Connect with us

9info.co.id | BATAM – Dugaan keberadaan utilitas bawah tanah yang selama ini dikenal masyarakat sebagai “Pipa Hantu” di lokasi Proyek Peningkatan Drainase Jalan S. Parman, Kecamatan Sei Beduk, Kota Batam, kini memasuki babak baru.

Aliansi Masyarakat Sei Beduk Peduli (AMSBP) secara resmi menyampaikan laporan pengaduan masyarakat kepada Kejaksaan Negeri Batam pada Kamis (30/7/2026). Laporan tersebut meminta aparat penegak hukum melakukan penelusuran terhadap dugaan keberadaan pipa utilitas berdiameter besar yang melintas tepat di jalur pembangunan drainase tanpa identitas maupun penanda kepemilikan yang jelas.

Koordinator AMSBP, Haris, mengatakan aliansi tersebut dibentuk sebagai wadah partisipasi masyarakat dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan pembangunan, penggunaan anggaran daerah, serta perlindungan lingkungan di wilayah Kecamatan Sei Beduk.

“Aliansi ini kami bentuk sebagai wadah masyarakat untuk menjalankan fungsi sosial kontrol terhadap kebijakan publik dan pembangunan. Saat ini AMSBP masih bersifat Ad Hoc Committee (HOC) karena kami menilai keterlibatan masyarakat sangat penting untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai aturan dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” ujar Haris.

Menurutnya, laporan yang disampaikan merupakan tindak lanjut atas temuan lapangan yang sebelumnya telah dipublikasikan oleh sejumlah media dan menjadi perhatian masyarakat.

Haris menegaskan bahwa AMSBP mendukung seluruh program pembangunan pemerintah. Namun, menurutnya, setiap pekerjaan yang menggunakan anggaran negara harus dilaksanakan sesuai dokumen perencanaan, spesifikasi teknis, serta ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Kami mendukung pembangunan. Namun kami berharap seluruh pekerjaan dilaksanakan sesuai Detail Engineering Design (DED), spesifikasi teknis, dan aturan yang berlaku sehingga anggaran yang bersumber dari APBD benar-benar tepat sasaran, efektif, transparan, dan akuntabel,” tegasnya.

Soroti Dugaan “Pipa Hantu”

Dalam laporan tersebut, AMSBP menguraikan sejumlah temuan yang dinilai perlu mendapat perhatian aparat penegak hukum.

Salah satu poin utama ialah dugaan keberadaan pipa utilitas berdiameter besar yang melintas tepat di bawah jalur pembangunan drainase, namun hingga kini belum diketahui secara pasti status kepemilikan maupun legalitasnya.

Menurut AMSBP, berdasarkan informasi yang mereka himpun, utilitas tersebut diduga belum terlihat tercantum dalam Detail Engineering Design (DED) maupun peta utilitas yang menjadi acuan pelaksanaan pekerjaan.

Selain itu, hasil pemantauan di lapangan menunjukkan pipa tersebut terus mengalirkan air meskipun tidak sedang terjadi hujan.

Apabila aliran tersebut berasal dari aktivitas tertentu, AMSBP menilai kondisi tersebut perlu dikaji secara teknis karena berpotensi memengaruhi kapasitas saluran drainase dalam menampung limpasan air hujan serta efektivitas fungsi pengendalian banjir yang menjadi tujuan pembangunan proyek.

AMSBP juga mencatat telah terjadi beberapa kali kerusakan jaringan air bersih di lokasi yang sama sehingga harus dilakukan perbaikan dan relokasi jaringan secara berulang.

Menurut AMSBP, kondisi tersebut berpotensi mengganggu pelayanan air bersih kepada masyarakat sekaligus memengaruhi efisiensi pelaksanaan pekerjaan konstruksi.
Minta Kejaksaan Lakukan Pemeriksaan Menyeluruh

Melalui laporannya, AMSBP meminta Kejaksaan Negeri Batam, khususnya melalui Tim Pengamanan Pembangunan Strategis (PPS), melakukan inspeksi lapangan dan pemeriksaan menyeluruh terhadap proyek tersebut.

Pemeriksaan yang diminta meliputi kesesuaian pekerjaan dengan DED, shop drawing, as-built drawing, spesifikasi teknis, hingga dokumen kontrak pekerjaan.

Selain itu, AMSBP meminta dilakukan verifikasi terhadap legalitas pipa utilitas beserta dokumen perizinannya, termasuk izin penempatan utilitas maupun izin crossing apabila dipersyaratkan oleh ketentuan yang berlaku.

AMSBP juga meminta Kejaksaan memanggil dan meminta klarifikasi kepada seluruh pihak terkait, mulai dari instansi pemerintah, pemilik utilitas, konsultan perencana, konsultan pengawas, hingga kontraktor pelaksana.

Tidak hanya itu, AMSBP berharap dilakukan evaluasi apakah keberadaan utilitas tersebut telah sesuai dengan dokumen perencanaan, memenuhi standar teknis, serta apakah berdampak terhadap kualitas pekerjaan, efektivitas penggunaan APBD, maupun berpotensi menimbulkan kerugian keuangan daerah.

Apabila dalam proses pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran administrasi, pelanggaran teknis, maupun indikasi tindak pidana, AMSBP meminta agar penanganan dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Sebagai bahan pendukung laporan, AMSBP turut melampirkan dokumentasi foto dan video kondisi di lapangan, dokumentasi kerusakan serta relokasi jaringan air bersih, titik koordinat lokasi, salinan pemberitaan media, dan sejumlah dokumen pendukung lainnya.
Minta Evaluasi Dilakukan Secara Adil

Koordinator AMSBP lainnya, Pakpahan, yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah Sei Beduk, menilai persoalan tersebut perlu dikaji secara objektif demi kepentingan masyarakat dan lingkungan.

“Kami berharap dilakukan evaluasi teknis secara objektif. Ketika masyarakat yang terdampak pelebaran drainase harus mematuhi ketentuan yang berlaku, maka seluruh utilitas yang berada di lokasi proyek juga harus dievaluasi secara adil sesuai aturan. Jangan sampai muncul kesan adanya perlakuan yang berbeda terhadap objek yang sama,” ujarnya.

Laporan AMSBP diterima langsung oleh Muhammad Arfian, S.H., M.Kn. Kejari Batam Siap Turun ke Lapangan

Dalam kesempatan tersebut, Arfian menyampaikan apresiasi atas partisipasi masyarakat dalam mengawal pelaksanaan pembangunan pemerintah.

“Terima kasih atas informasi yang telah disampaikan. Sebelumnya kami memang belum menerima informasi awal mengenai persoalan ini. Untuk proyek tersebut memang sudah pernah kami lakukan peninjauan. Insyaallah hari Senin kami akan berupaya turun kembali ke lapangan,” katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa Kejaksaan akan memanggil pihak-pihak terkait agar persoalan tersebut dapat diperjelas.

“Kami akan mengundang seluruh pihak terkait agar persoalan ini dapat dibuka secara terang sehingga diperoleh penjelasan yang objektif tanpa mengganggu pelaksanaan proyek pemerintah.”

Menurut Arfian, keterbukaan terhadap laporan masyarakat merupakan bagian dari komitmen Kejaksaan dalam mengawal pembangunan.

“Surat resminya bahkan belum kami terima sepenuhnya, tetapi kami sudah langsung menerima dan mengundang rekan-rekan untuk berdiskusi. Ini merupakan bentuk keterbukaan kami terhadap partisipasi masyarakat,” ujarnya.
Bentuk Partisipasi Masyarakat

AMSBP menegaskan bahwa penyampaian laporan tersebut merupakan bentuk partisipasi masyarakat sebagaimana dijamin dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, serta sejalan dengan prinsip good governance dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Pelaksanaan proyek pemerintah juga harus mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2021, yang menekankan prinsip efisien, efektif, transparan, terbuka, bersaing, adil, dan akuntabel.

Selain itu, pembangunan infrastruktur wajib memenuhi standar sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi, sehingga setiap pekerjaan harus dilaksanakan sesuai dokumen perencanaan, spesifikasi teknis, serta menjamin mutu dan keselamatan konstruksi.

Di akhir keterangannya, Haris menyampaikan apresiasi kepada Kejaksaan Negeri Batam yang telah menerima laporan AMSBP dan merespons cepat aspirasi masyarakat.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Kejaksaan Negeri Batam atas keterbukaan dan kesediaannya menerima laporan masyarakat. Kami berharap proses yang dilakukan dapat memberikan kepastian hukum, kepastian teknis, serta meningkatkan transparansi pelaksanaan proyek pemerintah sehingga hasil pembangunan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dan penggunaan keuangan daerah tetap akuntabel,” pungkas Haris. (Red.)

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Dukung Kebutuhan Data Centre, Citramas Group Investasi Rp 600 Miliar Bangun SWRO Kabil

Dukung Kebutuhan Data Centre, Citramas Group Investasi Rp 600 Miliar Bangun SWRO Kabil

9info.co.id | BATAM – Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menghadiri Groundbreaking pembangunan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Kabil, Kamis (5/11/2026).

Pembangunan SWRO tahap pertama ini merupakan komitmen investasi dari Citramas Group dengan nilai proyek sebesar USD 32,8 juta atau sekitar Rp 600 miliar.

Amsakar menjelaskan, pembangunan SWRO Kabil ini akan berlangsung dalam dua tahapan. Tahap pertama ini memiliki kapasitas produksi sebesar 300 lps. Pembangunan akan berlanjut untuk tahap kedua dengan kapasitas produksi 400 lps.

Kehadiran fasilitas pendukung investasi ini, lanjut Amsakar, merupakan langkah strategis dalam memperkuat pasokan air untuk proyek Data Centre dan Kawasan Terintegrasi di dalamnya.

Menurutnya, pembangunan ini tidak hanya menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek kemajuan Batam, tetapi juga menjadi kontribusi dunia usaha dalam memperkuat kesiapan infrastruktur investasi.

“Kami mengapresiasi langkah Citramas yang telah mengambil bagian dalam memperhatikan pasokan air di Batam. Ini merupakan komitmen investasi yang patut kita dukung bersama karena kebutuhan air menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan industri, termasuk pengembangan Data Centre di Batam,” ujar Amsakar.

Ia berharap, investasi tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan kawasan industri sekaligus memperkuat daya saing Batam sebagai tujuan investasi.

Pembangunan ini juga menjawab tantangan pasokan air untuk pengembangan investasi Data Centre ke depannya.

“Investasi tidak hanya berbicara tentang pembangunan fasilitas usaha, tetapi juga bagaimana kita memastikan infrastruktur pendukungnya tersedia dengan baik. Ketersediaan air yang memadai akan memberikan kepastian bagi pelaku usaha untuk mengembangkan kegiatan investasinya. Karena itu, sinergi seperti ini perlu terus kita perkuat,” tambahnya.

Sementara itu, kebutuhan air untuk kawasan Kabil Industrial Estate (KIE) dan Nongsa Digital Park (NDP) selama ini telah mendapat dukungan dari pembangunan embung mandiri yang berada di wilayah Kabil. Embung tersebut memiliki kapasitas sekitar 5.200 meter kubik per hari (60,2 lps) untuk mendukung kebutuhan air di kawasan tersebut.

Selain pembangunan SWRO, Citramas Group tengah mempercepat pembangunan embung di wilayah Nongsa Digital Park. Upaya ini menjadi bagian dari penguatan infrastruktur air untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan seiring dengan berkembangnya aktivitas industri dan investasi di kawasan Nongsa.

BP Batam memandang pengembangan infrastruktur air melalui investasi dan penyediaan fasilitas pendukung secara berkelanjutan sebagai langkah penting dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif.

“Melalui kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha, Batam diharapkan semakin siap memenuhi kebutuhan infrastruktur dasar, memberikan kepastian bagi investor, serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat. Dan pembangunan ini harus kita dukung agar tidak ada kendala dan dapat terselesaikan sampai waktu yang telah ditentukan,” tutup Amsakar.

Senada, CEO Citramas Group, Michael Wiluan, menambahkan bahwa pihaknya menyadari keberhasilan pengembangan Data Centre bergantung pada ketersediaan infrastruktur dasar yang andal. Khususnya pasokan air bagi keberlangsungan industri.

Pembangunan SWRO Kabil ini, lanjutnya, menjadi salah satu langkah strategis agar pertumbuhan investasi digital tersebut dapat terealisasi optimal.

Di samping SWRO, Citramas juga telah memastikan pasokan energi lain seperti listrik dan konektivitas internet dengan beberapa mitra strategis serta instansi terkait dapat tercukupi.

“Kami hari ini akan memulai tahapan pembangunan fasilitas SWRO 300 lps tahap pertama dengan target operasi hingga November 2027 dari total rencana kapasitas 700 lps. Pembangunan ini sekaligus menjadi bagian komitmen kami untuk membangun kawasan industri yang tidak hanya kompetitif tapi ikut bertanggung jawab terhadap pengelolaan infrastruktur pendukung investasi,” tegas Michael Wiluan.

Michael menjelaskan bahwa selama ini Citramas Group juga telah menggarap suplai air bersih untuk kebutuhan Kawasan Kabil dan Nongsa secara mandiri sejak tahun 1992 melalui ketersediaan embung seluas 4 hektare di dalam kawasan Kabil.

Saat ini, lanjut Michael, produksi air bersih tersebut mencapai 5.200 meter kubik per hari (60,2 Lps). Dan pada awal tahun 2027, kapasitas tersebut akan ditingkatkan menjadi 10.000 meter kubik per hari (atau setara dengan 115,74 Lps), melalui penambahan embung baru di Nongsa serta proses daur ulang air limbah industri.

“Kami turut mengapresiasi dukungan BP Batam terhadap pertumbuhan investasi. Kami ingin agar pembangunan ini dapat berjalan lancar hingga waktu yang ditargetkan,” pungkasnya. (DN)

Continue Reading

Berita Lain