Connect with us

9info.co.id | BATAM – Kejadian mengejutkan terjadi pada seorang nasabah BNI Cabang Batam, berinisial NS, warga Tanjung Piayu, yang mendapati saldo rekeningnya yang semula sebesar Rp. 101.100.000 tiba-tiba raib. Peristiwa ini memicu pertanyaan besar terkait lemahnya sistem keamanan di Bank Negara Indonesia (BNI).

Kronologi kejadian bermula pada 1 November 2023, ketika NS memiliki saldo sebesar Rp. 205.913.543. Pada 3 November 2023, NS melakukan penarikan sebesar Rp. 100.000.000, meninggalkan saldo Rp. 105.913.543. Selama setahun, NS tidak melakukan transaksi apapun, hingga akhirnya pada 1 November 2024, ia melakukan setor dana sebesar Rp. 5.650.357 dan penarikan Rp. 10.000.000, menyisakan saldo Rp. 100.681.322.

Masalah muncul pada 8 November 2024, ketika NS mentransfer Via bank lain sebesar Rp. 500.000, yang meningkatkan saldo menjadi Rp. 101.681.322. Namun, pada 13 Desember 2024, setelah kembali mentransfer sebesar Rp. 500.000 via bank mandiri. NS menerima pemberitahuan SMS yang mengejutkan. Saldo rekeningnya tiba-tiba hanya tersisa Rp. 567.455. seharusnya saldo saya tersisa Rp.101.669.955.

NS langsung mendatangi kantor BNI Cabang Sei Pancur, Tanjung Piayu Batam, untuk mencari klarifikasi. Namun, bukannya menerima solusi, ia malah dituduh terlibat dalam aktivitas yang tidak pernah dilakukannya, termasuk permainan judi online. NS menegaskan bahwa ia tidak pernah melakukan aktivitas tersebut dan bahkan tidak menggunakan aplikasi mobile BNI. “Saya hanya memiliki ATM dan Buku Tahapan,” jelasnya.

Dari pemeriksaan rekening koran, NS mendapati bahwa saldo sebesar Rp. 101.100.000, ditambah biaya administrasi Rp. 2.500, telah dipindahkan ke rekening yang tidak dikenalnya. Merasa dirugikan, NS meminta pihak BNI untuk bertanggung jawab atas kehilangan dana tersebut.

Kasus ini mendapat perhatian dari kantor hukum JAP & Rekan. Jhon Asron dan Sebastian Surbakti, kuasa hukum NS, menyatakan, “Jika ini memang bukan kesalahan clien kami, maka kami mendesak pihak Bank BNI untuk bertanggung jawab atas kerugian yang dialami oleh klien kami,”tegas Jhon Asron.

Sebastian Surbakti, S.H., kuasa hukum NS menambahkan. “Kejadian ini menunjukkan lemahnya sistem keamanan bank, yang memungkinkan saldo nasabah dengan mudah dibobol. Kami akan mengambil langkah hukum untuk mengembalikan hak klien kami dan juga mengedukasi masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menabung di bank.” tegasnya.

Kasus ini menambah kekhawatiran publik mengenai seberapa aman sistem perbankan di Indonesia dan sejauh mana bank dapat melindungi dana nasabah dari ancaman pembobolan. Hingga berita ini diterbitkan, pihak BNI belum memberikan klarifikasi resmi mengenai kejadian tersebut. (DN)

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Tokoh Masyarakat Sei Beduk Desak BP Batam Evaluasi Alokasi Lahan di Dekat Oleana Park Usai Dua Anak Tewas Tenggelam

Tokoh Masyarakat Sei Beduk Desak BP Batam Evaluasi Alokasi Lahan di Dekat Oleana Park Usai Dua Anak Tewas Tenggelam

9info.co.id | BATAM – Tragedi meninggalnya dua anak akibat tenggelam di kawasan dekat Perumahan Oleana Park, Kelurahan Tanjung Piayu, Kecamatan Sei Beduk, memicu desakan keras kepada BP Batam untuk segera mengevaluasi alokasi lahan yang dinilai membahayakan keselamatan warga.

‎Tokoh masyarakat Sei Beduk, Asian Sinaga, meminta BP Batam turun tangan dan mengambil langkah tegas terhadap keberadaan kolam dan area bukit di sekitar perumahan yang selama ini kerap dijadikan tempat bermain anak-anak.

‎Menurut Asian Sinaga, kondisi kolam yang cukup dalam sangat berisiko dan dikhawatirkan kembali memakan korban jiwa apabila tidak segera ditimbun atau diamankan. Senin (25/05/2026).

‎“Lokasi itu sangat berbahaya karena sering dijadikan tempat bermain anak-anak. Kami meminta BP Batam mengevaluasi alokasi lahan tersebut apabila memang tidak dimanfaatkan,” ujar Asian Sinaga.

‎Asian yang juga menjabat sebagai Ketua Komite SDN 08 Kelurahan Duriangkang menegaskan, tragedi ini harus menjadi perhatian serius seluruh pihak, terlebih salah satu korban diketahui merupakan siswa di sekolah tersebut.

‎“Jangan sampai ada lagi korban berikutnya. Kami berharap pemilik lahan segera menimbun kolam tersebut demi keselamatan warga,” tegasnya.

‎Persoalan itu bahkan telah dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi I DPRD Kota Batam yang turut dihadiri pihak BP Batam, Camat Sei Beduk, Kapolsek Sei Beduk, perwakilan warga, serta pengurus RT dan RW Perumahan Oleana Park.

‎Sementara itu, pihak pengembang Oleana Park melalui perwakilannya, Reevan Simanjuntak bersama Teguh Broto, telah turun langsung meninjau lokasi kejadian sekaligus menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban pada Jumat (15/05/2026).

‎Reevan menjelaskan, kolam tempat terjadinya musibah bukan merupakan lahan milik perusahaan maupun berada di dalam kawasan PL pengembang Oleana Park. Meski demikian, pihaknya tetap berkomitmen membantu mencarikan solusi agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

‎“Lokasi kolam tersebut bukan lahan kami dan tidak berada dalam kawasan PL perusahaan kami. Namun demi keselamatan warga, kami akan segera berkoordinasi dengan pihak terkait, khususnya Anggota DPRD Kota Batam Jimmy Siburian, untuk memfasilitasi pemilik lahan agar lokasi kolam tersebut dapat segera ditimbun,” ujar Reevan.

‎Ia menambahkan, pihak pengembang juga akan meminta izin kepada pemilik lahan terkait rencana penimbunan kolam tersebut.

‎“Terkait kolam tersebut akan kami koordinasikan dan dalam waktu dekat akan dilakukan penimbunan,” tambahnya.

‎Selain meninjau lokasi kejadian, pihak pengembang juga mendatangi rumah keluarga korban dan memberikan bantuan sebagai bentuk kepedulian serta belasungkawa.

‎“Kami hadir sebagai pengembang Perumahan Oleana Park dan turut merasakan duka yang mendalam atas musibah ini. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ungkap Reevan.

‎Ketua RW 18 Kelurahan Tanjung Piayu, Andika, juga berharap seluruh pihak segera mengambil langkah nyata demi keselamatan warga, khususnya anak-anak yang tinggal di sekitar lokasi.

‎“Kami meminta agar kolam tersebut segera ditimbun. Kami juga mengapresiasi niat baik dan empati pihak pengembang yang hadir langsung menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban,” ujarnya.

‎Peristiwa tragis yang merenggut nyawa dua anak itu kini menjadi perhatian masyarakat Sei Beduk. Warga berharap pemerintah dan pemilik lahan segera mengambil tindakan cepat agar kolam berbahaya tersebut tidak kembali menjadi “jebakan maut” bagi anak-anak di kawasan Tanjung Piayu. (Mat).

Continue Reading
Kolom Iklan

Berita Lain