Connect with us

9info.co.id | BATAM – Ketua Dewan Pembina Relawan Masyarakat Bersatu Gotong Royong (REL-MBG), Dr. Muhammad Qodari, S.Psi., M.A., melakukan kunjungan kerja ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Teluk Tering 1, Kota Batam, Kepulauan Riau, Rabu (12/8/2026).
‎
‎Kunjungan tersebut menjadi bagian dari agenda konsolidasi REL-MBG sekaligus melihat secara langsung kesiapan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah.
‎
‎Muhammad Qodari yang saat ini menjabat Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, disambut Ketua DPW REL-MBG Provinsi Kepulauan Riau, Isye Lombogia, S.Pd., bersama jajaran pengurus dan relawan REL-MBG Kepri.
‎
‎Qodari memang dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah pada April 2026.
‎
‎Kehadiran Qodari di Batam menjadi momentum memperkuat koordinasi antara jajaran pusat dan daerah. Konsolidasi tersebut juga diarahkan agar semangat organisasi setelah pengukuhan tingkat nasional dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata di tengah masyarakat.
‎
‎Dalam kunjungan itu, jajaran REL-MBG meninjau aktivitas SPPG sekaligus berdiskusi mengenai berbagai aspek pelaksanaan program MBG, termasuk pentingnya pemenuhan standar kualitas, kebersihan, keamanan pangan serta kecukupan gizi bagi penerima manfaat.
‎
‎Bagi REL-MBG, SPPG memiliki posisi strategis dalam mendukung keberhasilan MBG karena menjadi salah satu titik penting dalam proses penyediaan makanan bergizi bagi masyarakat penerima manfaat.
‎
‎Ketua DPW REL-MBG Kepri, Isye Lombogia, menegaskan pihaknya siap menjalankan arahan organisasi dan membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat pelaksanaan MBG di Kepulauan Riau.
‎
‎“Kami di Kepri siap bergerak dan membangun kolaborasi. Setelah pengukuhan, tugas kita bukan hanya menjalankan organisasi secara administratif, tetapi bagaimana keberadaan REL-MBG memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Isye.
‎
‎Menurut Isye, keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh tersedianya makanan bagi penerima manfaat. Program tersebut juga memiliki peluang untuk membangun ekosistem ekonomi masyarakat apabila melibatkan pelaku usaha dan pemasok bahan pangan lokal secara optimal.
‎
‎Karena itu, REL-MBG Kepri mendorong keterlibatan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, lembaga pendidikan, UMKM, koperasi, petani, peternak hingga nelayan.
‎
‎“Semangatnya adalah gotong royong. Kita ingin berbagai elemen masyarakat dapat mengambil bagian sehingga program ini tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, tetapi juga memberikan efek ekonomi bagi masyarakat,” katanya.

 

Ketua DPW REL-MBG Kepri, Isye Lombogia,

Konsolidasi REL-MBG di Batam, Qodari Tekankan Pentingnya Penguatan Program MBG di Daerah

‎Dorong MBG Berdampak Luas

‎Kunjungan ke SPPG Teluk Tering juga menjadi bagian dari konsolidasi organisasi REL-MBG di Kepulauan Riau.
‎
‎Batam dinilai memiliki posisi strategis karena merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Kepri sekaligus daerah dengan aktivitas masyarakat yang tinggi.
‎
‎Dalam konteks tersebut, penguatan pelaksanaan MBG di Batam diharapkan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
‎
‎REL-MBG Kepri menyatakan akan terus mendorong kolaborasi antara pemerintah, masyarakat dan pelaku ekonomi lokal agar rantai pasok bahan pangan untuk kebutuhan MBG dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
‎
‎Dengan demikian, MBG tidak hanya dipandang sebagai program pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pemberdayaan masyarakat.
‎
‎Kegiatan kunjungan kerja di SPPG Teluk Tering 1 Kota Batam berlangsung dalam suasana koordinatif dan kekeluargaan.
‎
‎Jajaran REL-MBG Kepri menegaskan komitmennya untuk terus bergerak bersama masyarakat dengan semangat persatuan dan gotong royong dalam mendukung program pemerintah yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Mat.)

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

BP Batam Dorong Data Center Bangun Infrastruktur SWRO, Pasokan Air Masyarakat Terjaga Melalui Waduk

BP Batam Dorong Data Center Bangun Infrastruktur SWRO, Pasokan Air Masyarakat Terjaga Melalui Waduk

9info.co.id | BATAM – Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, mendorong pembangunan instalasi teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau desalinasi air laut untuk menunjang kebutuhan dasar di kawasan industri data centre khususnya Kabil dan KEK Nongsa.

Kebijakan tersebut sejalan dengan komitmen pemenuhan kebutuhan air dalam investasi data centre di Batam yang harus sejalan dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Artinya, pemenuhan kebutuhan air bagi data center akan dipenuhi dengan pembangunan SWRO secara mandiri, tanpa menganggu suplai air waduk bagi masyarakat Kota Batam.

Dari 10 rencana pengembangan Data Centre ke depan, tercatat satu telah beroperasi dan menyambut baik harapan pemerintah untuk pembangunan SWRO secara mandiri. Diikuti dengan Data Centre lainnya yang juga akan mengembangkan skema tersebut.

Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan, setiap investasi data centre wajib membangun instalasi SWRO untuk kebutuhan operasionalnya.

Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya BP Batam memastikan pertumbuhan industri tidak berjalan sendiri, tetapi turut memperhatikan kebutuhan dasar masyarakat.

Menurutnya, kebutuhan air bagi industri tidak boleh sepenuhnya menambah beban terhadap sumber air baku yang selama ini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kota Batam.

“Kita ingin investasi tumbuh, tetapi kebutuhan pendukungnya juga harus dipikirkan. Karena itu, untuk industri yang membutuhkan air dalam jumlah besar, kita dorong adalah bagaimana mereka memiliki sumber air sendiri melalui teknologi SWRO,” katanya di Batam Centre, Rabu (23/9).

Batam disebutkan, dalam dua hingga tiga tahun mendatang diproyeksi akan memiliki peningkatan kapasitas produksi air melalui SWRO sebanyak +- 750 liter/detik pada tahap awal dan terus meningkat pada tahap berikutnya mencapai +- 1.000 liter/detik melalui pembangunan SWRO di dua Kawasan tersebut, yaitu KEK Nongsa dan Kawasan industri Kabil.

“Ini betul-betul komplementer, saling melengkapi antara kebijakan kita dengan kepentingan pelaku usaha, tanpa menganggu kapasitas produksi waduk untuk masyarakat ke depan.” ujarnya.

Peluang untuk Kebutuhan Masyarakat

Keberadaan instalasi SWRO nantinya diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi kebutuhan industri. Investasi ini membuka peluang menjaga ketahanan air bersih bagi kebutuhan rumah tangga.

Apabila kapasitas air hasil pengolahan nantinya melebihi kebutuhan operasional data center, kelebihan kapasitas tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat.

Namun, pemanfaatannya tetap akan memperhatikan beberapa aspek, antara lain kapasitas produksi, kualitas air hasil pengolahan dan kesiapan jaringan distribusi.

Amsakar berharap, pendekatan tersebut dapat menjadi upaya strategis dalam mencari sumber air baru seiring meningkatnya kebutuhan Batam sebagai kawasan investasi dan perkotaan.

“Jadi bukan hanya industrinya yang kita pikirkan. Kita juga melihat bagaimana investasi ini bisa memberikan manfaat yang lebih luas. Kalau kapasitasnya memungkinkan dan infrastrukturnya siap, tentu ada peluang untuk dimanfaatkan bagi masyarakat,” serunya.

Keberadaan data centre merupakan salah satu sektor strategis untuk mempekuat struktur ekonomi Batam di masa depan. Kehadirannya diharapkan memicu pertumbuhan sektor konstruksi, tenaga kerja profesional dan sektor pendukung lainnya yang dapat memberikan multiplier effect bagi ekonomi lokal.(AG).

Continue Reading

Berita Lain