Connect with us
Wakil Ketua Komisi III DPRD Batam Turun ke Lokasi, Desak Penegakan Hukum dan Ganti Rugi Nelayan

Wakil Ketua Komisi III DPRD Batam Turun ke Lokasi, Desak Penegakan Hukum dan Ganti Rugi Nelayan

More Videos

9info.co.id | BATAM – Penanganan kasus kandasnya kapal pengangkut limbah hitam yang mencemari perairan dan Pantai Dangas, Kelurahan Tanjung Pinggir, Kecamatan Sekupang, Kota Batam, kembali menjadi sorotan tajam. Kali ini, perhatian datang langsung dari Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Batam, Arlon Veristo, yang turun ke lokasi terdampak.
‎
‎Dalam kunjungannya, Arlon menegaskan bahwa insiden tersebut tidak boleh diperlakukan sebagai kecelakaan laut biasa. Menurutnya, dugaan pencemaran lingkungan yang merugikan nelayan dan masyarakat pesisir harus diproses secara serius melalui penegakan hukum yang tegas dan transparan.
‎
‎“Ini bukan persoalan sepele. Ada laut yang tercemar, ada nelayan yang kehilangan mata pencaharian. Penegakan hukum harus berjalan, dan kerugian nelayan wajib dipertanggungjawabkan oleh pemilik kapal serta perusahaan pengangkut limbah,” tegas Arlon di lokasi.
‎
‎Anggota DPRD Kota Batam dari Fraksi Partai NasDem itu juga mengingatkan aparat penegak hukum agar tidak bermain-main dalam menangani kasus yang berdampak langsung pada kerusakan lingkungan hidup.
‎
‎“Jangan ada kompromi terhadap perusakan lingkungan. Kalau memang ada unsur pidana, proses sesuai hukum yang berlaku. Negara tidak boleh kalah oleh kepentingan bisnis,” tambahnya.
‎
‎Sebagaimana diberitakan, di lapangan terlihat warga dan nelayan setempat turut membantu proses pengangkutan sisa limbah hitam yang berserakan di sepanjang Pantai Dangas. Namun, aktivitas tersebut justru memunculkan pertanyaan publik, lantaran diduga dilakukan atas dasar imbalan, bukan semata-mata kepedulian lingkungan.
‎
‎Informasi yang dihimpun menyebutkan, kegiatan pengangkutan limbah tersebut diduga dibiayai oleh PT Jagar Prima Nusantara, perusahaan yang dikaitkan dengan pengusaha berinisial HS. Dugaan ini diperkuat dengan penggunaan armada kendaraan operasional milik perusahaan tersebut untuk mengangkut limbah dari lokasi pencemaran.
‎
‎Sumber media ini juga menyebutkan, sisa limbah hitam itu rencananya akan dibawa ke PT Mega Green Kabil, salah satu perusahaan pengelola limbah di kawasan industri Batam. Namun hingga kini, belum ada penjelasan resmi mengenai status dan klasifikasi limbah yang diangkut.
‎
‎Sementara itu, nelayan setempat mengeluhkan dampak pencemaran yang ditimbulkan. Perubahan warna air laut menjadi gelap dan bau menyengat dilaporkan mengganggu aktivitas melaut serta mengancam keberlanjutan ekosistem pesisir Dangas.
‎
‎Kasus ini pun menjadi ujian serius bagi komitmen penegakan hukum lingkungan hidup di Kota Batam.(Tim).

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Dukung Kebutuhan Data Centre, Citramas Group Investasi Rp 600 Miliar Bangun SWRO Kabil

9info.co.id | BATAM – Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menghadiri Groundbreaking pembangunan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Kabil, Kamis (5/11/2026).

Pembangunan SWRO tahap pertama ini merupakan komitmen investasi dari Citramas Group dengan nilai proyek sebesar USD 32,8 juta atau sekitar Rp 600 miliar.

Amsakar menjelaskan, pembangunan SWRO Kabil ini akan berlangsung dalam dua tahapan. Tahap pertama ini memiliki kapasitas produksi sebesar 300 lps. Pembangunan akan berlanjut untuk tahap kedua dengan kapasitas produksi 400 lps.

Kehadiran fasilitas pendukung investasi ini, lanjut Amsakar, merupakan langkah strategis dalam memperkuat pasokan air untuk proyek Data Centre dan Kawasan Terintegrasi di dalamnya.

Menurutnya, pembangunan ini tidak hanya menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek kemajuan Batam, tetapi juga menjadi kontribusi dunia usaha dalam memperkuat kesiapan infrastruktur investasi.

“Kami mengapresiasi langkah Citramas yang telah mengambil bagian dalam memperhatikan pasokan air di Batam. Ini merupakan komitmen investasi yang patut kita dukung bersama karena kebutuhan air menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan industri, termasuk pengembangan Data Centre di Batam,” ujar Amsakar.

Ia berharap, investasi tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan kawasan industri sekaligus memperkuat daya saing Batam sebagai tujuan investasi.

Pembangunan ini juga menjawab tantangan pasokan air untuk pengembangan investasi Data Centre ke depannya.

“Investasi tidak hanya berbicara tentang pembangunan fasilitas usaha, tetapi juga bagaimana kita memastikan infrastruktur pendukungnya tersedia dengan baik. Ketersediaan air yang memadai akan memberikan kepastian bagi pelaku usaha untuk mengembangkan kegiatan investasinya. Karena itu, sinergi seperti ini perlu terus kita perkuat,” tambahnya.

Sementara itu, kebutuhan air untuk kawasan Kabil Industrial Estate (KIE) dan Nongsa Digital Park (NDP) selama ini telah mendapat dukungan dari pembangunan embung mandiri yang berada di wilayah Kabil. Embung tersebut memiliki kapasitas sekitar 5.200 meter kubik per hari (60,2 lps) untuk mendukung kebutuhan air di kawasan tersebut.

Selain pembangunan SWRO, Citramas Group tengah mempercepat pembangunan embung di wilayah Nongsa Digital Park. Upaya ini menjadi bagian dari penguatan infrastruktur air untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan seiring dengan berkembangnya aktivitas industri dan investasi di kawasan Nongsa.

BP Batam memandang pengembangan infrastruktur air melalui investasi dan penyediaan fasilitas pendukung secara berkelanjutan sebagai langkah penting dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif.

“Melalui kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha, Batam diharapkan semakin siap memenuhi kebutuhan infrastruktur dasar, memberikan kepastian bagi investor, serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat. Dan pembangunan ini harus kita dukung agar tidak ada kendala dan dapat terselesaikan sampai waktu yang telah ditentukan,” tutup Amsakar.

Senada, CEO Citramas Group, Michael Wiluan, menambahkan bahwa pihaknya menyadari keberhasilan pengembangan Data Centre bergantung pada ketersediaan infrastruktur dasar yang andal. Khususnya pasokan air bagi keberlangsungan industri.

Pembangunan SWRO Kabil ini, lanjutnya, menjadi salah satu langkah strategis agar pertumbuhan investasi digital tersebut dapat terealisasi optimal.

Di samping SWRO, Citramas juga telah memastikan pasokan energi lain seperti listrik dan konektivitas internet dengan beberapa mitra strategis serta instansi terkait dapat tercukupi.

“Kami hari ini akan memulai tahapan pembangunan fasilitas SWRO 300 lps tahap pertama dengan target operasi hingga November 2027 dari total rencana kapasitas 700 lps. Pembangunan ini sekaligus menjadi bagian komitmen kami untuk membangun kawasan industri yang tidak hanya kompetitif tapi ikut bertanggung jawab terhadap pengelolaan infrastruktur pendukung investasi,” tegas Michael Wiluan.

Michael menjelaskan bahwa selama ini Citramas Group juga telah menggarap suplai air bersih untuk kebutuhan Kawasan Kabil dan Nongsa secara mandiri sejak tahun 1992 melalui ketersediaan embung seluas 4 hektare di dalam kawasan Kabil.

Saat ini, lanjut Michael, produksi air bersih tersebut mencapai 5.200 meter kubik per hari (60,2 Lps). Dan pada awal tahun 2027, kapasitas tersebut akan ditingkatkan menjadi 10.000 meter kubik per hari (atau setara dengan 115,74 Lps), melalui penambahan embung baru di Nongsa serta proses daur ulang air limbah industri.

“Kami turut mengapresiasi dukungan BP Batam terhadap pertumbuhan investasi. Kami ingin agar pembangunan ini dapat berjalan lancar hingga waktu yang ditargetkan,” pungkasnya. (DN)

Continue Reading

Berita Lain

Exit mobile version