Connect with us

9info.co.id | BATAM – Kebisuan pejabat publik di tengah maraknya kekerasan dan pelanggaran hukum adalah pertanda bahaya. Camat Batu Aji, Kota Batam, didapati tidak memberikan respons sama sekali atas permintaan konfirmasi dan data resmi dari Sentralnews.com terkait legalitas dan pengawasan puluhan kafe di wilayahnya. Keheningan ini terjadi ketika bukti-bukti tindak kriminal di balik pintu kafe-kafe tersebut terus menumpuk dan meneror warga.

Surat resmi bernomor 100/SN-INV/I/2026 yang dilayangkan sejak 6 Januari 2026 dan ditembuskan ke Kapolsek serta Satpol PP Kota Batam, hingga kini tak juga dijawab. Pertanyaan kritis tentang jumlah kafe berizin, mekanisme pengawasan, dan langkah penindakan terhadap kafe yang diduga menjadi sarang peredaran miras ilegal, narkoba, hingga eksploitasi manusia tenggelam dalam kesunyian.

Wajah Buram Hiburan Malam: Dari Pengeroyokan Hingga Dugaan Eksploitasi

Sementara pemerintah kecamatan Batu Aji memilih diam, penderitaan warga dan korban justru berbicara nyata. Berikut fakta-fakta kelam yang terungkap:

1. Pengeroyokan Brutal di Cafe Deagon (Februari 2025): Seorang pemuda, Bagus Harahap (22), menjadi korban pengeroyokan hingga terluka. Kasus ini diungkap Unit Reskrim Polsek Batu Aji.

2. Dugaan Keterlibatan Kafe dalam Eksploitasi (TPPO): Penyidik bahkan memanggil pengelola Diamond dan Orion KTV Club untuk dimintai keterangan terkait kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang melibatkan 15 korban eksploitasi. Ini mengindikasikan lingkungan usaha yang sangat rawan.

3. Penganiayaan di King Club (Desember 2025): Pandu Wijaya (43) menjadi korban pengeroyokan oleh dua orang tak dikenal di klub malam tersebut.

4. Petugas Keamanan Jadi Pelaku Penganiayaan: Di kafe Deagon yang sama, seorang pengunjuk berinisial BS (22) justru dianiaya oleh petugas keamanan kafe sendiri karena persoalan sepele.

5. Kekerasan Berulang di Super Z Club (April 2025): STP (25) mengalami luka robek di kepala akibat dipukul botol oleh pengunjung lain di dalam kafe.

Tegaskan Fungsi dan Kewajiban Aparat: Ini Bukan Hanya Masalah Ketertiban, Tapi Kejahatan Terstruktur!

Kebungkaman Camat Batu Aji melanggar dua fungsi utama pemerintahan :

1. Fungsi Pelayanan dan Pengawasan:

Camat sebagai perpanjangan tangan Walikota wajib memastikan setiap usaha berizin dan beroperasi sesuai norma. Pertanyaan mendasar seperti “Berapa jumlah kafe legal vs ilegal?” adalah data minimal yang harus dimiliki dan dipertanggungjawabkan.

2. Fungsi Perlindungan Masyarakat:

Membiarkan kafe tanpa pengawasan ketat yang menjadi lokasi kejahatan sistematis sama dengan mengabaikan keselamatan jiwa dan keamanan warga. Ini adalah kegagalan menjalankan amanat konstitusi.

Sementara itu, tugas aparat penegak hukum (Polsek & Satpol PP) yang menerima tembusan surat juga patut dipertanyakan. Apakah koordinasi dengan kecamatan benar-benar berjalan? Atau selama ini mereka bekerja sendiri-sendiri tanpa dukungan data dari pemerintah setempat?

Seruan Kepada Publik dan Pemerintah Kota Batam

Sudah cukup warga menjadi korban. Sudah cukup ketakutan merajalela. Kebisuan Camat Batu Aji adalah pintu masuk bagi anarki dan kejahatan yang terorganisir.

Warga mendesak agar Walikota Batam untuk segera memerintahkan audit menyeluruh terhadap kinerja dan data di Kecamatan Batu Aji, serta memimpin razia terpadu lintas instansi.

Kapolresta Barelang untuk mengusung pendekatan crime prevention dengan memetakan kafe-kafe rawan kejahatan berdasarkan data, bukan hanya menunggu laporan. Dan Ketua DPRD Kota Batam untuk menggunakan hak angket guna menyelidiki potensi kebocoran dalam sistem perizinan dan pengawasan tempat hiburan.

Pertanyaan terbesar kini, Apa yang disembunyikan oleh kebisuan ini? Apakah ada “permainan” yang membuat aparat dan pemerintah setempat enggan membuka data? Masyarakat berhak tahu, dan korban berhak mendapat keadilan. Waktunya bertindak tegas!

Editor red/tim.

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

BP Batam Komitmen Jaga Ketahanan Produksi Air Baku, Antisipasi Dampak El Nino di Waduk Nongsa

BP Batam Komitmen Jaga Ketahanan Produksi Air Baku, Antisipasi Dampak El Nino di Waduk Nongsa

9info.co.id | BATAM – Badan Pengusahaan (BP) Batam terus melakukan pemantauan terhadap kondisi seluruh waduk, khususnya Waduk Nongsa yang mengalami penurunan Tinggi Muka Air (TMA).

Berdasarkan pemantauan, TMA Waduk Nongsa berada pada level 5,96 meter. Kondisi ini mendorong BP Batam dan PT ABH melakukan pengaturan pengambilan air baku untuk menjaga ketahanan cadangan air yang tersedia di tengah fenomena El Nino.

Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, memahami keresahan warga Nongsa akibat kondisi tersebut. Ia pun telah menginstruksikan tim untuk turun langsung ke area sekitar waduk guna menindaklanjuti keresahan masyarakat.

“Kami terus memantau kondisi waduk setiap hari. Pengaturan produksi juga terus dilakukan sebagai langkah antisipasi agar cadangan air baku dapat bertahan lebih lama, terutama selama kondisi cuaca masih minim hujan. Pada prinsipnya, kebutuhan masyarakat tetap menjadi perhatian utama kami,” ujarnya, Senin (21/9/2026).

Ia menegaskan bahwa tim BP Batam bersama PT ABH juga telah melakukan suplai air bersih melalui mobil tangki sebagai langkah antisipatif sementara. Terutama bagi wilayah yang alirannya belum terpenuhi secara maksimal.

Di samping itu, solusi lain terhadap permasalahan ini juga telah dilakukan. Salah satunya dengan penguatan suplai ke wilayah Nongsa. Setelah dilakukan pengoperasian sistem pendukung tersebut, aliran suplai ke masyarakat perlahan akan kembali optimal.

Berdasarkan laporan tim, Amsakar menjelaskan bahwa produksi air bersih di Batam secara keseluruhan saat ini masih di atas kebutuhan rata-rata.

Dengan tingkat kehilangan air sekitar 16 persen, volume air yang efektif masuk ke sistem distribusi mencapai sekitar 3.780 Lps. Angka tersebut masih berada di atas kebutuhan rata-rata masyarakat yang mencapai sekitar 3.700 Lps. Dengan demikian, sistem saat ini masih memiliki margin sekitar 80 Lps di atas kebutuhan rata-rata.

Meski demikian, lanjutnya, BP Batam terus memberikan perhatian khusus terhadap wilayah yang sumber air bakunya berasal dari waduk dengan kondisi TMA yang terus dipantau, terutama Nongsa dan Sei Harapan.

“Penurunan tampungan air baku memang terjadi seiring rendahnya intensitas hujan. Kondisi tersebut akan terus kami evaluasi dan sejumlah skenario antisipasi juga telah disiapkan agar kebutuhan masyarakat tidak terganggu,” ujarnya lagi.

Siapkan Sejumlah Skenario Antisipasi

Untuk menghadapi kemungkinan berlanjutnya kondisi minim hujan, BP Batam juga menyiapkan sejumlah langkah antisipasi.

Salah satunya melalui koordinasi tambahan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu meningkatkan potensi hujan di kawasan tangkapan air dan Pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru berkapasitas 50 liter per detik (lps) di Sei Ladi untuk menambah daya dorong dan kontinuitas pasokan air.

BP Batam juga mengkaji pemanfaatan sejumlah embung sebagai sumber alternatif. Beberapa opsi yang disiapkan antara lain memompa air dari embung untuk membantu mengisi waduk terdekat atau membangun fasilitas pengolahan air baru di sekitar embung sehingga air dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem distribusi.

Skenario pengaturan suplai secara bergilir juga menjadi bagian dari opsi yang dikaji. Namun, penerapannya akan mempertimbangkan kondisi jaringan perpipaan dan dampaknya terhadap masyarakat.

“Kami tidak ingin menunggu sampai kondisi menjadi lebih sulit. Oleh karena itu, berbagai skenario sudah kami siapkan dan terus kami evaluasi berdasarkan perkembangan kondisi waduk di lapangan. Kami ingin pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik,” tegas Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano.

Dalam jangka panjang, Denny mengungkapkan bahwa BP Batam juga terus mengembangkan konsep Batam Integrated Total Water Management untuk memperkuat ketahanan air dan mengurangi ketergantungan terhadap sumber air baku konvensional.

Pengembangan sumber air alternatif mencakup pemanfaatan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), air daur ulang, embung, serta pemanfaatan stormwater.

Dalam rencana atau proyeksi ketersediaan sumber air jangka panjang, Denny mengatakan BP Batam menargetkan kontribusi SWRO sebesar 2.500 Lps, air daur ulang 500 Lps, serta pemanfaatan embung dan stormwater sebesar 500 Lps.

Secara teknis, BP Batam juga mengkaji opsi pengembangan waduk laut dan pemanfaatan sumber air dari wilayah sekitar Batam dengan total rencana kapasitas mencapai 3.000 Lps.

Langkah tersebut dipersiapkan untuk menjawab kebutuhan air Batam yang diproyeksikan mencapai 7.149 Lps pada 2045, seiring pertumbuhan penduduk, kawasan hunian, industri, pusat data, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

“Ketahanan air merupakan kebutuhan bersama. Oleh karena itu, BP Batam tidak hanya fokus pada kondisi hari ini, tetapi juga menyiapkan sumber air baru untuk di masa mendatang,” tutup Denny. (DN)

Continue Reading

Berita Lain