Connect with us

9Info.co.id | BATAM – Peredaran rokok merek HD dan OFO tanpa cukai di wilayah Kepulauan Riau hingga keluar daerah semakin mengkhawatirkan.

Kuat dugaan bahwa kegiatan ilegal ini di-back up oleh pihak-pihak kuat yang memiliki pengaruh besar, sehingga aparat penegak hukum, termasuk Bea Cukai Batam, tampak mandul dalam menindaklanjuti kasus ini.

Rokok-rokok tanpa cukai ini diketahui beredar luas tidak hanya di Batam, tetapi juga di sejumlah wilayah lain di Kepulauan Riau, bahkan hingga ke luar daerah.

Peredaran ini tentunya merugikan negara dari sisi penerimaan pajak dan cukai, serta menciptakan persaingan tidak sehat bagi para pelaku usaha rokok yang patuh pada aturan.

Meskipun sudah sering kali diberitakan, hingga saat ini Bea Cukai Batam belum menunjukkan langkah tegas untuk memberantas peredaran rokok ilegal ini. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa ada oknum yang membekingi peredaran rokok tanpa cukai tersebut, sehingga aparat penegak hukum tidak mampu bertindak secara efektif.

Berdasarkan investigasi media ini. Rokok HD dan OFO diproduksi oleh PT Adhi Mukti Persada, perusahaan yang disinyalir memproduksi rokok putih dengan merek “HD dan OFO Bold”.

Perusahaan ini beroperasi di Kawasan Mega Jaya Industry Park, Kota Batam, Kepulauan Riau.

Investigasi di lapangan mengungkapkan bahwa rokok-rokok ini dijual tanpa pita cukai, secara terang-terangan melanggar Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai. Pita cukai yang seharusnya menjadi sumber pendapatan negara justru diabaikan, dan negara dirugikan miliaran rupiah.

Menurut pasal 50 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007, setiap orang yang memproduksi atau memperdagangkan barang kena cukai tanpa dilengkapi pita cukai dapat dikenakan sanksi pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak 10 kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.

Sanksi penegakan Hukum sesuai Pasal tersebut tak berlaku untuk Bos Rokok merek HD dan OFO ini, sebab mereka tetap bebas memproduksi dan mengedarkan rokok merek HD&OFFO tersebut, tanpa halangan dan hambatan dari manapun juga.

Sejumlah pihak mendesak agar pemerintah pusat dan Pihak terkait segera turun tangan untuk mengusut tuntas dugaan adanya pihak-pihak kuat yang melindungi peredaran rokok tanpa cukai ini.

Mereka juga meminta agar Bea Cukai Batam lebih transparan dalam penanganan kasus ini dan tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum.

Jika tidak ditindak tegas, hal ini bisa merusak integritas penegakan hukum dan menciptakan preseden buruk di masyarakat.

Bea Cukai Batam diharapkan segera mengambil langkah nyata untuk menghentikan peredaran rokok ilegal ini dan mengungkap pihak-pihak yang terlibat di baliknya.(DN).

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

BP Batam Komitmen Jaga Ketahanan Produksi Air Baku, Antisipasi Dampak El Nino di Waduk Nongsa

BP Batam Komitmen Jaga Ketahanan Produksi Air Baku, Antisipasi Dampak El Nino di Waduk Nongsa

9info.co.id | BATAM – Badan Pengusahaan (BP) Batam terus melakukan pemantauan terhadap kondisi seluruh waduk, khususnya Waduk Nongsa yang mengalami penurunan Tinggi Muka Air (TMA).

Berdasarkan pemantauan, TMA Waduk Nongsa berada pada level 5,96 meter. Kondisi ini mendorong BP Batam dan PT ABH melakukan pengaturan pengambilan air baku untuk menjaga ketahanan cadangan air yang tersedia di tengah fenomena El Nino.

Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, memahami keresahan warga Nongsa akibat kondisi tersebut. Ia pun telah menginstruksikan tim untuk turun langsung ke area sekitar waduk guna menindaklanjuti keresahan masyarakat.

“Kami terus memantau kondisi waduk setiap hari. Pengaturan produksi juga terus dilakukan sebagai langkah antisipasi agar cadangan air baku dapat bertahan lebih lama, terutama selama kondisi cuaca masih minim hujan. Pada prinsipnya, kebutuhan masyarakat tetap menjadi perhatian utama kami,” ujarnya, Senin (21/9/2026).

Ia menegaskan bahwa tim BP Batam bersama PT ABH juga telah melakukan suplai air bersih melalui mobil tangki sebagai langkah antisipatif sementara. Terutama bagi wilayah yang alirannya belum terpenuhi secara maksimal.

Di samping itu, solusi lain terhadap permasalahan ini juga telah dilakukan. Salah satunya dengan penguatan suplai ke wilayah Nongsa. Setelah dilakukan pengoperasian sistem pendukung tersebut, aliran suplai ke masyarakat perlahan akan kembali optimal.

Berdasarkan laporan tim, Amsakar menjelaskan bahwa produksi air bersih di Batam secara keseluruhan saat ini masih di atas kebutuhan rata-rata.

Dengan tingkat kehilangan air sekitar 16 persen, volume air yang efektif masuk ke sistem distribusi mencapai sekitar 3.780 Lps. Angka tersebut masih berada di atas kebutuhan rata-rata masyarakat yang mencapai sekitar 3.700 Lps. Dengan demikian, sistem saat ini masih memiliki margin sekitar 80 Lps di atas kebutuhan rata-rata.

Meski demikian, lanjutnya, BP Batam terus memberikan perhatian khusus terhadap wilayah yang sumber air bakunya berasal dari waduk dengan kondisi TMA yang terus dipantau, terutama Nongsa dan Sei Harapan.

“Penurunan tampungan air baku memang terjadi seiring rendahnya intensitas hujan. Kondisi tersebut akan terus kami evaluasi dan sejumlah skenario antisipasi juga telah disiapkan agar kebutuhan masyarakat tidak terganggu,” ujarnya lagi.

Siapkan Sejumlah Skenario Antisipasi

Untuk menghadapi kemungkinan berlanjutnya kondisi minim hujan, BP Batam juga menyiapkan sejumlah langkah antisipasi.

Salah satunya melalui koordinasi tambahan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu meningkatkan potensi hujan di kawasan tangkapan air dan Pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru berkapasitas 50 liter per detik (lps) di Sei Ladi untuk menambah daya dorong dan kontinuitas pasokan air.

BP Batam juga mengkaji pemanfaatan sejumlah embung sebagai sumber alternatif. Beberapa opsi yang disiapkan antara lain memompa air dari embung untuk membantu mengisi waduk terdekat atau membangun fasilitas pengolahan air baru di sekitar embung sehingga air dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem distribusi.

Skenario pengaturan suplai secara bergilir juga menjadi bagian dari opsi yang dikaji. Namun, penerapannya akan mempertimbangkan kondisi jaringan perpipaan dan dampaknya terhadap masyarakat.

“Kami tidak ingin menunggu sampai kondisi menjadi lebih sulit. Oleh karena itu, berbagai skenario sudah kami siapkan dan terus kami evaluasi berdasarkan perkembangan kondisi waduk di lapangan. Kami ingin pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik,” tegas Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano.

Dalam jangka panjang, Denny mengungkapkan bahwa BP Batam juga terus mengembangkan konsep Batam Integrated Total Water Management untuk memperkuat ketahanan air dan mengurangi ketergantungan terhadap sumber air baku konvensional.

Pengembangan sumber air alternatif mencakup pemanfaatan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), air daur ulang, embung, serta pemanfaatan stormwater.

Dalam rencana atau proyeksi ketersediaan sumber air jangka panjang, Denny mengatakan BP Batam menargetkan kontribusi SWRO sebesar 2.500 Lps, air daur ulang 500 Lps, serta pemanfaatan embung dan stormwater sebesar 500 Lps.

Secara teknis, BP Batam juga mengkaji opsi pengembangan waduk laut dan pemanfaatan sumber air dari wilayah sekitar Batam dengan total rencana kapasitas mencapai 3.000 Lps.

Langkah tersebut dipersiapkan untuk menjawab kebutuhan air Batam yang diproyeksikan mencapai 7.149 Lps pada 2045, seiring pertumbuhan penduduk, kawasan hunian, industri, pusat data, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

“Ketahanan air merupakan kebutuhan bersama. Oleh karena itu, BP Batam tidak hanya fokus pada kondisi hari ini, tetapi juga menyiapkan sumber air baru untuk di masa mendatang,” tutup Denny. (DN)

Continue Reading

Berita Lain