Connect with us

9Info.co.id | BATAM – Pemerintah Kota (Pemko) Batam memberikan Penghargaan Batam Madani sampena Hari Jadi Batam (HJB) ke-194 kepada dua tokoh yang dinilai memiliki peran penting bagi industri perfilman di Kota Batam yaitu kepada Je Yatmoko dan Fajri Andika. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, bertempat di Dataran Engku Putri, Sabtu (16/12/2023) malam.

Je Yatmoko menjadi filmmaker professional sejak 2014 yang telah menghasilkan beberapa karya film pendek. Dengan Ramlie Oii Ramlie yang mulai tayang pada tahun 2019 adalah film panjang pertamanya sebagai produser dan memulai debut penyutradaraan film panjang dengan merilis Arumi, Night Is Blue tahun 2021

“Ramlie Oii Ramlie perna mendapat award dari Festival Del Cinema de’ Indonesia 2019 di Serraveza,Italy,” katanya.

Dua film pendeknya, Radio Pakcik Mahmud dan Mencari Syurga pernah berhasil diputar di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2021 & 2023. Penulis naskah ini antusias pemberian Penghargaan Batam Madani tersebut. Ia mengucapkan terima kasih kepada Pemko Batam dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam yang telah mendukung pelaku ekonomi kreatif khususnya di bidang film.

“Saya sangat senang mendapat penghargaan ini dari pemimpin Batam bapak Rudi atas dukungan ini membuat saya bahagia dan akan terus berkarya” ucapnya.

Film yang dibuatnya tersebut mengangkat tentang budaya Batam. Ia berharap, beragam industri dapat menopang Batam salah satunya dari film yang akan berkembang dan bisa menyerap tenaga kerja.

Sineas Batam, Fajri Andika antusias mendapat penghargaan Batam Madani di bidang Tokoh Ekonomi Kreatif. Sutradara Film Radio Pakcik Mahmud ini mengatakan penghargaan ini dijadikannya sebagai motivasi untuk membuat karya yang lebih baik lagi.

Ia menceritakan, mulai terjun di dunia perfilman tahun 2016 yakni dengan mendirikan komunitas bernama Ni Film Kite Way atau yang disingkat Nifikiwa.

Komunitas ini didirikan sebagai bentuk rasa cinta terhadap budaya Melayu. Film yang pertama yang diluncurkannya berjudul Malam Minggu Ramli yang tayang pada tahun 2017.

“Rasa cinta kita terhadap budaya Melayu kita aplikasikan lewat film,” terangnya.

Kepala Disbudpar Kota Batam, Ardiwinata mengucapkan selamat kepada dua pelaku perfilaiman Batam yang telah menerima Penghargaan Batam Madani. Bagi, Ardi Je Yatmoko dan Fajri Andika dua pelaku ekonomi kreatif yang berprestasi yang memperkenalkan Batam lewat film.

“Saya berharap adanya anugerah ini dapat mempacu semangat kepada Je Yatmoko dan Fajri Andika untuk terus berkarya,” ucapnya.

Bang Ardi sapaanya menyampaikan film merupakan salah satu 17 subsektor ekonomi kreatif. Menurutnya film suatu hal yang komplit, semua seni ada di film mulai dari musik, tari, dan sebagainya.

Sementara itu, Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, mengapresiasi semua pihak yang terus mendukung demi kemajuan Kota Batam. Bagi dirinya, pembangunan yang terjadi saat ini, tak lepas dari dukungan semua pihak, termasuk Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

“Terima kasih atas dukungan selama ini. Tugas kita ke depan bagaimana mengisi pembangunan Batam,” katanya.

“Dukungan ini jangan sampai berhenti sampai Batam terus melaju hingga Batam Kota Baru,” kata dia.

Di momen HJB ke-194 ini, Rudi mengajak semua pihak berkontribusi dalam pembangunan Batam. “Setelah kita bangun, mari kita rasakan bersama. Dan ke depan, masih banyak yang harus dikerjakan. Semua kita saya anggap penting dan mari bersatu padu kompak selalu membangun Batam demi anak cucu kita,” katanya.

Hadir dalam acara tersebut, Wakil Gubernur Kepri, Marlin Agustina, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda)jj Batam, sejumlah pejabat di lingkungan Pemko Batam dan sejumlah undangan.(DN).

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

33 Tim Tortor Batak Masuk Arena Persaingan, Festival Budaya Batam 2026 Siapkan Hadiah Ratusan Juta

Yayasan Yonkenedia Dukung Pelestarian Budaya, 33 Tim Tortor Siap Berlaga di Festival Batak Batam 2026

9info.co.id | BATAM – Sebanyak 33 tim tortor Batak dipastikan ambil bagian dalam Festival Budaya Batak Batam 2026 di Kota Batam, Kepulauan Riau. Kompetisi ini tidak sekadar menjadi ajang unjuk kemampuan seni tari tradisional, tetapi juga menjadi upaya memperkuat pelestarian adat dan identitas budaya Batak di tengah keberagaman masyarakat.

Babak penyisihan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 31 Oktober 2026, di Tiara Convention Hall Panbil, Batam. Dari total 33 tim peserta, dewan juri akan memilih 10 tim terbaik untuk melaju ke babak final yang dijadwalkan pada 28 November 2026.

Babak final tersebut sekaligus akan dirangkai dengan peresmian Tiara Convention Hall Panbil milik Johannes Kennedy Aritonang.

Festival ini disponsori Yayasan Yonkenedia dengan menyediakan hadiah bernilai ratusan juta rupiah beserta piala bagi para pemenang. Sejumlah kategori yang diperlombakan meliputi tortor Batak dewasa, parsinabung, pertunjukan busana adat Batak, serta tortor anak-anak.

33 Tim Ikuti Technical Meeting

Menjelang pelaksanaan kompetisi, perwakilan dari 33 tim mengikuti pertemuan teknis atau technical meeting pada Selasa, 13 Oktober 2026. Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Johannes Kennedy Aritonang.

Dalam pertemuan itu, Ketua Panitia Mangihut Rajagukguk memberikan pengarahan terkait mekanisme perlombaan. Para koordinator tim juga mengikuti pencabutan nomor undian untuk menentukan urutan penampilan pada babak penyisihan.

Penentuan urutan tampil menjadi salah satu tahapan penting agar setiap peserta memahami alur kompetisi dan dapat mempersiapkan penampilan secara maksimal. Masing-masing tim akan diberi kesempatan menunjukkan keterampilan, kekompakan, serta penghayatan terhadap tortor Batak di hadapan dewan juri.

Empat Aspek Penilaian Jadi Penentu

Persaingan menuju babak final diperkirakan berlangsung ketat. Setiap tim tidak hanya dituntut menampilkan gerakan yang kompak dan tepat, tetapi juga memperlihatkan pemahaman terhadap nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tortor Batak.

Penilaian mencakup empat aspek utama. Pertama, wiraga, yakni ketepatan gerakan, kekompakan ant penari, kelenturan, dan kemampuan menjaga kualitas gerakan sepanjang penampilan.

Kedua, wirama, yaitu kesesuaian gerakan dengan tempo, ritme, serta ketukan musik pengiring, termasuk gondang sabangunan apabila digunakan dalam penampilan.

Ketiga, wirasa, yang mencakup ekspresi, penghayatan terhadap makna tortor, serta keselarasan penjiwaan di antara seluruh anggota tim.

Keempat, tata busana dan penampilan, termasuk penggunaan ulos, sortali, serta aksesori tradisional yang sesuai dengan ketentuan dan nilai budaya Batak.

Keempat aspek tersebut menjadi unsur penting dalam mengukur kualitas penampilan peserta, sekaligus memastikan bahwa tortor tidak hanya disajikan sebagai hiburan, tetapi tetap mencerminkan nilai dan karakter budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

10 Tim Terbaik Melaju ke Final

Seluruh 33 tim akan tampil pada babak penyisihan. Setelah penampilan selesai, dewan juri akan memberikan nilai berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Nilai peserta kemudian diurutkan dari yang tertinggi hingga terendah untuk menentukan 10 tim yang berhak melaju ke babak final pada 28 November 2026.

Dengan mekanisme tersebut, setiap tim memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Konsistensi gerakan, keselarasan dengan musik, penghayatan, serta ketepatan penggunaan busana adat akan menjadi bagian penting dalam persaingan.

Festival Budaya Batak Batam 2026 diharapkan menjadi ruang bagi para pelaku seni, generasi muda, dan masyarakat Batak di perantauan untuk terus mengenal serta mengembangkan tradisi leluhur.

Lebih dari sekadar kompetisi memperebutkan hadiah, kegiatan ini diharapkan mampu menjaga tortor Batak tetap hidup, dikenal lintas generasi, dan menjadi bagian dari kekayaan budaya yang turut memperkuat keberagaman di Kota Batam. (Tim).

Continue Reading

Berita Lain