Connect with us
Modernisasi TPK Batu Ampar Pangkas Biaya Logistik Batam-Shanghai Hingga 50 Persen

Modernisasi TPK Batu Ampar Pangkas Biaya Logistik Batam-Shanghai Hingga 50 Persen

More Videos

9info.co.id | BATAM – Melalui langkah modernisasi infrastruktur, penguatan sistem operasional, serta peningkatan kualitas layanan, Terminal Peti Kemas (TPK) Batu Ampar kini bertransformasi menjadi gerbang logistik berstandar internasional yang berhasil mendongkrak produktivitas dan memperkuat konektivitas pelayaran global dari Batam.

Pengembangan terminal ini dikelola oleh PT. Batam Terminal Petikemas (BTP) selaku mitra kerja sama BP Batam, bersinergi dengan PT. Batu Ampar Container Terminal (BACT).

Proyek modernisasi ini didukung oleh suntikan investasi sekitar USD 85 juta yang dialokasikan khusus untuk pembaruan peralatan bongkar muat, perluasan lapangan penumpukan (container yard), peningkatan kapasitas terminal, serta digitalisasi layanan kepelabuhanan guna menciptakan operasional yang efisien.

Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, menegaskan bahwa penataan ulang TPK Batu Ampar merupakan bagian dari rencana strategis pimpinan BP Batam untuk membangun ekosistem logistik yang kompetitif di Asia Tenggara.

“Sejalan dengan arahan Kepala BP Batam, Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, pengembangan TPK Batu Ampar akan terus diakselerasi. sebagai komitmen untuk mewujudkan sistem logistik yang modern dan efisien, sekaligus meningkatkan daya saing Batam sebagai kawasan perdagangan bebas, industri, dan tujuan investasi utama,” ujar Denny dalam keterangan resmi yang diterima, Jumat (10/7/2026).

Efektivitas transformasi tersebut langsung tercermin pada lonjakan sejumlah indikator operasional utama pelabuhan.

Produktivitas bongkar muat kargo atau Container Handling Productivity di TPK Batu Ampar melesat dari 18 BCH (box crane per hour) menjadi 24 BCH, atau meningkat sebesar 33 persen.

Akselerasi lebih tinggi tercatat pada kinerja penanganan kapal (Ship Handling Productivity) yang melonjak tiga kali lipat, dari 12 BSH (box ship per hour) menjadi 40 BSH.

Dampak langsung dari peningkatan kinerja alat dan sistem ini adalah efisiensi waktu tambat.

Waktu putar kapal (Vessel Turnaround Time) berhasil dipangkas hingga 65 persen, dari semula rata-rata 20 jam menjadi hanya 7 jam.

Pada saat yang sama, waktu tunggu kapal (Waiting Time) turun 57 persen dari 1,4 jam menjadi 0,6 jam.

Peningkatan performa operasional ini memicu pertumbuhan volume arus bongkar muat. Sepanjang periode Januari hingga Mei 2026, TPK Batu Ampar mencatatkan arus peti kemas mencapai 221.183 TEUs.

Dari total volume tersebut, aktivitas ekspor menyumbang 71.930 TEUs atau berkisar 32,5 persen, mengindikasikan geliat aktivitas manufaktur dan perdagangan di kawasan Batam yang terus bertumbuh positif.

Peningkatan kualitas layanan pelabuhan ini juga dibarengi dengan penguatan konektivitas pelayaran internasional melalui skema pelayaran langsung (direct call).

Frekuensi layanan kapal berkapasitas 1.200 hingga 2.000 TEUs meningkat signfikan dari semula 6–7 kali menjadi 10–13 kali per bulan.

Selain itu, terminal ini rutin melayani rute kapal berkapasitas 1.000–1.900 TEUs dua kali sebulan, serta kapal berkapasitas 1.000 TEUs sebanyak satu hingga dua kali per bulan.

Perluasan jaringan pelayaran langsung ini membawa dampak ekonomis nyata bagi para pelaku usaha.

Sebagai contoh, ongkos pengiriman logistik untuk rute Batam–Shanghai kini dapat ditekan menjadi USD 650–800 per kontainer 20 kaki (20 Feet).

Angka ini jauh lebih murah dibandingkan skema lama yang harus melalui kapal pengumpan (feeder) dan transit (transshipment) di Singapura dengan biaya mencapai USD 950–1.100.

Skema baru ini memberikan potensi penghematan ongkos kirim hingga USD 300 per kontainer (efisiensi 30–50 persen) sekaligus memotong waktu tempuh perjalanan menjadi hanya delapan hari.

Dari sisi maskapai pelayaran, efisiensi waktu sandar yang hemat hingga 17 jam per kapal juga mampu menekan biaya operasional armada hingga USD 3.800 per kunjungan kapal.

Di samping pembenahan fisik, pengelola TPK Batu Ampar tengah bersiap memperkuat digitalisasi sistem melalui implementasi pembayaran langsung atau Direct Billing.

Sistem pembayaran seketika (real-time) ini akan segera diberlakukan secara penuh setelah kesiapan seluruh pengguna jasa terpenuhi.

Melalui sistem ini, pengguna jasa dapat membayar biaya layanan terminal langsung kepada pengelola tanpa perantara pihak ketiga.

Langkah ini dirancang untuk memangkas birokrasi, meningkatkan transparansi, mempercepat proses administrasi, serta berkontribusi pada penurunan waktu inap barang (dwelling time).

Direktur Badan Pengelolaan dan Pengusahaan Kepelabuhanan BP Batam, Benny Syahroni, menyatakan bahwa indikator-indikator positif tersebut menunjukkan peta jalan pengembangan TPK Batu Ampar telah berada pada jalur yang benar (on the right track).

“Ke depan, BP Batam berkomitmen memperbesar kapasitas tampung terminal agar dapat merespons pertumbuhan arus barang global dan memperkokoh posisi Batam sebagai hub logistik regional,” ujarnya optimis.

Direktur PT Batam Terminal Petikemas, Capt. Basori Alwi, mengonfirmasi komitmennya bersama BACT untuk menjaga keberlanjutan produktivitas pelabuhan melalui adopsi teknologi digital secara konsisten.

Agenda strategis berikutnya mencakup kelanjutan perluasan terminal, pengerukan kolam pelabuhan demi mengakomodasi kapal bermuatan besar dengan draf lambung yang lebih dalam, serta integrasi ekosistem digital kepelabuhanan secara menyeluruh.

“BP Batam bersama BTP dan BACT akan melanjutkan berbagai program strategis untuk mendukung pertumbuhan investasi dan perekonomian nasional,” pungkas Basori. (RUD)

 

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Dukung Kebutuhan Data Centre, Citramas Group Investasi Rp 600 Miliar Bangun SWRO Kabil

9info.co.id | BATAM – Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menghadiri Groundbreaking pembangunan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Kabil, Kamis (5/11/2026).

Pembangunan SWRO tahap pertama ini merupakan komitmen investasi dari Citramas Group dengan nilai proyek sebesar USD 32,8 juta atau sekitar Rp 600 miliar.

Amsakar menjelaskan, pembangunan SWRO Kabil ini akan berlangsung dalam dua tahapan. Tahap pertama ini memiliki kapasitas produksi sebesar 300 lps. Pembangunan akan berlanjut untuk tahap kedua dengan kapasitas produksi 400 lps.

Kehadiran fasilitas pendukung investasi ini, lanjut Amsakar, merupakan langkah strategis dalam memperkuat pasokan air untuk proyek Data Centre dan Kawasan Terintegrasi di dalamnya.

Menurutnya, pembangunan ini tidak hanya menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek kemajuan Batam, tetapi juga menjadi kontribusi dunia usaha dalam memperkuat kesiapan infrastruktur investasi.

“Kami mengapresiasi langkah Citramas yang telah mengambil bagian dalam memperhatikan pasokan air di Batam. Ini merupakan komitmen investasi yang patut kita dukung bersama karena kebutuhan air menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan industri, termasuk pengembangan Data Centre di Batam,” ujar Amsakar.

Ia berharap, investasi tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan kawasan industri sekaligus memperkuat daya saing Batam sebagai tujuan investasi.

Pembangunan ini juga menjawab tantangan pasokan air untuk pengembangan investasi Data Centre ke depannya.

“Investasi tidak hanya berbicara tentang pembangunan fasilitas usaha, tetapi juga bagaimana kita memastikan infrastruktur pendukungnya tersedia dengan baik. Ketersediaan air yang memadai akan memberikan kepastian bagi pelaku usaha untuk mengembangkan kegiatan investasinya. Karena itu, sinergi seperti ini perlu terus kita perkuat,” tambahnya.

Sementara itu, kebutuhan air untuk kawasan Kabil Industrial Estate (KIE) dan Nongsa Digital Park (NDP) selama ini telah mendapat dukungan dari pembangunan embung mandiri yang berada di wilayah Kabil. Embung tersebut memiliki kapasitas sekitar 5.200 meter kubik per hari (60,2 lps) untuk mendukung kebutuhan air di kawasan tersebut.

Selain pembangunan SWRO, Citramas Group tengah mempercepat pembangunan embung di wilayah Nongsa Digital Park. Upaya ini menjadi bagian dari penguatan infrastruktur air untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan seiring dengan berkembangnya aktivitas industri dan investasi di kawasan Nongsa.

BP Batam memandang pengembangan infrastruktur air melalui investasi dan penyediaan fasilitas pendukung secara berkelanjutan sebagai langkah penting dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif.

“Melalui kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha, Batam diharapkan semakin siap memenuhi kebutuhan infrastruktur dasar, memberikan kepastian bagi investor, serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat. Dan pembangunan ini harus kita dukung agar tidak ada kendala dan dapat terselesaikan sampai waktu yang telah ditentukan,” tutup Amsakar.

Senada, CEO Citramas Group, Michael Wiluan, menambahkan bahwa pihaknya menyadari keberhasilan pengembangan Data Centre bergantung pada ketersediaan infrastruktur dasar yang andal. Khususnya pasokan air bagi keberlangsungan industri.

Pembangunan SWRO Kabil ini, lanjutnya, menjadi salah satu langkah strategis agar pertumbuhan investasi digital tersebut dapat terealisasi optimal.

Di samping SWRO, Citramas juga telah memastikan pasokan energi lain seperti listrik dan konektivitas internet dengan beberapa mitra strategis serta instansi terkait dapat tercukupi.

“Kami hari ini akan memulai tahapan pembangunan fasilitas SWRO 300 lps tahap pertama dengan target operasi hingga November 2027 dari total rencana kapasitas 700 lps. Pembangunan ini sekaligus menjadi bagian komitmen kami untuk membangun kawasan industri yang tidak hanya kompetitif tapi ikut bertanggung jawab terhadap pengelolaan infrastruktur pendukung investasi,” tegas Michael Wiluan.

Michael menjelaskan bahwa selama ini Citramas Group juga telah menggarap suplai air bersih untuk kebutuhan Kawasan Kabil dan Nongsa secara mandiri sejak tahun 1992 melalui ketersediaan embung seluas 4 hektare di dalam kawasan Kabil.

Saat ini, lanjut Michael, produksi air bersih tersebut mencapai 5.200 meter kubik per hari (60,2 Lps). Dan pada awal tahun 2027, kapasitas tersebut akan ditingkatkan menjadi 10.000 meter kubik per hari (atau setara dengan 115,74 Lps), melalui penambahan embung baru di Nongsa serta proses daur ulang air limbah industri.

“Kami turut mengapresiasi dukungan BP Batam terhadap pertumbuhan investasi. Kami ingin agar pembangunan ini dapat berjalan lancar hingga waktu yang ditargetkan,” pungkasnya. (DN)

Continue Reading

Berita Lain

Exit mobile version