Damanik, Kadis Kesehatan Edwin Tony SM Simanjuntak, Kadis Pariwisata M Fikri Fanani Damanik, Kadis PSDA Djamahaen Purba, Kasatpol PP Adnadi Girsang, Kadis Koperasi Maruli Tambunan dan Kepala BPBD Ramadhan Damanik.(pur)

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Mitigasi Fenomena El Nino, BP Batam Siapkan 4 Langkah Antisipatif

Mitigasi Fenomena El Nino, BP Batam Siapkan 4 Langkah Antisipatif

9info.co.id | BATAM – Badan Pengusahaan (BP) Batam terus memaksimalkan pengelolaan air bersih sebagai langkah antisipasi menghadapi dampak El Nino dan puncak musim kemarau 2026. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen BP Batam guna memastikan kebutuhan dasar masyarakat terhadap air bersih tetap terpenuhi.

Berdasarkan informasi BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada periode Juli hingga September 2026, dengan puncak tertinggi diperkirakan terjadi pada Agustus. Sementara itu, berdasarkan analisis perkembangan musim kemarau pada Dasarian II Juli 2026, sebanyak 72,8 persen wilayah Indonesia atau 509 Zona Musim telah memasuki musim kemarau.

Kondisi tersebut turut meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Batam dan Provinsi Kepulauan Riau.

Badan Usaha Sistem Penyediaan Air Minum (BU SPAM) BP Batam dan PT Air Batam Hilir (ABH) pun menaruh perhatian serius terhadap potensi ini, mengingat waduk merupakan sumber utama air baku untuk mendukung kebutuhan air di Batam.

Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan bahwa kesiapsiagaan dalam menghadapi perubahan kondisi iklim ini harus dilakukan sejak dini.

“Air merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus terpenuhi. Untuk itu, BP Batam terus melakukan pemantauan terhadap kondisi air bersih dan mengoptimalkan pengelolaan yang ada agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik, terutama ketika kita menghadapi periode kemarau,” ujar Denny, Selasa (11/8/2026).

Sebagai bagian dari mitigasi, lanjut Denny, BP Batam menyiapkan empat langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan air baku.

Pertama, BP Batam bersama PT ABH terus melakukan pemantauan terhadap kondisi air baku secara real-time. Data pemantauan level dan kondisi air tersebut menjadi salah satu dasar bagi pengelola dalam menentukan langkah operasional, termasuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan air baku, kapasitas produksi, dan kebutuhan masyarakat.

Kedua, BP Batam terus mengoptimalkan sistem interkoneksi jaringan antar waduk untuk mendukung distribusi air baku bagi wilayah yang terdampak penurunan debit air baku.

Ketiga, selain aspek teknis, BP Batam berupaya untuk memaksimalkan program reboisasi serta pelindungan dan pelestarian Daerah Tangkapan Air (DTA). Langkah tersebut antara lain dilakukan melalui penguatan kepedulian terhadap kawasan resapan, penghijauan, serta pencegahan aktivitas yang berpotensi mengurangi fungsi kawasan sebagai daerah tangkapan air.

Terakhir, BP Batam juga terus mendorong pengembangan infrastruktur penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang. Selain optimalisasi infrastruktur eksisting, BP Batam juga menyiapkan berbagai opsi pengembangan sumber air, termasuk pemanfaatan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) sebagai salah satu alternatif pengolahan air laut untuk memperkuat ketahanan air pada masa mendatang.

“Menjaga sumber air tidak cukup hanya dengan membangun dan memelihara infrastruktur. Kita juga harus menjaga lingkungan di sekitar sumber air. Ini merupakan tanggung jawab bersama karena keberlanjutan air Batam sangat bergantung pada bagaimana kita menjaga alam hari ini,” pesannya.

Di sisi lain, BP Batam mengajak masyarakat untuk ikut berperan menjaga ketahanan air dengan menggunakan air secara bijak.

Menurut Denny, upaya pemerintah dan pengelola infrastruktur air akan semakin efektif apabila diikuti dengan kesadaran masyarakat dalam menghemat penggunaan air di tingkat rumah tangga.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat antara lain:

  1. Menggunakan air sesuai kebutuhan dan mematikan keran ketika tidak digunakan;
  2. Memeriksa instalasi air secara berkala untuk memastikan tidak terjadi kebocoran;
  3. Mengurangi penggunaan air untuk kebutuhan sekunder selama periode kemarau atau cuaca kering;
  4. Menjaga lingkungan dan kawasan tangkapan air, termasuk tidak membuang puntung rokok atau melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di sekitar kawasan vegetasi.

“Kami mengajak masyarakat untuk menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan air Batam. Tidak harus dengan langkah yang besar. Menggunakan air seperlunya, memastikan tidak ada kebocoran di rumah, dan mematikan keran ketika tidak digunakan merupakan langkah sederhana yang dampaknya sangat berarti apabila dilakukan bersama-sama,” pungkasnya. (DN)

 

Continue Reading

Berita Lain