Connect with us

9info.co.id | BATAM – Proyek properti komersial Amerta Hill resmi dimulai dengan prosesi peletakan batu pertama yang digelar pada Sabtu (14/02/2026) di kawasan Tembesi, Kota Batam. Kegiatan ini menjadi tonggak awal pembangunan hunian modern yang dikembangkan oleh Amerta Group.

‎Acara diawali dengan ibadah dan doa bersama yang dipimpin oleh Pdt. Michael Z. Sipayung, S.Th., Pdt. Afrijan Haloho, S.Th., Pdt. Jon Lamhot Sinaga, S.Th., serta Pdt. Matthias Purba yang secara khusus hadir dari Jerman. Kehadiran Pdt. Matthias menjadi bentuk dukungan dan apresiasi terhadap dimulainya proyek properti kedua dari Amerta Group tersebut.

‎Direktur Amerta Group, Petrich Brian Sinaga, dalam sambutannya menyampaikan komitmen perusahaan untuk menghadirkan hunian yang nyaman dan berkualitas bagi masyarakat.

Direktur Amerta Group, Petrich Brian Sinaga

Direktur Amerta Group, Petrich Brian Sinaga

‎“Kami hadir untuk memberikan hunian yang nyaman bagi konsumen kami, dengan konsep yang modern dan lingkungan yang mendukung kualitas hidup,” ujarnya.

‎Turut hadir dalam kegiatan tersebut jajaran direksi Amerta Group, termasuk Sahmadin Sinaga, SE., MM., beserta istri. Sahmadin menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas dukungan berbagai pihak.

‎“Kami sangat senang dan bangga atas dukungan partner kami dari perbankan, kontraktor, serta notaris yang turut mendukung realisasi proyek ini,” katanya.

‎Perumahan Amerta Hill dinamakan demikian karena berada di lokasi yang lebih tinggi (hill), menawarkan panorama laut serta pemandangan pemukiman warga yang indah. Ke depan, kawasan ini juga akan bersebelahan dengan pengembangan proyek industri Panbil 2, yang diyakini akan meningkatkan nilai investasi properti di wilayah tersebut.

SAHMADIN

Direksi Amerta Group Sahmadin Sinaga, SE., MM., beserta istri.

‎Mengusung konsep Scandinavian Living, Amerta Hill dibangun di atas lahan yang dirancang dengan tata ruang modern dan fungsional. Beberapa tipe hunian yang ditawarkan yakni,
‎Minimalist House tipe 36/72, dan Shop House tipe 70/60.

‎Selain desain yang elegan dan minimalis, kawasan ini juga dilengkapi fasilitas pendukung seperti taman dan area komunal untuk menunjang kenyamanan penghuni.

‎Proyek komersial ini ditargetkan rampung dalam waktu satu tahun. Jumlah unit yang dibangun pun terbatas, tidak sampai 200 unit, sehingga memberikan eksklusivitas bagi para pemiliknya.

‎Dengan harga mulai dari Rp300 jutaan, Amerta Hill diharapkan menjadi pilihan menarik bagi masyarakat yang mencari hunian modern sekaligus peluang investasi menjanjikan di kawasan Tembesi, Batam. (Mat)

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

BP Batam Komitmen Jaga Ketahanan Produksi Air Baku, Antisipasi Dampak El Nino di Waduk Nongsa

BP Batam Komitmen Jaga Ketahanan Produksi Air Baku, Antisipasi Dampak El Nino di Waduk Nongsa

9info.co.id | BATAM – Badan Pengusahaan (BP) Batam terus melakukan pemantauan terhadap kondisi seluruh waduk, khususnya Waduk Nongsa yang mengalami penurunan Tinggi Muka Air (TMA).

Berdasarkan pemantauan, TMA Waduk Nongsa berada pada level 5,96 meter. Kondisi ini mendorong BP Batam dan PT ABH melakukan pengaturan pengambilan air baku untuk menjaga ketahanan cadangan air yang tersedia di tengah fenomena El Nino.

Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, memahami keresahan warga Nongsa akibat kondisi tersebut. Ia pun telah menginstruksikan tim untuk turun langsung ke area sekitar waduk guna menindaklanjuti keresahan masyarakat.

“Kami terus memantau kondisi waduk setiap hari. Pengaturan produksi juga terus dilakukan sebagai langkah antisipasi agar cadangan air baku dapat bertahan lebih lama, terutama selama kondisi cuaca masih minim hujan. Pada prinsipnya, kebutuhan masyarakat tetap menjadi perhatian utama kami,” ujarnya, Senin (21/9/2026).

Ia menegaskan bahwa tim BP Batam bersama PT ABH juga telah melakukan suplai air bersih melalui mobil tangki sebagai langkah antisipatif sementara. Terutama bagi wilayah yang alirannya belum terpenuhi secara maksimal.

Di samping itu, solusi lain terhadap permasalahan ini juga telah dilakukan. Salah satunya dengan penguatan suplai ke wilayah Nongsa. Setelah dilakukan pengoperasian sistem pendukung tersebut, aliran suplai ke masyarakat perlahan akan kembali optimal.

Berdasarkan laporan tim, Amsakar menjelaskan bahwa produksi air bersih di Batam secara keseluruhan saat ini masih di atas kebutuhan rata-rata.

Dengan tingkat kehilangan air sekitar 16 persen, volume air yang efektif masuk ke sistem distribusi mencapai sekitar 3.780 Lps. Angka tersebut masih berada di atas kebutuhan rata-rata masyarakat yang mencapai sekitar 3.700 Lps. Dengan demikian, sistem saat ini masih memiliki margin sekitar 80 Lps di atas kebutuhan rata-rata.

Meski demikian, lanjutnya, BP Batam terus memberikan perhatian khusus terhadap wilayah yang sumber air bakunya berasal dari waduk dengan kondisi TMA yang terus dipantau, terutama Nongsa dan Sei Harapan.

“Penurunan tampungan air baku memang terjadi seiring rendahnya intensitas hujan. Kondisi tersebut akan terus kami evaluasi dan sejumlah skenario antisipasi juga telah disiapkan agar kebutuhan masyarakat tidak terganggu,” ujarnya lagi.

Siapkan Sejumlah Skenario Antisipasi

Untuk menghadapi kemungkinan berlanjutnya kondisi minim hujan, BP Batam juga menyiapkan sejumlah langkah antisipasi.

Salah satunya melalui koordinasi tambahan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu meningkatkan potensi hujan di kawasan tangkapan air dan Pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru berkapasitas 50 liter per detik (lps) di Sei Ladi untuk menambah daya dorong dan kontinuitas pasokan air.

BP Batam juga mengkaji pemanfaatan sejumlah embung sebagai sumber alternatif. Beberapa opsi yang disiapkan antara lain memompa air dari embung untuk membantu mengisi waduk terdekat atau membangun fasilitas pengolahan air baru di sekitar embung sehingga air dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem distribusi.

Skenario pengaturan suplai secara bergilir juga menjadi bagian dari opsi yang dikaji. Namun, penerapannya akan mempertimbangkan kondisi jaringan perpipaan dan dampaknya terhadap masyarakat.

“Kami tidak ingin menunggu sampai kondisi menjadi lebih sulit. Oleh karena itu, berbagai skenario sudah kami siapkan dan terus kami evaluasi berdasarkan perkembangan kondisi waduk di lapangan. Kami ingin pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik,” tegas Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano.

Dalam jangka panjang, Denny mengungkapkan bahwa BP Batam juga terus mengembangkan konsep Batam Integrated Total Water Management untuk memperkuat ketahanan air dan mengurangi ketergantungan terhadap sumber air baku konvensional.

Pengembangan sumber air alternatif mencakup pemanfaatan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), air daur ulang, embung, serta pemanfaatan stormwater.

Dalam rencana atau proyeksi ketersediaan sumber air jangka panjang, Denny mengatakan BP Batam menargetkan kontribusi SWRO sebesar 2.500 Lps, air daur ulang 500 Lps, serta pemanfaatan embung dan stormwater sebesar 500 Lps.

Secara teknis, BP Batam juga mengkaji opsi pengembangan waduk laut dan pemanfaatan sumber air dari wilayah sekitar Batam dengan total rencana kapasitas mencapai 3.000 Lps.

Langkah tersebut dipersiapkan untuk menjawab kebutuhan air Batam yang diproyeksikan mencapai 7.149 Lps pada 2045, seiring pertumbuhan penduduk, kawasan hunian, industri, pusat data, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

“Ketahanan air merupakan kebutuhan bersama. Oleh karena itu, BP Batam tidak hanya fokus pada kondisi hari ini, tetapi juga menyiapkan sumber air baru untuk di masa mendatang,” tutup Denny. (DN)

Continue Reading

Berita Lain