Connect with us

9info.co.id | BATAM – Meninggalnya Dewi Sartika Sitinjak, pasien Rumah Sakit Awal Bros Botania, Batam Centre, mendapat perhatian dari kalangan legislatif Kota Batam.

‎Anggota Komisi IV DPRD Kota Batam, Novelin Fortuna Sinaga, SH, menyampaikan duka mendalam sekaligus keprihatinan atas meninggalnya Dewi Sitinjak.

‎Ia meminta agar penanganan kasus tersebut dilakukan secara transparan dan mengedepankan kepastian fakta serta proses hukum.

‎“Saya atas nama pribadi menyampaikan duka mendalam dan rasa kecewa yang amat besar atas wafatnya kerabat kita akibat dugaan kesalahan prosedur penanganan medis,” ujar Novelin.

‎Politisi Partai Golkar tersebut menegaskan, keluarga korban berhak memperoleh penjelasan secara menyeluruh mengenai kondisi pasien sejak mendapatkan penanganan medis hingga akhirnya meninggal dunia.

‎Menurutnya, transparansi menjadi hal penting agar tidak muncul berbagai spekulasi di tengah keluarga maupun masyarakat.

‎“Kami menuntut transparansi penuh, rekam medis yang utuh, serta pertanggungjawaban moral dan hukum dari pihak-pihak terkait,” tegasnya.

‎Novelin mengatakan, pihak keluarga juga telah menyerahkan penanganan perkara tersebut kepada tim kuasa hukumnya. Ia berharap seluruh proses pengusutan dapat dilakukan secara objektif untuk mengetahui penyebab meninggalnya Dewi Sitinjak.

‎“Kami menyerahkan penanganan perkara ini kepada tim kuasa hukum keluarga Almarhum untuk mengusut tuntas penyebab kematian agar keadilan dapat ditegakkan dan kejadian serupa tidak terulang pada pasien lain,” katanya.

‎Lebih lanjut, Novelin menegaskan DPRD Kota Batam, khususnya Komisi IV, siap mengawal persoalan tersebut sesuai dengan kewenangan legislatif.

‎Ia bahkan menyebut, kemungkinan besar akan dilakukannya Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan menghadirkan pihak rumah sakit serta keluarga korban untuk memperoleh penjelasan secara langsung.

‎“Dan kami dari DPRD, khususnya Komisi IV, siap untuk mengawal kasus ini. Kami juga siap melakukan RDP dengan memanggil pihak rumah sakit dan keluarga korban untuk menangani persoalan ini,” ujar Novelin.

‎Menurutnya, langkah tersebut diperlukan agar persoalan meninggalnya Dewi Sitinjak dapat memperoleh titik terang.

‎DPRD, kata dia, akan berupaya memastikan hak keluarga untuk mendapatkan informasi dan kejelasan terkait proses penanganan medis yang telah dijalani korban.

‎Kasus ini kini menjadi perhatian keluarga dan publik. Berbagai pihak diharapkan dapat menahan diri dan memberikan ruang bagi proses pemeriksaan serta pengusutan untuk berjalan secara objektif.

‎DPRD Kota Batam juga diharapkan dapat menjalankan fungsi pengawasan dengan memanggil pihak-pihak terkait apabila RDP nantinya dilaksanakan, sehingga seluruh informasi mengenai kasus tersebut dapat didengar secara berimbang dari pihak rumah sakit maupun keluarga korban.

‎Hingga proses klarifikasi dan pemeriksaan selesai, penyebab pasti meninggalnya Dewi Sitinjak serta ada atau tidaknya pelanggaran dalam penanganan medis merupakan hal yang perlu dibuktikan melalui mekanisme pemeriksaan dan proses hukum yang berlaku. (Mat)

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Mitigasi Fenomena El Nino, BP Batam Siapkan 4 Langkah Antisipatif

Mitigasi Fenomena El Nino, BP Batam Siapkan 4 Langkah Antisipatif

9info.co.id | BATAM – Badan Pengusahaan (BP) Batam terus memaksimalkan pengelolaan air bersih sebagai langkah antisipasi menghadapi dampak El Nino dan puncak musim kemarau 2026. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen BP Batam guna memastikan kebutuhan dasar masyarakat terhadap air bersih tetap terpenuhi.

Berdasarkan informasi BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada periode Juli hingga September 2026, dengan puncak tertinggi diperkirakan terjadi pada Agustus. Sementara itu, berdasarkan analisis perkembangan musim kemarau pada Dasarian II Juli 2026, sebanyak 72,8 persen wilayah Indonesia atau 509 Zona Musim telah memasuki musim kemarau.

Kondisi tersebut turut meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Batam dan Provinsi Kepulauan Riau.

Badan Usaha Sistem Penyediaan Air Minum (BU SPAM) BP Batam dan PT Air Batam Hilir (ABH) pun menaruh perhatian serius terhadap potensi ini, mengingat waduk merupakan sumber utama air baku untuk mendukung kebutuhan air di Batam.

Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan bahwa kesiapsiagaan dalam menghadapi perubahan kondisi iklim ini harus dilakukan sejak dini.

“Air merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus terpenuhi. Untuk itu, BP Batam terus melakukan pemantauan terhadap kondisi air bersih dan mengoptimalkan pengelolaan yang ada agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik, terutama ketika kita menghadapi periode kemarau,” ujar Denny, Selasa (11/8/2026).

Sebagai bagian dari mitigasi, lanjut Denny, BP Batam menyiapkan empat langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan air baku.

Pertama, BP Batam bersama PT ABH terus melakukan pemantauan terhadap kondisi air baku secara real-time. Data pemantauan level dan kondisi air tersebut menjadi salah satu dasar bagi pengelola dalam menentukan langkah operasional, termasuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan air baku, kapasitas produksi, dan kebutuhan masyarakat.

Kedua, BP Batam terus mengoptimalkan sistem interkoneksi jaringan antar waduk untuk mendukung distribusi air baku bagi wilayah yang terdampak penurunan debit air baku.

Ketiga, selain aspek teknis, BP Batam berupaya untuk memaksimalkan program reboisasi serta pelindungan dan pelestarian Daerah Tangkapan Air (DTA). Langkah tersebut antara lain dilakukan melalui penguatan kepedulian terhadap kawasan resapan, penghijauan, serta pencegahan aktivitas yang berpotensi mengurangi fungsi kawasan sebagai daerah tangkapan air.

Terakhir, BP Batam juga terus mendorong pengembangan infrastruktur penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang. Selain optimalisasi infrastruktur eksisting, BP Batam juga menyiapkan berbagai opsi pengembangan sumber air, termasuk pemanfaatan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) sebagai salah satu alternatif pengolahan air laut untuk memperkuat ketahanan air pada masa mendatang.

“Menjaga sumber air tidak cukup hanya dengan membangun dan memelihara infrastruktur. Kita juga harus menjaga lingkungan di sekitar sumber air. Ini merupakan tanggung jawab bersama karena keberlanjutan air Batam sangat bergantung pada bagaimana kita menjaga alam hari ini,” pesannya.

Di sisi lain, BP Batam mengajak masyarakat untuk ikut berperan menjaga ketahanan air dengan menggunakan air secara bijak.

Menurut Denny, upaya pemerintah dan pengelola infrastruktur air akan semakin efektif apabila diikuti dengan kesadaran masyarakat dalam menghemat penggunaan air di tingkat rumah tangga.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat antara lain:

  1. Menggunakan air sesuai kebutuhan dan mematikan keran ketika tidak digunakan;
  2. Memeriksa instalasi air secara berkala untuk memastikan tidak terjadi kebocoran;
  3. Mengurangi penggunaan air untuk kebutuhan sekunder selama periode kemarau atau cuaca kering;
  4. Menjaga lingkungan dan kawasan tangkapan air, termasuk tidak membuang puntung rokok atau melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di sekitar kawasan vegetasi.

“Kami mengajak masyarakat untuk menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan air Batam. Tidak harus dengan langkah yang besar. Menggunakan air seperlunya, memastikan tidak ada kebocoran di rumah, dan mematikan keran ketika tidak digunakan merupakan langkah sederhana yang dampaknya sangat berarti apabila dilakukan bersama-sama,” pungkasnya. (DN)

 

Continue Reading

Berita Lain