Connect with us

9info.co.id | BATAM – Sengketa pemutusan hubungan kerja (PHK) antara manajemen PT Metro Puri Harmoni (Harmoni Suites Hotel) dengan delapan pekerjanya kembali mencuat dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi IV DPRD Batam, Jumat (15/08/2025). Hingga kini, polemik tersebut belum menemukan titik temu meski telah melewati proses mediasi tripartit di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Batam.

Dalam rapat itu, pihak manajemen diwakili oleh Kantor Advokat dan Konsultan Hukum Cakrawala Justice Law Firm, Amsal Sulaiman Lumbangaol dan Aksa. Sementara dari pihak pekerja hadir Ketua Federasi Serikat Pekerja Pariwisata SPSI, Subri Wijonarko, bersama delapan pekerja terdampak.

Subri menegaskan, PHK yang dilakukan perusahaan cacat prosedur dan sarat dugaan pelanggaran hukum ketenagakerjaan. Menurutnya, penutupan hotel pada 16 Mei 2025 terjadi sehari setelah serikat mengeluarkan surat mogok kerja. “Pengusaha hanya menerbitkan surat yang menyatakan perusahaan tutup tanpa penjelasan layak kepada pekerja. Kami melihat ini bentuk arogansi dan sikap semena-mena yang melanggar UU Nomor 13 Tahun 2003, khususnya Pasal 146 terkait pemberitahuan PHK minimal tujuh hari sebelumnya,” tegas Subri.

Ia juga menyebut, kondisi perusahaan sebenarnya sehat karena mampu membayar upah tepat waktu dan tingkat hunian hotel stabil di kisaran 60–75 persen. “PHK ini kami duga kuat bermotif pemberangusan serikat pekerja,” tambahnya.

Pihak pekerja menolak pesangon yang hanya diberikan satu kali ketentuan dan mendesak agar diprioritaskan kembali bekerja jika hotel beroperasi lagi. Namun, manajemen menolak tuntutan itu. “Kami sudah memenuhi kewajiban dengan membayar gaji hingga 2 Juni 2025 dan memberikan pesangon sesuai aturan. Tuntutan tambahan tidak bisa kami penuhi,” ujar perwakilan manajemen.

Amori dari Disnaker Batam menyatakan pihaknya telah memberikan anjuran damai. “Jika tidak ada kesepakatan, jalur Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) bisa ditempuh,” jelasnya.

Ketua Komisi IV DPRD Batam, Dandis Rajagukguk, meminta kedua belah pihak mengedepankan musyawarah. “Kami harap penyelesaian ini benar-benar adil, tidak ada yang merasa dirugikan,” ujarnya didampingi Wakil Ketua Tapis Dabbal Siahaan dan anggota Novelin Fortuna Sinaga.

Hingga berita ini diturunkan, kedelapan pekerja bersama serikatnya tetap konsisten memperjuangkan hak normatif mereka, sementara manajemen bertahan pada posisi bahwa seluruh kewajiban perusahaan sudah dipenuhi sesuai ketentuan.(RP)

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Dukung Kebutuhan Data Centre, Citramas Group Investasi Rp 600 Miliar Bangun SWRO Kabil

Dukung Kebutuhan Data Centre, Citramas Group Investasi Rp 600 Miliar Bangun SWRO Kabil

9info.co.id | BATAM – Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menghadiri Groundbreaking pembangunan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Kabil, Kamis (5/11/2026).

Pembangunan SWRO tahap pertama ini merupakan komitmen investasi dari Citramas Group dengan nilai proyek sebesar USD 32,8 juta atau sekitar Rp 600 miliar.

Amsakar menjelaskan, pembangunan SWRO Kabil ini akan berlangsung dalam dua tahapan. Tahap pertama ini memiliki kapasitas produksi sebesar 300 lps. Pembangunan akan berlanjut untuk tahap kedua dengan kapasitas produksi 400 lps.

Kehadiran fasilitas pendukung investasi ini, lanjut Amsakar, merupakan langkah strategis dalam memperkuat pasokan air untuk proyek Data Centre dan Kawasan Terintegrasi di dalamnya.

Menurutnya, pembangunan ini tidak hanya menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek kemajuan Batam, tetapi juga menjadi kontribusi dunia usaha dalam memperkuat kesiapan infrastruktur investasi.

“Kami mengapresiasi langkah Citramas yang telah mengambil bagian dalam memperhatikan pasokan air di Batam. Ini merupakan komitmen investasi yang patut kita dukung bersama karena kebutuhan air menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan industri, termasuk pengembangan Data Centre di Batam,” ujar Amsakar.

Ia berharap, investasi tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan kawasan industri sekaligus memperkuat daya saing Batam sebagai tujuan investasi.

Pembangunan ini juga menjawab tantangan pasokan air untuk pengembangan investasi Data Centre ke depannya.

“Investasi tidak hanya berbicara tentang pembangunan fasilitas usaha, tetapi juga bagaimana kita memastikan infrastruktur pendukungnya tersedia dengan baik. Ketersediaan air yang memadai akan memberikan kepastian bagi pelaku usaha untuk mengembangkan kegiatan investasinya. Karena itu, sinergi seperti ini perlu terus kita perkuat,” tambahnya.

Sementara itu, kebutuhan air untuk kawasan Kabil Industrial Estate (KIE) dan Nongsa Digital Park (NDP) selama ini telah mendapat dukungan dari pembangunan embung mandiri yang berada di wilayah Kabil. Embung tersebut memiliki kapasitas sekitar 5.200 meter kubik per hari (60,2 lps) untuk mendukung kebutuhan air di kawasan tersebut.

Selain pembangunan SWRO, Citramas Group tengah mempercepat pembangunan embung di wilayah Nongsa Digital Park. Upaya ini menjadi bagian dari penguatan infrastruktur air untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan seiring dengan berkembangnya aktivitas industri dan investasi di kawasan Nongsa.

BP Batam memandang pengembangan infrastruktur air melalui investasi dan penyediaan fasilitas pendukung secara berkelanjutan sebagai langkah penting dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif.

“Melalui kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha, Batam diharapkan semakin siap memenuhi kebutuhan infrastruktur dasar, memberikan kepastian bagi investor, serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat. Dan pembangunan ini harus kita dukung agar tidak ada kendala dan dapat terselesaikan sampai waktu yang telah ditentukan,” tutup Amsakar.

Senada, CEO Citramas Group, Michael Wiluan, menambahkan bahwa pihaknya menyadari keberhasilan pengembangan Data Centre bergantung pada ketersediaan infrastruktur dasar yang andal. Khususnya pasokan air bagi keberlangsungan industri.

Pembangunan SWRO Kabil ini, lanjutnya, menjadi salah satu langkah strategis agar pertumbuhan investasi digital tersebut dapat terealisasi optimal.

Di samping SWRO, Citramas juga telah memastikan pasokan energi lain seperti listrik dan konektivitas internet dengan beberapa mitra strategis serta instansi terkait dapat tercukupi.

“Kami hari ini akan memulai tahapan pembangunan fasilitas SWRO 300 lps tahap pertama dengan target operasi hingga November 2027 dari total rencana kapasitas 700 lps. Pembangunan ini sekaligus menjadi bagian komitmen kami untuk membangun kawasan industri yang tidak hanya kompetitif tapi ikut bertanggung jawab terhadap pengelolaan infrastruktur pendukung investasi,” tegas Michael Wiluan.

Michael menjelaskan bahwa selama ini Citramas Group juga telah menggarap suplai air bersih untuk kebutuhan Kawasan Kabil dan Nongsa secara mandiri sejak tahun 1992 melalui ketersediaan embung seluas 4 hektare di dalam kawasan Kabil.

Saat ini, lanjut Michael, produksi air bersih tersebut mencapai 5.200 meter kubik per hari (60,2 Lps). Dan pada awal tahun 2027, kapasitas tersebut akan ditingkatkan menjadi 10.000 meter kubik per hari (atau setara dengan 115,74 Lps), melalui penambahan embung baru di Nongsa serta proses daur ulang air limbah industri.

“Kami turut mengapresiasi dukungan BP Batam terhadap pertumbuhan investasi. Kami ingin agar pembangunan ini dapat berjalan lancar hingga waktu yang ditargetkan,” pungkasnya. (DN)

Continue Reading

Berita Lain