Connect with us
Operasi Disebut Berjalan Baik, Kondisi Dewi Mendadak Kritis Usai Suntikan: Laporan Resmi Masuk Polresta Barelang

Operasi Disebut Berjalan Baik, Kondisi Dewi Sitinjak Mendadak Kritis Usai Suntikan: Laporan Resmi Masuk Polresta Barelang

More Videos

Gbr Ilustrasi (AI) : Kasus dugaan kelalaian medis kembali menjadi sorotan di Kota Batam. Dewi Sartika Sitinjak (24), seorang pasien perempuan yang menjalani operasi ambeien di Rumah Sakit Awal Bros kawasan Botania, Batam Center, Keluarga dan Kuasa Hukumnya Melapor Ke Polresta Barelang. 

 

9info.co.id | BATAM  – Kasus dugaan kelalaian medis kembali menjadi sorotan di Kota Batam. Dewi Sartika Sitinjak (24), seorang pasien perempuan yang menjalani operasi ambeien di Rumah Sakit Awal Bros kawasan Botania, Batam Center, dilaporkan mengalami kondisi kritis hingga harus menjalani perawatan intensif di ruang ICU selama sekitar 10 hari.

‎Keluarga menduga kondisi kritis tersebut berkaitan dengan pemberian sejumlah obat melalui suntikan setelah Dewi menjalani operasi.

‎Merasa masih terdapat sejumlah pertanyaan yang belum memperoleh penjelasan memadai, keluarga akhirnya membawa persoalan tersebut ke ranah hukum dengan membuat pengaduan kepada Satreskrim Polresta Barelang pada Sabtu, 8 Agustus 2026.

‎Berdasarkan dokumen Surat Tanda Penerimaan Permohonan Pengaduan, Laporan dan Perlindungan Hukum yang diperlihatkan kepada wartawan, pengaduan tersebut tercatat dengan Nomor 504/VIII/2026/Satreskrim.

‎Laporan disampaikan oleh Serina Sitinjak selaku keluarga korban. Dalam dokumen tersebut, perkara yang diadukan berkaitan dengan dugaan tindak pidana kelalaian tenaga medis atau tenaga kesehatan yang mengakibatkan pasien mengalami luka berat, sebagaimana dirujuk dalam Pasal 440 ayat (1) UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

Operasi Disebut Berjalan Baik, Kondisi Berubah Setelah Suntikan

‎Kuasa hukum keluarga, Jendris Sihombing, mengatakan sebelum menjalani operasi, Dewi telah menjalani pemeriksaan dan kemudian disarankan menjalani tindakan medis.

‎Menurut pihak keluarga, operasi berjalan baik. Setelah operasi, kondisi Dewi disebut masih sadar dan stabil hingga dipindahkan ke ruang rawat inap untuk menjalani pemulihan.

‎Bahkan, Dewi disebut masih sempat melakukan video call dan berkomunikasi melalui WhatsApp dengan keluarganya.

‎“Operasi berjalan dengan baik. Dalam kondisi baik, pihak rumah sakit memindahkan Dewi ke ruang rawat inap untuk proses pemulihan. Di ruang inap, Dewi masih sempat video call dan chat WhatsApp kepada keluarga mengabarkan bahwa operasi berjalan dengan baik dan dia sehat,” ujar Jendris.

Namun, situasi kemudian berubah setelah sejumlah obat diberikan melalui suntikan. Tiga Suntikan Jadi Sorotan Keluarga

‎Keluarga kini mempersoalkan proses pemberian tiga suntikan kepada Dewi.
‎Jendris menyebut, berdasarkan keterangan keluarga dan saksi yang berada di lokasi, setelah suntikan pertama diberikan, Dewi mulai mengeluhkan rasa sakit dan kesulitan bernapas.

‎“Ada tiga syringe obat yang disuntikkan kepada Dewi. Suntikan pertama, Dewi sudah merasa kesakitan. Beberapa detik kemudian muncul reaksi cepat, dia merasa sesak dan mengerang sambil mengatakan sesak dan sakit,” ungkap Jendris.

‎Keluarga menduga pemberian obat kemudian tetap berlanjut meskipun pasien telah menunjukkan reaksi tersebut.

‎Suntikan kedua disebut diberikan melalui tangan, sedangkan suntikan ketiga diberikan melalui kantong infus.

‎Tidak lama setelah itu, kondisi Dewi dilaporkan memburuk. Ia mengalami kejang-kejang hingga akhirnya kehilangan kesadaran.

Dalam Hitungan Menit, Pasien Disebut Kejang dan Tak Sadarkan Diri

 
‎Pacar korban, Ando Jaya Samosir, yang disebut mendampingi Dewi selama menjalani perawatan, turut memberikan keterangan melalui kuasa hukum keluarga.

‎Menurut keterangan tersebut, perubahan kondisi Dewi berlangsung sangat cepat. Dalam hitungan menit setelah pemberian suntikan, korban disebut mengalami kejang dan kemudian tidak sadarkan diri.

Tim medis selanjutnya melakukan tindakan pertolongan darurat.

‎Jendris mengatakan, berdasarkan keterangan Ando, pertolongan dilakukan dengan tindakan Resusitasi Jantung Paru atau RJP secara manual.

‎“Ketika Dewi sudah tidak sadarkan diri, pihak rumah sakit yang datang ke ruang inap mencoba memberikan pertolongan dengan melakukan tindakan pompa jantung manual atau RJP,” kata Jendris.

‎Setelah mendapatkan penanganan darurat, Dewi kemudian menjalani perawatan intensif di ruang ICU.

Jenis Obat Dipertanyakan, Keluarga Minta Penjelasan Terbuka

‎Tidak hanya kronologi pemberian suntikan, keluarga juga mempertanyakan jenis obat yang diberikan kepada Dewi.

‎Kuasa hukum keluarga, Bangun Simamora dan Jendris Sihombing, mengaku telah meminta penjelasan kepada pihak rumah sakit mengenai kondisi yang dialami korban.

‎Menurut Bangun, dalam pertemuan dengan pihak medis, keluarga memperoleh penjelasan bahwa obat yang diberikan berkaitan dengan penanganan nyeri dan pendarahan. Namun, penjelasan tersebut justru menimbulkan pertanyaan baru bagi keluarga.

‎“Menurut keterangan dokter Aldi saat kami berjumpa, obat yang disuntikkan adalah pereda nyeri dan pendarahan. Sementara kita mengetahui Dewi setelah operasi tidak mengalami pendarahan. Ada apa ini?” ujar Bangun.

‎Keluarga juga menyebut memperoleh informasi bahwa setelah kejadian tersebut kondisi ginjal Dewi mengalami kerusakan serius.

‎Meski demikian, penyebab medis pasti dari kondisi tersebut belum dapat disimpulkan dan masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan medis serta proses hukum yang berwenang.

‎Polisi Diminta Telusuri Rekam Medis hingga Prosedur Pemberian Obat
‎Dengan laporan yang telah disampaikan kepada Satreskrim Polresta Barelang, keluarga berharap aparat penegak hukum dapat melakukan penyelidikan secara profesional, objektif dan transparan.

‎Keluarga meminta aparat menelusuri sejumlah hal penting, mulai dari rekam medis pasien, jenis dan dosis obat yang diberikan, siapa tenaga medis yang memberikan obat, prosedur pemberian obat, standar operasional pelayanan medis, hingga hubungan medis antara tindakan tersebut dengan kondisi kritis yang dialami Dewi.

‎Persoalan tersebut dinilai penting untuk mengungkap apakah kondisi yang dialami pasien merupakan komplikasi medis yang dapat terjadi dalam suatu tindakan pengobatan, reaksi obat, atau terdapat dugaan kelalaian dalam pelayanan medis.

‎Karena itu, pembuktian tidak cukup hanya berdasarkan dugaan keluarga maupun keterangan sepihak. Pemeriksaan rekam medis, keterangan tenaga kesehatan, saksi, serta pendapat ahli medis menjadi bagian penting untuk menentukan fakta sebenarnya.

RS Awal Bros Belum Berikan Keterangan Resmi

‎Hingga berita ini ditayangkan, pihak Rumah Sakit Awal Bros Batam belum memberikan keterangan resmi terkait tudingan keluarga maupun laporan yang telah disampaikan kepada Polresta Barelang.

‎Upaya konfirmasi telah dilakukan kepada pihak humas Rumah Sakit Awal Bros Batam melalui pesan WhatsApp. Namun, belum diperoleh jawaban resmi mengenai kronologi kejadian, jenis obat yang diberikan, prosedur medis yang dilakukan maupun kondisi pasien.

‎Dengan adanya laporan tersebut, publik kini menunggu langkah aparat penegak hukum untuk mengungkap fakta secara terang.

‎Apakah kondisi Dewi merupakan komplikasi medis, reaksi terhadap obat, atau terdapat unsur kelalaian dalam pelayanan kesehatan, seluruhnya masih menjadi pertanyaan yang harus dibuktikan melalui proses pemeriksaan yang objektif dan sesuai ketentuan hukum.

‎Kasus ini masih berada pada tahap pengaduan/laporan dan belum terdapat putusan pengadilan yang menyatakan adanya kesalahan atau kelalaian pihak tertentu. Hak jawab dan klarifikasi dari Rumah Sakit Awal Bros tetap terbuka. (Tim)

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

BP Batam Komitmen Jaga Ketahanan Produksi Air Baku, Antisipasi Dampak El Nino di Waduk Nongsa

9info.co.id | BATAM – Badan Pengusahaan (BP) Batam terus melakukan pemantauan terhadap kondisi seluruh waduk, khususnya Waduk Nongsa yang mengalami penurunan Tinggi Muka Air (TMA).

Berdasarkan pemantauan, TMA Waduk Nongsa berada pada level 5,96 meter. Kondisi ini mendorong BP Batam dan PT ABH melakukan pengaturan pengambilan air baku untuk menjaga ketahanan cadangan air yang tersedia di tengah fenomena El Nino.

Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, memahami keresahan warga Nongsa akibat kondisi tersebut. Ia pun telah menginstruksikan tim untuk turun langsung ke area sekitar waduk guna menindaklanjuti keresahan masyarakat.

“Kami terus memantau kondisi waduk setiap hari. Pengaturan produksi juga terus dilakukan sebagai langkah antisipasi agar cadangan air baku dapat bertahan lebih lama, terutama selama kondisi cuaca masih minim hujan. Pada prinsipnya, kebutuhan masyarakat tetap menjadi perhatian utama kami,” ujarnya, Senin (21/9/2026).

Ia menegaskan bahwa tim BP Batam bersama PT ABH juga telah melakukan suplai air bersih melalui mobil tangki sebagai langkah antisipatif sementara. Terutama bagi wilayah yang alirannya belum terpenuhi secara maksimal.

Di samping itu, solusi lain terhadap permasalahan ini juga telah dilakukan. Salah satunya dengan penguatan suplai ke wilayah Nongsa. Setelah dilakukan pengoperasian sistem pendukung tersebut, aliran suplai ke masyarakat perlahan akan kembali optimal.

Berdasarkan laporan tim, Amsakar menjelaskan bahwa produksi air bersih di Batam secara keseluruhan saat ini masih di atas kebutuhan rata-rata.

Dengan tingkat kehilangan air sekitar 16 persen, volume air yang efektif masuk ke sistem distribusi mencapai sekitar 3.780 Lps. Angka tersebut masih berada di atas kebutuhan rata-rata masyarakat yang mencapai sekitar 3.700 Lps. Dengan demikian, sistem saat ini masih memiliki margin sekitar 80 Lps di atas kebutuhan rata-rata.

Meski demikian, lanjutnya, BP Batam terus memberikan perhatian khusus terhadap wilayah yang sumber air bakunya berasal dari waduk dengan kondisi TMA yang terus dipantau, terutama Nongsa dan Sei Harapan.

“Penurunan tampungan air baku memang terjadi seiring rendahnya intensitas hujan. Kondisi tersebut akan terus kami evaluasi dan sejumlah skenario antisipasi juga telah disiapkan agar kebutuhan masyarakat tidak terganggu,” ujarnya lagi.

Siapkan Sejumlah Skenario Antisipasi

Untuk menghadapi kemungkinan berlanjutnya kondisi minim hujan, BP Batam juga menyiapkan sejumlah langkah antisipasi.

Salah satunya melalui koordinasi tambahan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu meningkatkan potensi hujan di kawasan tangkapan air dan Pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru berkapasitas 50 liter per detik (lps) di Sei Ladi untuk menambah daya dorong dan kontinuitas pasokan air.

BP Batam juga mengkaji pemanfaatan sejumlah embung sebagai sumber alternatif. Beberapa opsi yang disiapkan antara lain memompa air dari embung untuk membantu mengisi waduk terdekat atau membangun fasilitas pengolahan air baru di sekitar embung sehingga air dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem distribusi.

Skenario pengaturan suplai secara bergilir juga menjadi bagian dari opsi yang dikaji. Namun, penerapannya akan mempertimbangkan kondisi jaringan perpipaan dan dampaknya terhadap masyarakat.

“Kami tidak ingin menunggu sampai kondisi menjadi lebih sulit. Oleh karena itu, berbagai skenario sudah kami siapkan dan terus kami evaluasi berdasarkan perkembangan kondisi waduk di lapangan. Kami ingin pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik,” tegas Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano.

Dalam jangka panjang, Denny mengungkapkan bahwa BP Batam juga terus mengembangkan konsep Batam Integrated Total Water Management untuk memperkuat ketahanan air dan mengurangi ketergantungan terhadap sumber air baku konvensional.

Pengembangan sumber air alternatif mencakup pemanfaatan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), air daur ulang, embung, serta pemanfaatan stormwater.

Dalam rencana atau proyeksi ketersediaan sumber air jangka panjang, Denny mengatakan BP Batam menargetkan kontribusi SWRO sebesar 2.500 Lps, air daur ulang 500 Lps, serta pemanfaatan embung dan stormwater sebesar 500 Lps.

Secara teknis, BP Batam juga mengkaji opsi pengembangan waduk laut dan pemanfaatan sumber air dari wilayah sekitar Batam dengan total rencana kapasitas mencapai 3.000 Lps.

Langkah tersebut dipersiapkan untuk menjawab kebutuhan air Batam yang diproyeksikan mencapai 7.149 Lps pada 2045, seiring pertumbuhan penduduk, kawasan hunian, industri, pusat data, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

“Ketahanan air merupakan kebutuhan bersama. Oleh karena itu, BP Batam tidak hanya fokus pada kondisi hari ini, tetapi juga menyiapkan sumber air baru untuk di masa mendatang,” tutup Denny. (DN)

Continue Reading

Berita Lain

Exit mobile version