Connect with us
Jalan Tol Paltung Ditargetkan Beroperasi Akhir 2026, Arus Mudik-Balik Nataru Hingga Lebaran 2027 Semakin Lancar

Jalan Tol Paltung Ditargetkan Beroperasi Akhir 2026, Arus Mudik-Balik Nataru Hingga Lebaran 2027 Semakin Lancar

More Videos

9info.co.id | PALEMBANG – PT Hutama Karya (Persero) terus berkonsentrasi menuntaskan pembangunan Jalan Tol jalur Palembang – Betung (Paltung) yang kini sedang berprogress.

PR besar pembangunan infrastruktur yang menjadi bagian dari Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ini dilakukan untuk mengejar target, proyek strategis nasional (PSN) ini bisa segera beroperasi jelang Nataru dan Lebaran Idul Fitri 2027, sehingga diharapkan mampu mengurai kemacetan dan mendukung kelancaran arus mudik dan arus balik pada hari besar keagamaan tersebut.

Berdasarkan data, hingga Maret 2026, pembangunan jalan tol yang dilakukan Hutama Karya khususnya untuk jalur Palembang – Betung seksi 1-2, sudah mencapai progress 69,63 persen.

“Proyek ini kan terhenti pada tahun 2022. Sejak proyek B to B ini dipecah konsesinya dari BUJT PT Waskita Sriwijaya Tol (WST) kepada BUJT PT Hutama Karya (HK) pada September 2024. Kemudian proyek ini dilanjutkan HK setelah berkontrak dengan Waskita Karya pada Oktober 2024. Dan kini dari panjang 54 kilometer untuk jalur Palembang – Betung, yang harus diselesaikan HK pembangunannya, secara keseluruhan progressnya jika dihitung secara gabungan dengan yang dikerjakan oleh WST, total progressnya sudah mencapai 91,21 persen,” ungkap Project Director Ruas Palembang – Betung Seksi 1-2 PT Hutama Karya, Fakhrudin kepada wartawan.

Sejak ditugaskan oleh pemerintah untuk melanjutkan pembangunan jalan tol Paltung, sejumlah strategi langsung dijalankan HK untuk menuntaskan tanggung jawab tersebut.

“Memang pertapakan jalan tol untuk jalur Paltung itu terbilang cukup sulit dan labil karena sebagian besar rawa atau lahan basah. Karena itu, diperlukan berbagai langkah agar konstruksinya kuat guna mengantisipasi jalan tol tidak gampang rusak. Total ada 5 spot yang menjadi fokus pembangunan jalan tol ini,” sebutnya.

Dari kelima spot tersebut, lanjut Fakhrudin, ada 3 spot Lokasi rawa/lahan basah (Sta 41, Sta 46 dan Sta 48) yang menjadi fokus penyelesaian jalan tol Paltung seksi 1-2 dengan panjang pekerjaan sekitar 1,2 kilometer dan sangat membutuhkan pekerjaan extra.

“3 spot tersebut kini fokus ditangani HK. Setelah dilakukan kajian dan analisis lokasi tol tersebut dibangun di atas rawa berair yang cukup dalam, diantara spot itu kami akhirnya memutuskan untuk melakukan vacuum preloading atau metode perbaikan tanah dasar untuk mengatasi tanah lunak agar tidak terjadi penurunan (settlement) pada jalan tol,” urai Fakhrudin.

Proses vacuum preloading dengan menggunakan sejumlah mesin itu khusus dilakukan di Sta 46-47 sepanjang 600 meter dan Sta 48-49 dengan panjang 650 meter.

“Sedangkan spot ketiga di Sta 41-42 sepanjang lebih kurang 200 meter, pekerjaannya melanjutkan sisa (cost to complete) pengaspalan dan penyesuaian alinyemen dari BUJT WST yang merupakan sambungan dari Palembang (Kramasan) menuju Betung,” sebutnya

Untuk pekerjaan Sta 41-42 ini, kata Fakhrudin, pelaksanaan pekerjaannya akan diselesaikan dalam waktu tiga bulan. Sedangkan untuk keseluruhan Ruas Palembang – Betung Seksi 1-2 termasuk Jembatan Sungai Musi V akan dituntaskan sampai Triwulan ke-4 tahun 2026.

Sementara itu Arief Yeri selaku Kepala Regional Divisi Operasi dan Pemeliharaan Jalan Tol (OPT) Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) PT Hutama Karya juga menyampaikan, pada saat hari raya Idul Fitri 2026 lalu, untuk mendukung SKB 3 Menteri dan sebagai wujud sinergitas dengan Polri dalam mengurai kemacetan selama arus mudik dan balik, jalan tol Paltung seksi 1-2 ini turut difungsionalkan secara gratis pada 13 hingga 29 Maret 2026.

“Pengaruhnya cukup besar. Volume kendaraan yang melintas di jalan nasional bisa terurai hingga ribuan kendaraan dan para pemudik juga lebih hemat waktu untuk menuju ke kampung halamannya, misalnya dengan tujuan Jambi yang mampu menghemat sampai 3 jam dari waktu tempuh. Apalagi yang fungsional terdiri dari 2 seksi, seksi 1 (Kramasan – Musi Landas) dan seksi 2 (Musi Landas – Pangkalan Balai),” ujarnya.

Di samping itu, Hutama Karya juga berharap dalam waktu dekat pembebasan lahan di exit tol Simpang Sebidang Pangkalan Balai bisa segera dituntaskan oleh Kementerian PU sehingga pekerjaan jalan keluar tol menuju jalan nasional, bisa secepatnya terlaksana.

“Saat ini memang belum bisa dikerjakan karena terhambat lahan yang belum dibebaskan. Kalau untuk Sta 96-97 yang terhubung menuju Betung juga baru bebas dan pekerjaan pileslab baru dilakukan sekarang (on progress) karena lahannya baru bebas bulan Desember,” kata Fakhrudin seraya membeberkan bahwa pekerjaannya baru meliputi penimbunan, rigid dan pemancangan pileslab.

Jalan Tol BUJT PT HK Terintegrasi Dengan BUJT PT WST

Sebagai informasi, proyek infrastruktur jalan tol Paltung seksi 1-2 yang kini dikerjakan pembangunannya oleh BUJT PT Hutama Karya memang terintegrasi dengan proyek jalan tol Kayu Agung – Palembang yang dimiliki oleh BUJT PT Waskita Sriwijaya Tol.

Untuk memperlancar jalan tol di kawasan Kayu Agung – Palembang yang sempat terganggu akibat rusaknya jalur di sejumlah titik, saat ini pihak WST terpantau tengah melakukan sejumlah pembenahan diantaranya melakukan SFO atau Scrapping (pengerukan aspal lama), Filling (pengisian aspal baru) dan Overlay atau pelapisan ulang aspal yang selama ini menuai sorotan pengguna jalan tol. (Tim).

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

BP Batam Komitmen Jaga Ketahanan Produksi Air Baku, Antisipasi Dampak El Nino di Waduk Nongsa

9info.co.id | BATAM – Badan Pengusahaan (BP) Batam terus melakukan pemantauan terhadap kondisi seluruh waduk, khususnya Waduk Nongsa yang mengalami penurunan Tinggi Muka Air (TMA).

Berdasarkan pemantauan, TMA Waduk Nongsa berada pada level 5,96 meter. Kondisi ini mendorong BP Batam dan PT ABH melakukan pengaturan pengambilan air baku untuk menjaga ketahanan cadangan air yang tersedia di tengah fenomena El Nino.

Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, memahami keresahan warga Nongsa akibat kondisi tersebut. Ia pun telah menginstruksikan tim untuk turun langsung ke area sekitar waduk guna menindaklanjuti keresahan masyarakat.

“Kami terus memantau kondisi waduk setiap hari. Pengaturan produksi juga terus dilakukan sebagai langkah antisipasi agar cadangan air baku dapat bertahan lebih lama, terutama selama kondisi cuaca masih minim hujan. Pada prinsipnya, kebutuhan masyarakat tetap menjadi perhatian utama kami,” ujarnya, Senin (21/9/2026).

Ia menegaskan bahwa tim BP Batam bersama PT ABH juga telah melakukan suplai air bersih melalui mobil tangki sebagai langkah antisipatif sementara. Terutama bagi wilayah yang alirannya belum terpenuhi secara maksimal.

Di samping itu, solusi lain terhadap permasalahan ini juga telah dilakukan. Salah satunya dengan penguatan suplai ke wilayah Nongsa. Setelah dilakukan pengoperasian sistem pendukung tersebut, aliran suplai ke masyarakat perlahan akan kembali optimal.

Berdasarkan laporan tim, Amsakar menjelaskan bahwa produksi air bersih di Batam secara keseluruhan saat ini masih di atas kebutuhan rata-rata.

Dengan tingkat kehilangan air sekitar 16 persen, volume air yang efektif masuk ke sistem distribusi mencapai sekitar 3.780 Lps. Angka tersebut masih berada di atas kebutuhan rata-rata masyarakat yang mencapai sekitar 3.700 Lps. Dengan demikian, sistem saat ini masih memiliki margin sekitar 80 Lps di atas kebutuhan rata-rata.

Meski demikian, lanjutnya, BP Batam terus memberikan perhatian khusus terhadap wilayah yang sumber air bakunya berasal dari waduk dengan kondisi TMA yang terus dipantau, terutama Nongsa dan Sei Harapan.

“Penurunan tampungan air baku memang terjadi seiring rendahnya intensitas hujan. Kondisi tersebut akan terus kami evaluasi dan sejumlah skenario antisipasi juga telah disiapkan agar kebutuhan masyarakat tidak terganggu,” ujarnya lagi.

Siapkan Sejumlah Skenario Antisipasi

Untuk menghadapi kemungkinan berlanjutnya kondisi minim hujan, BP Batam juga menyiapkan sejumlah langkah antisipasi.

Salah satunya melalui koordinasi tambahan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu meningkatkan potensi hujan di kawasan tangkapan air dan Pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru berkapasitas 50 liter per detik (lps) di Sei Ladi untuk menambah daya dorong dan kontinuitas pasokan air.

BP Batam juga mengkaji pemanfaatan sejumlah embung sebagai sumber alternatif. Beberapa opsi yang disiapkan antara lain memompa air dari embung untuk membantu mengisi waduk terdekat atau membangun fasilitas pengolahan air baru di sekitar embung sehingga air dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem distribusi.

Skenario pengaturan suplai secara bergilir juga menjadi bagian dari opsi yang dikaji. Namun, penerapannya akan mempertimbangkan kondisi jaringan perpipaan dan dampaknya terhadap masyarakat.

“Kami tidak ingin menunggu sampai kondisi menjadi lebih sulit. Oleh karena itu, berbagai skenario sudah kami siapkan dan terus kami evaluasi berdasarkan perkembangan kondisi waduk di lapangan. Kami ingin pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik,” tegas Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano.

Dalam jangka panjang, Denny mengungkapkan bahwa BP Batam juga terus mengembangkan konsep Batam Integrated Total Water Management untuk memperkuat ketahanan air dan mengurangi ketergantungan terhadap sumber air baku konvensional.

Pengembangan sumber air alternatif mencakup pemanfaatan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), air daur ulang, embung, serta pemanfaatan stormwater.

Dalam rencana atau proyeksi ketersediaan sumber air jangka panjang, Denny mengatakan BP Batam menargetkan kontribusi SWRO sebesar 2.500 Lps, air daur ulang 500 Lps, serta pemanfaatan embung dan stormwater sebesar 500 Lps.

Secara teknis, BP Batam juga mengkaji opsi pengembangan waduk laut dan pemanfaatan sumber air dari wilayah sekitar Batam dengan total rencana kapasitas mencapai 3.000 Lps.

Langkah tersebut dipersiapkan untuk menjawab kebutuhan air Batam yang diproyeksikan mencapai 7.149 Lps pada 2045, seiring pertumbuhan penduduk, kawasan hunian, industri, pusat data, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

“Ketahanan air merupakan kebutuhan bersama. Oleh karena itu, BP Batam tidak hanya fokus pada kondisi hari ini, tetapi juga menyiapkan sumber air baru untuk di masa mendatang,” tutup Denny. (DN)

Continue Reading

Berita Lain

Exit mobile version