Connect with us

9info.co.id | BATAM –  Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-57 Ikatan Pemuda Karya (IPK), Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) IPK Kepulauan Riau (Kepri) bersama IPK Kota Batam memilih cara berbeda dalam memaknai momentum organisasi.

‎Perayaan tidak hanya dikemas dalam kegiatan seremonial, tetapi diarahkan menjadi gerakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

‎Salah satu agenda utama yang dipersiapkan adalah Gerakan IPK Peduli Lingkungan melalui penanaman mangrove di sejumlah kawasan pesisir Kota Batam dan sekitarnya. Beberapa lokasi yang menjadi sasaran kegiatan antara lain Pantai Vio Vio Barelang, Teluk Mata Ikan, Kebun Raya Batam, Belakang Padang serta sejumlah titik pesisir lainnya.

‎Ketua IPK Provinsi Kepri sekaligus penanggung jawab kegiatan, Budi Bukti Purba, mengatakan penanaman mangrove merupakan bentuk konkret kepedulian organisasi terhadap kelestarian ekosistem pesisir.

‎Menurut Budi, momentum HUT ke-57 harus memiliki makna yang lebih luas. Organisasi kepemudaan, kata dia, tidak cukup hanya melaksanakan perayaan dan seremoni, tetapi juga harus mampu meninggalkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dan lingkungan.

‎“Kami ingin HUT ke-57 ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Ada kepedulian yang ingin kami wujudkan secara nyata, salah satunya melalui penanaman dan pelestarian mangrove,” ujar Budi.

‎Budi juga menyampaikan bahwa kegiatan tersebut mendapat perhatian dari Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Dr. Nyangnyang Haris Pratamura, SE, MM, yang disebut siap menghadiri rangkaian kegiatan tersebut.

Mangrove dan Masa Depan Pesisir Kepri

‎Pemilihan mangrove sebagai bagian dari rangkaian HUT bukan tanpa alasan. Ekosistem mangrove memiliki fungsi penting dalam menjaga kawasan pesisir, membantu mengurangi dampak abrasi, menjadi habitat berbagai jenis biota, serta berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut dan daratan.

‎Bagi Kepulauan Riau yang memiliki karakteristik wilayah kepulauan dengan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang luas, keberadaan mangrove memiliki nilai ekologis sekaligus sosial dan ekonomi.

‎Karena itu, gerakan penanaman mangrove yang dilakukan IPK diharapkan tidak berhenti pada penanaman secara simbolis. Semangat yang dibangun adalah menanam, merawat dan menjaga, sehingga pohon yang ditanam dapat tumbuh dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

‎“Yang paling penting bukan hanya menanam. Setelah ditanam harus dirawat dan dijaga. Kami ingin gerakan ini menjadi kegiatan berkelanjutan atau sustainable, bukan sekadar seremoni HUT,” tegas Budi.

‎Kawasan mangrove juga memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat pesisir. Berbagai organisme laut memanfaatkan kawasan tersebut sebagai tempat mencari makan, berlindung dan berkembang biak.

‎Dengan demikian, keberadaan mangrove secara tidak langsung turut mendukung keberlangsungan sumber daya laut yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir dan nelayan.


Pantai Vio Vio Jadi Salah Satu Titik Perhatian

‎Dalam rangkaian kegiatan tersebut, kawasan Pantai Vio Vio Barelang menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian.

‎Pemilihan kawasan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga kawasan pesisir dari Pulau Galang hingga pulau-pulau lainnya di wilayah Kepulauan Riau.

‎Selain Pantai Vio Vio, kegiatan penanaman juga direncanakan menyasar kawasan Teluk Mata Ikan, Kebun Raya Batam, Belakang Padang dan sejumlah titik lainnya.

‎Penyebaran lokasi kegiatan tersebut menunjukkan bahwa gerakan penghijauan yang diusung IPK tidak diarahkan hanya pada satu kawasan, tetapi diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan bersama untuk menjaga ekosistem pesisir Batam dan Kepri.

IPK Dorong Gerakan yang Berkelanjutan

‎Sementara itu, Ketua Panitia Kegiatan IPK Kepri Peduli Lingkungan, Alex A.Simatupang, menegaskan bahwa rangkaian HUT ke-57 IPK Nasional dikemas dengan semangat kebersamaan, kepedulian sosial dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

‎Alex, yang juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan Hidup dan B3 Indonesia (AMPHIBI), mengatakan penanaman mangrove menjadi salah satu pesan penting yang ingin disampaikan melalui kegiatan tersebut.

‎Menurutnya, organisasi kepemudaan harus mampu membuktikan bahwa keberadaan mereka dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan.

‎“Perayaan ulang tahun OKP bukan hanya soal seremonial. Kami ingin ada sesuatu yang ditinggalkan dan memberikan manfaat. Penanaman mangrove ini menjadi bentuk nyata kepedulian berkelanjutan terhadap lingkungan,” kata Alex.

‎Ia menegaskan, konsep kegiatan diarahkan pada tiga hal utama, yakni menanam, merawat dan menjaga. Dengan konsep tersebut, keberadaan organisasi diharapkan tidak hanya terlihat ketika kegiatan berlangsung, tetapi juga hadir dalam proses menjaga keberlanjutan lingkungan setelah kegiatan selesai.

IPK Kota Batam Nyatakan Dukungan. 

Dukungan terhadap gerakan tersebut juga disampaikan IPK Kota Batam dalam rapat panitia yang digelar pada Minggu, 9 Agustus 2026, di Sekretariat IPK Kepri, Ketua IPK Kota Batam Devin Hutabarat, S.Kom, bersama jajaran dan tim menyatakan dukungan penuh terhadap Gerakan IPK Peduli Lingkungan melalui penanaman mangrove.

‎Dukungan tersebut menjadi bagian dari sinergi antara IPK Kepri dan IPK Kota Batam dalam menjadikan momentum HUT ke-57 sebagai ruang untuk memperkuat kepedulian terhadap lingkungan.

‎Gerakan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi agenda internal organisasi, tetapi mampu mengajak masyarakat, generasi muda dan berbagai elemen lainnya untuk bersama-sama menjaga kawasan pesisir.

‎Dengan semangat HUT ke-57: bukan sekadar merayakan usia organisasi, tetapi meninggalkan manfaat bagi lingkungan dan generasi mendatang, IPK Kepri dan IPK Kota Batam menegaskan komitmennya untuk menjadikan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari gerakan organisasi yang berkelanjutan.(Mat)

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Mitigasi Fenomena El Nino, BP Batam Siapkan 4 Langkah Antisipatif

Mitigasi Fenomena El Nino, BP Batam Siapkan 4 Langkah Antisipatif

9info.co.id | BATAM – Badan Pengusahaan (BP) Batam terus memaksimalkan pengelolaan air bersih sebagai langkah antisipasi menghadapi dampak El Nino dan puncak musim kemarau 2026. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen BP Batam guna memastikan kebutuhan dasar masyarakat terhadap air bersih tetap terpenuhi.

Berdasarkan informasi BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada periode Juli hingga September 2026, dengan puncak tertinggi diperkirakan terjadi pada Agustus. Sementara itu, berdasarkan analisis perkembangan musim kemarau pada Dasarian II Juli 2026, sebanyak 72,8 persen wilayah Indonesia atau 509 Zona Musim telah memasuki musim kemarau.

Kondisi tersebut turut meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Batam dan Provinsi Kepulauan Riau.

Badan Usaha Sistem Penyediaan Air Minum (BU SPAM) BP Batam dan PT Air Batam Hilir (ABH) pun menaruh perhatian serius terhadap potensi ini, mengingat waduk merupakan sumber utama air baku untuk mendukung kebutuhan air di Batam.

Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan bahwa kesiapsiagaan dalam menghadapi perubahan kondisi iklim ini harus dilakukan sejak dini.

“Air merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus terpenuhi. Untuk itu, BP Batam terus melakukan pemantauan terhadap kondisi air bersih dan mengoptimalkan pengelolaan yang ada agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik, terutama ketika kita menghadapi periode kemarau,” ujar Denny, Selasa (11/8/2026).

Sebagai bagian dari mitigasi, lanjut Denny, BP Batam menyiapkan empat langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan air baku.

Pertama, BP Batam bersama PT ABH terus melakukan pemantauan terhadap kondisi air baku secara real-time. Data pemantauan level dan kondisi air tersebut menjadi salah satu dasar bagi pengelola dalam menentukan langkah operasional, termasuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan air baku, kapasitas produksi, dan kebutuhan masyarakat.

Kedua, BP Batam terus mengoptimalkan sistem interkoneksi jaringan antar waduk untuk mendukung distribusi air baku bagi wilayah yang terdampak penurunan debit air baku.

Ketiga, selain aspek teknis, BP Batam berupaya untuk memaksimalkan program reboisasi serta pelindungan dan pelestarian Daerah Tangkapan Air (DTA). Langkah tersebut antara lain dilakukan melalui penguatan kepedulian terhadap kawasan resapan, penghijauan, serta pencegahan aktivitas yang berpotensi mengurangi fungsi kawasan sebagai daerah tangkapan air.

Terakhir, BP Batam juga terus mendorong pengembangan infrastruktur penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang. Selain optimalisasi infrastruktur eksisting, BP Batam juga menyiapkan berbagai opsi pengembangan sumber air, termasuk pemanfaatan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) sebagai salah satu alternatif pengolahan air laut untuk memperkuat ketahanan air pada masa mendatang.

“Menjaga sumber air tidak cukup hanya dengan membangun dan memelihara infrastruktur. Kita juga harus menjaga lingkungan di sekitar sumber air. Ini merupakan tanggung jawab bersama karena keberlanjutan air Batam sangat bergantung pada bagaimana kita menjaga alam hari ini,” pesannya.

Di sisi lain, BP Batam mengajak masyarakat untuk ikut berperan menjaga ketahanan air dengan menggunakan air secara bijak.

Menurut Denny, upaya pemerintah dan pengelola infrastruktur air akan semakin efektif apabila diikuti dengan kesadaran masyarakat dalam menghemat penggunaan air di tingkat rumah tangga.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat antara lain:

  1. Menggunakan air sesuai kebutuhan dan mematikan keran ketika tidak digunakan;
  2. Memeriksa instalasi air secara berkala untuk memastikan tidak terjadi kebocoran;
  3. Mengurangi penggunaan air untuk kebutuhan sekunder selama periode kemarau atau cuaca kering;
  4. Menjaga lingkungan dan kawasan tangkapan air, termasuk tidak membuang puntung rokok atau melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di sekitar kawasan vegetasi.

“Kami mengajak masyarakat untuk menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan air Batam. Tidak harus dengan langkah yang besar. Menggunakan air seperlunya, memastikan tidak ada kebocoran di rumah, dan mematikan keran ketika tidak digunakan merupakan langkah sederhana yang dampaknya sangat berarti apabila dilakukan bersama-sama,” pungkasnya. (DN)

 

Continue Reading

Berita Lain