Connect with us

9info.co.id | BATAM – Ketua Kelompok Diskusi Anti 86 (Kodat86), Cak Ta’in Komari SS, secara resmi melaporkan anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau dari Partai NasDem, Li Khai, kepada Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh. Laporan tersebut disampaikan pada Sabtu, 12 April 2025, sebagai bentuk protes atas dugaan keterlibatan Li Khai dalam penimbunan Sungai Kezia di kawasan Baloi, Kota Batam.

Menurut Cak Ta’in, tindakan tersebut bukan hanya berpotensi merusak lingkungan, tetapi juga menyakiti hati masyarakat Batam, khususnya warga yang terdampak langsung. Ia juga menyayangkan sikap tim hukum DPP Partai NasDem yang justru membela tindakan Li Khai dan menyebut penimbunan itu sebagai bentuk normalisasi sungai.

“Ini jelas menyakiti hati masyarakat Batam, apalagi fakta diputarbalikkan seolah bukan penimbunan, padahal jelas-jelas itu merusak aliran sungai,” tegas Cak Ta’in saat diwawancarai media, Senin (14/4).

Ia menilai pembelaan tim hukum tersebut justru semakin memperjelas dugaan keterlibatan Li Khai dalam pelanggaran hukum. Menurutnya, jika itu murni normalisasi, maka tidak seharusnya seorang anggota dewan turut campur langsung dalam pekerjaan teknis.

Lebih jauh, Cak Ta’in menjelaskan bahwa penggunaan alat berat milik Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BM-SDA) Kota Batam atas perintah Li Khai merupakan bentuk penyalahgunaan wewenang. Tindakan tersebut dinilai melanggar Pasal 2 dan 3 UU Tindak Pidana Korupsi karena ada dugaan pemanfaatan jabatan untuk kepentingan pribadi atau pihak lain.

“Ini bukan persoalan ringan. Ada tiga aspek hukum yang dilanggar, yakni UU Lingkungan Hidup, UU Tata Ruang, dan UU Tipikor,” ungkapnya.

Diketahui, pihak Dinas BM-SDA Kota Batam telah memberikan keterangan bahwa pekerjaan penimbunan tersebut memang dilakukan oleh Li Khai, bahkan menggunakan excavator milik Pemko Batam. Saat ini, penyidik Polda Kepri tengah melakukan pemeriksaan terhadap semua pihak yang terlibat dalam kasus tersebut.

“Ketum NasDem harus tahu persoalan ini dengan jelas. Ini bukan soal politik, tapi soal hukum dan tanggung jawab moral kepada masyarakat,” ujar Cak Ta’in.

Dalam surat laporannya kepada Surya Paloh, Cak Ta’in menegaskan bahwa kasus tersebut sudah cukup menjadi dasar untuk memberhentikan Li Khai dari keanggotaan partai. Ia juga mengingatkan pentingnya sikap netral dari pimpinan partai agar proses hukum berjalan tanpa tekanan politik.

“Netralitas partai penting agar penyidik bisa bekerja maksimal. Kasus ini harus diusut tuntas, dan pelaku penimbunan sungai Kezia harus diadili,” pungkasnya. (TK)

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Pemerintah Perketat Celah Pajak, UMKM Tetap Dapat Insentif Lewat PP Nomor 20 Tahun 2026

Pemerintah Perketat Celah Pajak, UMKM Tetap Dapat Insentif Lewat PP Nomor 20 Tahun 2026

9info.co.id | BATAM – Pemerintah resmi menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2026 yang mengubah sejumlah ketentuan dalam PP Nomor 55 Tahun 2022 tentang Penyesuaian Pengaturan di Bidang Pajak Penghasilan. Regulasi terbaru ini menunjukkan dua pesan penting sekaligus: pemerintah tetap memberikan kemudahan bagi pelaku UMKM melalui tarif Pajak Penghasilan (PPh) Final 0,5 persen, namun pada saat yang sama memperketat berbagai celah yang selama ini berpotensi dimanfaatkan untuk menghindari kewajiban pajak.

‎Kebijakan tersebut ditetapkan Presiden Prabowo Subianto pada 22 April 2026 dan mulai berlaku sejak diundangkan. Pemerintah menilai bahwa fasilitas PPh Final bagi wajib pajak dengan peredaran bruto tertentu masih diperlukan untuk mendukung pertumbuhan usaha kecil dan mendorong masyarakat masuk ke sektor ekonomi formal.

‎Selama beberapa tahun terakhir, skema PPh Final 0,5 persen menjadi salah satu instrumen penting dalam mendorong kepatuhan perpajakan UMKM. Dengan mekanisme yang sederhana, pelaku usaha cukup menghitung pajak berdasarkan omzet tanpa harus melakukan perhitungan laba rugi yang relatif lebih kompleks.

‎Namun dalam praktiknya, pemerintah menemukan adanya potensi penyalahgunaan fasilitas tersebut. Tidak sedikit wajib pajak yang memanfaatkan berbagai bentuk badan usaha untuk tetap menikmati tarif final meskipun secara ekonomi skala usahanya telah melampaui batas yang ditetapkan.

‎Melalui PP Nomor 20 Tahun 2026, pemerintah menegaskan bahwa batas peredaran bruto Rp4,8 miliar tetap menjadi syarat utama untuk memperoleh fasilitas PPh Final 0,5 persen. Akan tetapi, penghitungan batas tersebut kini dilakukan secara lebih komprehensif.

‎Salah satu perubahan penting adalah penggabungan omzet dari wajib pajak orang pribadi dengan seluruh perseroan perorangan yang dimilikinya. Dengan ketentuan baru ini, seseorang tidak lagi dapat mendirikan beberapa perseroan perorangan hanya untuk memecah omzet agar tetap berada di bawah batas Rp4,8 miliar.

‎Jika total omzet gabungan seluruh usaha telah melampaui batas tersebut, maka seluruh entitas yang terkait tidak lagi dapat memanfaatkan skema pajak final UMKM pada tahun-tahun berikutnya.

‎Pemerintah juga memperluas pengawasan melalui penggabungan peredaran bruto dalam lingkup keluarga. Dalam kondisi tertentu, omzet suami dan istri akan dihitung secara bersama untuk menentukan apakah masih memenuhi syarat memperoleh fasilitas PPh Final.

‎Langkah ini dipandang sebagai upaya menciptakan keadilan dalam sistem perpajakan. Wajib pajak yang memiliki kemampuan ekonomi lebih besar diharapkan beralih ke sistem perpajakan normal sehingga kontribusi pajak yang diberikan lebih mencerminkan kapasitas usahanya.

‎Selain memperketat pengawasan, pemerintah juga memberikan kejelasan mengenai profesi yang tidak termasuk dalam kategori usaha yang dapat menggunakan tarif PPh Final UMKM.

‎Sejumlah profesi seperti dokter, akuntan, pengacara, notaris, konsultan, influencer, selebgram, blogger, vlogger, agen asuransi, pelatih, moderator, dan berbagai profesi bebas lainnya ditegaskan tidak termasuk dalam skema tersebut.
‎Penegasan ini sekaligus memberikan kepastian hukum bagi wajib pajak dan petugas pajak dalam menentukan perlakuan perpajakan atas berbagai jenis kegiatan ekonomi yang berkembang di era digital.

‎Meski demikian, pemerintah tetap menjaga keberpihakan kepada UMKM. Tarif PPh Final sebesar 0,5 persen tetap dipertahankan. Bahkan pemerintah memberikan masa transisi bagi sejumlah wajib pajak yang sebelumnya telah menikmati fasilitas tersebut.

‎Wajib pajak orang pribadi yang masa fasilitasnya berakhir pada 2024 diberikan kesempatan untuk tetap menggunakan tarif final hingga tahun pajak 2026 sepanjang masih memenuhi persyaratan. Kebijakan ini diharapkan memberikan waktu yang cukup bagi pelaku usaha untuk mempersiapkan pembukuan dan administrasi perpajakan yang lebih baik.

‎Selain aspek UMKM, PP Nomor 20 Tahun 2026 juga memuat ketentuan baru yang menegaskan bahwa biaya yang berkaitan dengan suap, gratifikasi, dan bentuk pemberian ilegal lainnya tidak dapat dijadikan pengurang penghasilan bruto dalam perhitungan pajak.

‎Ketentuan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat tata kelola perpajakan nasional sekaligus mendukung standar internasional yang direkomendasikan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

‎Secara keseluruhan, PP Nomor 20 Tahun 2026 menunjukkan arah kebijakan pemerintah yang berusaha menjaga keseimbangan antara pemberian kemudahan kepada pelaku usaha kecil dan peningkatan kepatuhan perpajakan. UMKM tetap memperoleh dukungan melalui tarif yang sederhana dan ringan, sementara berbagai celah yang berpotensi mengurangi penerimaan negara mulai ditutup secara bertahap.

‎Bagi pelaku usaha, regulasi ini menjadi pengingat bahwa fasilitas perpajakan diberikan untuk membantu pertumbuhan usaha, bukan untuk dimanfaatkan sebagai sarana menghindari kewajiban pajak. Dengan sistem yang semakin transparan dan adil, pemerintah berharap basis perpajakan nasional dapat semakin kuat dan mampu mendukung pembangunan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.

Penulis:

‎Mortigor Afrizal Purba, S.E.Ak., M.Ak., C.A., ASEAN CPA
‎Pimpinan Kantor Jasa Akuntan Mortigor Afrizal Purba sekaligus Dosen Akuntansi dan Perpajakan di Universitas Putera Batam

Continue Reading
Kolom Iklan

Berita Lain