Connect with us
Dugaan Mafia Beras di Batam, Aparat dan Kepala Bea Cukai Batam Bungkam

Dugaan Mafia Beras di Batam, Aparat dan Kepala Bea Cukai Batam Bungkam

More Videos


BATAM – Sebuah aktivitas mencurigakan kembali muncul ke permukaan di Kecamatan Sagulung. Di sebuah gudang besar di Kelurahan Sungai Langkai, lalu lintas lori pengangkut beras berlangsung hampir tanpa jeda.

‎Dari luar, aktivitas itu tampak seperti kegiatan distribusi biasa. Namun setelah ditelusuri lebih dekat, muncul sejumlah kejanggalan yang mengarah pada dugaan pengoplosan dan distribusi beras ilegal dalam skala besar.

‎Selama berminggu-minggu, tim investigasi media mengikuti pola pergerakan truk dan para pekerja di gudang tersebut. Polanya terlihat konsisten beras masuk dalam bentuk curah atau kemasan tertentu, lalu keluar dengan merek berbeda.

‎Aktivitas tersebut dilakukan secara terbuka namun tanpa ada pengawasan dari instansi yang seharusnya hadir mulai dari Bea Cukai, Dinas Perdagangan, hingga Satgas Pangan

‎Pantauan langsung pada 19 November 2025 mengonfirmasi dugaan awal. Sebuah lori mengangkut beras masuk ke area gudang. Beberapa jam kemudian, lori-lori kembali keluar membawa beras dengan kemasan dan merek yang berbeda dari yang semula terlihat turun dari kendaraan.

‎Perubahan merek dan kemasan beras secara drastis dalam waktu singkat ini menjadi salah satu indikator klasik dalam praktik pengoplosan dan repackaging ilegal.

‎Seorang sumber internal yang mengetahui pergudangan tersebut mengatakan bahwa lokasi itu memang digunakan sebagai tempat penyimpanan beras, namun ia tidak mengetahui asal barang secara pasti.

‎“Iya, itu gudang beras. Tapi asal berasnya dari mana, saya tidak tahu,” ujarnya singkat.

‎Keterangan tersebut semakin mempertebal selubung misteri tentang rantai distribusi yang terjadi di balik pintu gudang itu.

‎Investigasi tidak berhenti di gudang pertama. Salah satu tim membuntuti sebuah lori dari lokasi itu menuju sebuah gudang distributor di kawasan Pasar Sagulung. Di tempat kedua ini, bongkar-muat berlangsung tanpa pemeriksaan apa pun. Tidak terlihat ada pengecekan label, dokumen, atau kesesuaian barang.

‎Rantai logistik yang bekerja tanpa aturan ini menunjukkan adanya potensi jaringan distribusi yang jauh lebih besar dari sekadar satu gudang. Jika dugaan pengoplosan benar, maka beras yang keluar dari gudang-gudang ini berpotensi menyebar ke pasar-pasar utama di Batam.

‎Hingga berita ini diturunkan, belum ada satu pun instansi resmi yang melakukan inspeksi atau penindakan meski aktivitas mencurigakan terjadi secara terang-terangan.

Risiko Besar Dari Ekonomi Hingga Kedaulatan Pangan

‎Jika dugaan kegiatan illegal ini terus berlangsung, terdapat sejumlah konsekuensi berbahaya:
‎- Harga beras lokal dapat terganggu, merugikan petani dan pedagang resmi.
– Kualitas pangan masyarakat terancam, karena beras oplosan tidak melalui standar mutu.
‎- Negara berpotensi mengalami kerugian besar, terutama jika beras ilegal tersebut berasal dari jalur impor gelap.
– Pasar Sagulung berisiko menjadi pusat distribusi beras oplosan terbesar di Batam.

‎Situasi ini bukan sekadar pelanggaran administrasi, melainkan ancaman terhadap keamanan pangan nasional.

Diamnya Instansi Terkait Pertanyaan yang Menggantung

‎Yang mengherankan, meskipun dugaan praktik ilegal ini telah berlangsung lama, tidak ada satu pun pihak yang mengambil langkah tegas. Bea Cukai, Dinas Perdagangan, dan Satgas Pangan belum terlihat melakukan investigasi mendalam.

‎Bahkan Kepala Bea Cukai Batam, Zaky Firmansyah, belum memberikan jawaban atas konfirmasi yang dilayangkan pewarta terkait maraknya isu dugaan mafia beras tersebut.

‎Keheningan ini menimbulkan pertanyaan besar, Mengapa aktivitas semencurigakan itu tidak mendapatkan respons cepat dari lembaga yang memiliki kewenangan?

Penutup: Investigasi Belum Usai

‎Tim investigasi akan terus memantau perkembangan kasus ini. Pihak media juga akan mengajukan kembali permohonan klarifikasi kepada instansi terkait untuk memastikan bahwa informasi yang beredar tidak dibiarkan menggantung tanpa kepastian.

‎Pergerakan truk dari gudang ke pasar, perubahan merek beras, dan minimnya pengawasan adalah potret masalah yang jauh lebih dalam sebuah persilangan antara celah hukum, potensi kejahatan pangan, dan lemahnya pengawasan.

‎Publik berhak mendapatkan distribusi pangan yang jujur, aman, dan sesuai standar. Penelusuran akan terus berlanjut. (Tim)

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

BP Batam Komitmen Jaga Ketahanan Produksi Air Baku, Antisipasi Dampak El Nino di Waduk Nongsa

9info.co.id | BATAM – Badan Pengusahaan (BP) Batam terus melakukan pemantauan terhadap kondisi seluruh waduk, khususnya Waduk Nongsa yang mengalami penurunan Tinggi Muka Air (TMA).

Berdasarkan pemantauan, TMA Waduk Nongsa berada pada level 5,96 meter. Kondisi ini mendorong BP Batam dan PT ABH melakukan pengaturan pengambilan air baku untuk menjaga ketahanan cadangan air yang tersedia di tengah fenomena El Nino.

Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, memahami keresahan warga Nongsa akibat kondisi tersebut. Ia pun telah menginstruksikan tim untuk turun langsung ke area sekitar waduk guna menindaklanjuti keresahan masyarakat.

“Kami terus memantau kondisi waduk setiap hari. Pengaturan produksi juga terus dilakukan sebagai langkah antisipasi agar cadangan air baku dapat bertahan lebih lama, terutama selama kondisi cuaca masih minim hujan. Pada prinsipnya, kebutuhan masyarakat tetap menjadi perhatian utama kami,” ujarnya, Senin (21/9/2026).

Ia menegaskan bahwa tim BP Batam bersama PT ABH juga telah melakukan suplai air bersih melalui mobil tangki sebagai langkah antisipatif sementara. Terutama bagi wilayah yang alirannya belum terpenuhi secara maksimal.

Di samping itu, solusi lain terhadap permasalahan ini juga telah dilakukan. Salah satunya dengan penguatan suplai ke wilayah Nongsa. Setelah dilakukan pengoperasian sistem pendukung tersebut, aliran suplai ke masyarakat perlahan akan kembali optimal.

Berdasarkan laporan tim, Amsakar menjelaskan bahwa produksi air bersih di Batam secara keseluruhan saat ini masih di atas kebutuhan rata-rata.

Dengan tingkat kehilangan air sekitar 16 persen, volume air yang efektif masuk ke sistem distribusi mencapai sekitar 3.780 Lps. Angka tersebut masih berada di atas kebutuhan rata-rata masyarakat yang mencapai sekitar 3.700 Lps. Dengan demikian, sistem saat ini masih memiliki margin sekitar 80 Lps di atas kebutuhan rata-rata.

Meski demikian, lanjutnya, BP Batam terus memberikan perhatian khusus terhadap wilayah yang sumber air bakunya berasal dari waduk dengan kondisi TMA yang terus dipantau, terutama Nongsa dan Sei Harapan.

“Penurunan tampungan air baku memang terjadi seiring rendahnya intensitas hujan. Kondisi tersebut akan terus kami evaluasi dan sejumlah skenario antisipasi juga telah disiapkan agar kebutuhan masyarakat tidak terganggu,” ujarnya lagi.

Siapkan Sejumlah Skenario Antisipasi

Untuk menghadapi kemungkinan berlanjutnya kondisi minim hujan, BP Batam juga menyiapkan sejumlah langkah antisipasi.

Salah satunya melalui koordinasi tambahan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu meningkatkan potensi hujan di kawasan tangkapan air dan Pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru berkapasitas 50 liter per detik (lps) di Sei Ladi untuk menambah daya dorong dan kontinuitas pasokan air.

BP Batam juga mengkaji pemanfaatan sejumlah embung sebagai sumber alternatif. Beberapa opsi yang disiapkan antara lain memompa air dari embung untuk membantu mengisi waduk terdekat atau membangun fasilitas pengolahan air baru di sekitar embung sehingga air dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem distribusi.

Skenario pengaturan suplai secara bergilir juga menjadi bagian dari opsi yang dikaji. Namun, penerapannya akan mempertimbangkan kondisi jaringan perpipaan dan dampaknya terhadap masyarakat.

“Kami tidak ingin menunggu sampai kondisi menjadi lebih sulit. Oleh karena itu, berbagai skenario sudah kami siapkan dan terus kami evaluasi berdasarkan perkembangan kondisi waduk di lapangan. Kami ingin pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik,” tegas Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano.

Dalam jangka panjang, Denny mengungkapkan bahwa BP Batam juga terus mengembangkan konsep Batam Integrated Total Water Management untuk memperkuat ketahanan air dan mengurangi ketergantungan terhadap sumber air baku konvensional.

Pengembangan sumber air alternatif mencakup pemanfaatan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), air daur ulang, embung, serta pemanfaatan stormwater.

Dalam rencana atau proyeksi ketersediaan sumber air jangka panjang, Denny mengatakan BP Batam menargetkan kontribusi SWRO sebesar 2.500 Lps, air daur ulang 500 Lps, serta pemanfaatan embung dan stormwater sebesar 500 Lps.

Secara teknis, BP Batam juga mengkaji opsi pengembangan waduk laut dan pemanfaatan sumber air dari wilayah sekitar Batam dengan total rencana kapasitas mencapai 3.000 Lps.

Langkah tersebut dipersiapkan untuk menjawab kebutuhan air Batam yang diproyeksikan mencapai 7.149 Lps pada 2045, seiring pertumbuhan penduduk, kawasan hunian, industri, pusat data, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

“Ketahanan air merupakan kebutuhan bersama. Oleh karena itu, BP Batam tidak hanya fokus pada kondisi hari ini, tetapi juga menyiapkan sumber air baru untuk di masa mendatang,” tutup Denny. (DN)

Continue Reading

Berita Lain

Exit mobile version