Connect with us

9info.co.id | BATAM – Kota Batam kembali menegaskan posisinya sebagai pusat industri maritim nasional dengan dibukanya Indonesia Marine & Offshore Expo (IMOX) 2026 di Radisson Golf & Convention Center Batam, Rabu (5/8/2026).
‎
‎Memasuki penyelenggaraan ke-9, pameran maritim bertaraf internasional ini menargetkan nilai transaksi bisnis mencapai 20 juta dolar Amerika Serikat (AS) sekaligus memperkuat daya saing Batam sebagai pusat industri galangan kapal dan offshore di tingkat global.

‎Mengusung tema “Batam: Indonesia’s Future Hub for Smart Shipbuilding & Offshore Transformation”, IMOX 2026 menjadi ajang strategis yang mempertemukan pelaku industri maritim dunia untuk memperkenalkan teknologi terbaru, memperluas jaringan bisnis, dan membuka peluang investasi baru di sektor perkapalan serta industri lepas pantai.

Group CEO Fireworks Trade Media, Kenny Yong, mengatakan target transaksi tahun ini dipatok sebesar US$20 juta meski industri global masih menghadapi berbagai tantangan.
‎
‎”Target transaksi tahun ini sekitar 20 juta dolar AS. Walaupun industri global masih menghadapi tantangan dan banyak perusahaan lebih memprioritaskan pemeliharaan dibandingkan investasi peralatan baru, kami tetap optimistis karena kebutuhan sektor maritim masih terus tumbuh,” ujar Kenny.
‎
‎IMOX 2026 diikuti ratusan perusahaan dari lebih dari 20 negara, antara lain Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, Korea Selatan, China, India, Jerman, Italia, Prancis, Inggris, hingga Amerika Serikat. Kehadiran peserta internasional tersebut semakin memperkuat posisi Batam sebagai salah satu pusat bisnis maritim paling strategis di kawasan Asia Tenggara.

YONG

Gbr: Group CEO Fireworks Trade Media, Kenny Yong, mengatakan target transaksi tahun ini dipatok sebesar US$20 juta meski industri global masih menghadapi berbagai tantangan.
‎

‎Tidak hanya menjadi ajang pameran produk, IMOX juga menjadi forum bisnis yang mempertemukan investor, produsen, kontraktor, pemilik galangan kapal, perusahaan migas, hingga pelaku industri offshore guna menjalin kerja sama strategis dan memperluas peluang investasi.
‎
‎Berbagai teknologi mutakhir dipamerkan dalam kegiatan ini, mulai dari sistem galangan kapal modern, otomasi industri, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), perangkat lunak industri, mesin berteknologi tinggi, hingga sistem keselamatan kerja dan solusi pendukung industri offshore.
‎
‎”Kami telah memasuki era AI. Teknologi yang ditampilkan mampu membuat proses pembangunan kapal menjadi lebih cepat, lebih aman, lebih efisien, dan berkelanjutan. Pengunjung juga dapat mencoba langsung berbagai inovasi yang dipamerkan,” jelas Kenny.
‎
‎Menurutnya, Batam masih menjadi kawasan paling strategis bagi industri galangan kapal nasional. Sekitar 60 persen produksi kapal Indonesia saat ini berasal dari galangan kapal yang beroperasi di Batam.
‎
‎Ia menjelaskan, banyak perusahaan maritim internasional menempatkan kantor pusat di Singapura, sementara kegiatan produksi dan operasional dilakukan di Batam karena didukung status Free Trade Zone (FTZ), infrastruktur industri yang lengkap, ketersediaan lahan, serta biaya operasional yang lebih kompetitif.
‎
‎”Head office banyak berada di Singapura, tetapi operasionalnya di Batam. Inilah yang menjadi salah satu keunggulan utama Batam dalam industri maritim regional,” katanya.
‎
‎Prospek industri galangan kapal Batam juga dinilai semakin cerah. Sejumlah perusahaan bahkan mengaku mengalami lonjakan permintaan dari pasar internasional hingga harus membatasi penerimaan kontrak baru demi menyelesaikan proyek yang sedang berjalan.
‎
‎Kondisi tersebut menjadi sinyal positif bahwa permintaan terhadap industri perkapalan Batam masih sangat tinggi sekaligus membuka peluang besar bagi masuknya investasi baru, ekspansi usaha, dan penciptaan lapangan kerja di sektor maritim.
‎
‎Masuknya investasi asing juga diyakini akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui transfer teknologi, peningkatan kompetensi tenaga kerja, serta pelatihan yang mampu memenuhi standar industri global.
‎
‎Kenny turut mengapresiasi dukungan BP Batam, Kamar Dagang dan Industri (Kadin), asosiasi industri, serta seluruh pelaku usaha yang terus bersinergi mendorong kemajuan industri maritim nasional.
‎
‎”Kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, dan dunia usaha menjadi kunci utama keberhasilan IMOX. Sinergi ini membuat Batam semakin dikenal sebagai pusat industri maritim dan mampu menghadirkan pelaku bisnis dari berbagai negara setiap tahunnya,” tutup Kenny. (Tim).

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Dukung Kebutuhan Data Centre, Citramas Group Investasi Rp 600 Miliar Bangun SWRO Kabil

Dukung Kebutuhan Data Centre, Citramas Group Investasi Rp 600 Miliar Bangun SWRO Kabil

9info.co.id | BATAM – Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menghadiri Groundbreaking pembangunan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Kabil, Kamis (5/11/2026).

Pembangunan SWRO tahap pertama ini merupakan komitmen investasi dari Citramas Group dengan nilai proyek sebesar USD 32,8 juta atau sekitar Rp 600 miliar.

Amsakar menjelaskan, pembangunan SWRO Kabil ini akan berlangsung dalam dua tahapan. Tahap pertama ini memiliki kapasitas produksi sebesar 300 lps. Pembangunan akan berlanjut untuk tahap kedua dengan kapasitas produksi 400 lps.

Kehadiran fasilitas pendukung investasi ini, lanjut Amsakar, merupakan langkah strategis dalam memperkuat pasokan air untuk proyek Data Centre dan Kawasan Terintegrasi di dalamnya.

Menurutnya, pembangunan ini tidak hanya menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek kemajuan Batam, tetapi juga menjadi kontribusi dunia usaha dalam memperkuat kesiapan infrastruktur investasi.

“Kami mengapresiasi langkah Citramas yang telah mengambil bagian dalam memperhatikan pasokan air di Batam. Ini merupakan komitmen investasi yang patut kita dukung bersama karena kebutuhan air menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan industri, termasuk pengembangan Data Centre di Batam,” ujar Amsakar.

Ia berharap, investasi tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan kawasan industri sekaligus memperkuat daya saing Batam sebagai tujuan investasi.

Pembangunan ini juga menjawab tantangan pasokan air untuk pengembangan investasi Data Centre ke depannya.

“Investasi tidak hanya berbicara tentang pembangunan fasilitas usaha, tetapi juga bagaimana kita memastikan infrastruktur pendukungnya tersedia dengan baik. Ketersediaan air yang memadai akan memberikan kepastian bagi pelaku usaha untuk mengembangkan kegiatan investasinya. Karena itu, sinergi seperti ini perlu terus kita perkuat,” tambahnya.

Sementara itu, kebutuhan air untuk kawasan Kabil Industrial Estate (KIE) dan Nongsa Digital Park (NDP) selama ini telah mendapat dukungan dari pembangunan embung mandiri yang berada di wilayah Kabil. Embung tersebut memiliki kapasitas sekitar 5.200 meter kubik per hari (60,2 lps) untuk mendukung kebutuhan air di kawasan tersebut.

Selain pembangunan SWRO, Citramas Group tengah mempercepat pembangunan embung di wilayah Nongsa Digital Park. Upaya ini menjadi bagian dari penguatan infrastruktur air untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan seiring dengan berkembangnya aktivitas industri dan investasi di kawasan Nongsa.

BP Batam memandang pengembangan infrastruktur air melalui investasi dan penyediaan fasilitas pendukung secara berkelanjutan sebagai langkah penting dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif.

“Melalui kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha, Batam diharapkan semakin siap memenuhi kebutuhan infrastruktur dasar, memberikan kepastian bagi investor, serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat. Dan pembangunan ini harus kita dukung agar tidak ada kendala dan dapat terselesaikan sampai waktu yang telah ditentukan,” tutup Amsakar.

Senada, CEO Citramas Group, Michael Wiluan, menambahkan bahwa pihaknya menyadari keberhasilan pengembangan Data Centre bergantung pada ketersediaan infrastruktur dasar yang andal. Khususnya pasokan air bagi keberlangsungan industri.

Pembangunan SWRO Kabil ini, lanjutnya, menjadi salah satu langkah strategis agar pertumbuhan investasi digital tersebut dapat terealisasi optimal.

Di samping SWRO, Citramas juga telah memastikan pasokan energi lain seperti listrik dan konektivitas internet dengan beberapa mitra strategis serta instansi terkait dapat tercukupi.

“Kami hari ini akan memulai tahapan pembangunan fasilitas SWRO 300 lps tahap pertama dengan target operasi hingga November 2027 dari total rencana kapasitas 700 lps. Pembangunan ini sekaligus menjadi bagian komitmen kami untuk membangun kawasan industri yang tidak hanya kompetitif tapi ikut bertanggung jawab terhadap pengelolaan infrastruktur pendukung investasi,” tegas Michael Wiluan.

Michael menjelaskan bahwa selama ini Citramas Group juga telah menggarap suplai air bersih untuk kebutuhan Kawasan Kabil dan Nongsa secara mandiri sejak tahun 1992 melalui ketersediaan embung seluas 4 hektare di dalam kawasan Kabil.

Saat ini, lanjut Michael, produksi air bersih tersebut mencapai 5.200 meter kubik per hari (60,2 Lps). Dan pada awal tahun 2027, kapasitas tersebut akan ditingkatkan menjadi 10.000 meter kubik per hari (atau setara dengan 115,74 Lps), melalui penambahan embung baru di Nongsa serta proses daur ulang air limbah industri.

“Kami turut mengapresiasi dukungan BP Batam terhadap pertumbuhan investasi. Kami ingin agar pembangunan ini dapat berjalan lancar hingga waktu yang ditargetkan,” pungkasnya. (DN)

Continue Reading

Berita Lain