Connect with us

9Info.co.id | BATAM – Kepala BP Batam/Walikota Batam, Muhammad Rudi tidak hanya berfokus dalam pembangunan infrastruktur di Kota Batam.

Namun juga, Muhammad Rudi membantu pembangunan masjid, dengan tujuan untuk menyediakan sarana ibadah yang layak dan nyaman bagi masyarakat.

Selain itu, bantuan pembangunan masjid ini juga bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pendidikan agama serta memperkuat aktivitas religius dalam masyarakat. Hal itu telah dilakukan oleh Muhammad Rudi dalam setiap kesempatan safari ramadannya.

Rekam jejak Muhammad Rudi dalam membangun maupun memberikan bantuan untuk masjid itu, ia pun dipercaya untuk menjadi Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Kepri.

Sehingga, adanya pemberitaan bahwa Muhammad Rudi akan merobohkan Masjid sangat disayangkan.

Justru, Muhammad Rudi akan membantu pembangunan Masjid Bukrota Wa Ashila, Perumahan Pancur Biru Lestari 1, Duriangkang, Seibeduk, Batam, Jumat (23/3/2024).

“Dari awalnya Rp 100 juta, bapak Muhammad Rudi menaikkan bantuannya menjadi Rp 200 juta,” ujar Ketua DKM Masjid Bukrota Wa Ashila, Ismail.

Ia menjelaskan, untuk pembangunan Masjid Bukrota Wa Ashila membutuhkan biaya hingga Rp 700 juta. Untuk itu, Muhammad Rudi ingin meringankan beban masyarakat Perumahan Pancur Biru Lestari 1, dengan memberikan bantuan sebesar Rp 200 juta.

Pantauan di lapangan, masjid itu belum ada dinding di bagian kiri, kanan dan belakang. Selain itu masjid tersebut juga belum mempunyai atap dan kubah.

“Awalnya bantuan itu sebesar Rp 100 juta. Kemduian setelah bapak Muhammad Rudi datang langsung, bantuan itu dinaikkan menjadi Rp 200 juta dan akan cair bulan Oktober nanti,” katanya.

Tidak hanya membantu pembangunan masjid, agar masyarakat Perumahan Pancur Biru Lestari 1 merasa nyaman dalam menjalankan ibadah, Muhammad Rudi juga membantu untuk menyelesaikan persoalan legalitas lahan masjid.

Begitu juga dengan pembangunan batu miring yang berada di belakang TPA. Muhammad Rudi akan segera menyelesaikan permasalahan tersebut.

“Jadi kami berterima kasih kepada bapak Muhammad Rudi atas bantuan yang diberikan kepada kami,” katanya.

Kepala BP Batam/Walikota Batam Muhammad Rudi mengatakan, bantuan ini merupakan salah satu wujud komitmennya dalam meningkatkan kerohanian masyarakat Kota Batam, selain program rutin pembangunan lainnya.

Ia pun berharap bantuan tersebut dapat semakin memakmurkan Masjid Bukrota Wa Ashila.

“Setelah masjid ini bagus, tolong dimakmurkan juga sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan keagaamaan lainnya,” pesan Muhammad Rudi. (DN)

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Pemerintah Perketat Celah Pajak, UMKM Tetap Dapat Insentif Lewat PP Nomor 20 Tahun 2026

Pemerintah Perketat Celah Pajak, UMKM Tetap Dapat Insentif Lewat PP Nomor 20 Tahun 2026

9info.co.id | BATAM – Pemerintah resmi menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2026 yang mengubah sejumlah ketentuan dalam PP Nomor 55 Tahun 2022 tentang Penyesuaian Pengaturan di Bidang Pajak Penghasilan. Regulasi terbaru ini menunjukkan dua pesan penting sekaligus: pemerintah tetap memberikan kemudahan bagi pelaku UMKM melalui tarif Pajak Penghasilan (PPh) Final 0,5 persen, namun pada saat yang sama memperketat berbagai celah yang selama ini berpotensi dimanfaatkan untuk menghindari kewajiban pajak.

‎Kebijakan tersebut ditetapkan Presiden Prabowo Subianto pada 22 April 2026 dan mulai berlaku sejak diundangkan. Pemerintah menilai bahwa fasilitas PPh Final bagi wajib pajak dengan peredaran bruto tertentu masih diperlukan untuk mendukung pertumbuhan usaha kecil dan mendorong masyarakat masuk ke sektor ekonomi formal.

‎Selama beberapa tahun terakhir, skema PPh Final 0,5 persen menjadi salah satu instrumen penting dalam mendorong kepatuhan perpajakan UMKM. Dengan mekanisme yang sederhana, pelaku usaha cukup menghitung pajak berdasarkan omzet tanpa harus melakukan perhitungan laba rugi yang relatif lebih kompleks.

‎Namun dalam praktiknya, pemerintah menemukan adanya potensi penyalahgunaan fasilitas tersebut. Tidak sedikit wajib pajak yang memanfaatkan berbagai bentuk badan usaha untuk tetap menikmati tarif final meskipun secara ekonomi skala usahanya telah melampaui batas yang ditetapkan.

‎Melalui PP Nomor 20 Tahun 2026, pemerintah menegaskan bahwa batas peredaran bruto Rp4,8 miliar tetap menjadi syarat utama untuk memperoleh fasilitas PPh Final 0,5 persen. Akan tetapi, penghitungan batas tersebut kini dilakukan secara lebih komprehensif.

‎Salah satu perubahan penting adalah penggabungan omzet dari wajib pajak orang pribadi dengan seluruh perseroan perorangan yang dimilikinya. Dengan ketentuan baru ini, seseorang tidak lagi dapat mendirikan beberapa perseroan perorangan hanya untuk memecah omzet agar tetap berada di bawah batas Rp4,8 miliar.

‎Jika total omzet gabungan seluruh usaha telah melampaui batas tersebut, maka seluruh entitas yang terkait tidak lagi dapat memanfaatkan skema pajak final UMKM pada tahun-tahun berikutnya.

‎Pemerintah juga memperluas pengawasan melalui penggabungan peredaran bruto dalam lingkup keluarga. Dalam kondisi tertentu, omzet suami dan istri akan dihitung secara bersama untuk menentukan apakah masih memenuhi syarat memperoleh fasilitas PPh Final.

‎Langkah ini dipandang sebagai upaya menciptakan keadilan dalam sistem perpajakan. Wajib pajak yang memiliki kemampuan ekonomi lebih besar diharapkan beralih ke sistem perpajakan normal sehingga kontribusi pajak yang diberikan lebih mencerminkan kapasitas usahanya.

‎Selain memperketat pengawasan, pemerintah juga memberikan kejelasan mengenai profesi yang tidak termasuk dalam kategori usaha yang dapat menggunakan tarif PPh Final UMKM.

‎Sejumlah profesi seperti dokter, akuntan, pengacara, notaris, konsultan, influencer, selebgram, blogger, vlogger, agen asuransi, pelatih, moderator, dan berbagai profesi bebas lainnya ditegaskan tidak termasuk dalam skema tersebut.
‎Penegasan ini sekaligus memberikan kepastian hukum bagi wajib pajak dan petugas pajak dalam menentukan perlakuan perpajakan atas berbagai jenis kegiatan ekonomi yang berkembang di era digital.

‎Meski demikian, pemerintah tetap menjaga keberpihakan kepada UMKM. Tarif PPh Final sebesar 0,5 persen tetap dipertahankan. Bahkan pemerintah memberikan masa transisi bagi sejumlah wajib pajak yang sebelumnya telah menikmati fasilitas tersebut.

‎Wajib pajak orang pribadi yang masa fasilitasnya berakhir pada 2024 diberikan kesempatan untuk tetap menggunakan tarif final hingga tahun pajak 2026 sepanjang masih memenuhi persyaratan. Kebijakan ini diharapkan memberikan waktu yang cukup bagi pelaku usaha untuk mempersiapkan pembukuan dan administrasi perpajakan yang lebih baik.

‎Selain aspek UMKM, PP Nomor 20 Tahun 2026 juga memuat ketentuan baru yang menegaskan bahwa biaya yang berkaitan dengan suap, gratifikasi, dan bentuk pemberian ilegal lainnya tidak dapat dijadikan pengurang penghasilan bruto dalam perhitungan pajak.

‎Ketentuan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat tata kelola perpajakan nasional sekaligus mendukung standar internasional yang direkomendasikan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

‎Secara keseluruhan, PP Nomor 20 Tahun 2026 menunjukkan arah kebijakan pemerintah yang berusaha menjaga keseimbangan antara pemberian kemudahan kepada pelaku usaha kecil dan peningkatan kepatuhan perpajakan. UMKM tetap memperoleh dukungan melalui tarif yang sederhana dan ringan, sementara berbagai celah yang berpotensi mengurangi penerimaan negara mulai ditutup secara bertahap.

‎Bagi pelaku usaha, regulasi ini menjadi pengingat bahwa fasilitas perpajakan diberikan untuk membantu pertumbuhan usaha, bukan untuk dimanfaatkan sebagai sarana menghindari kewajiban pajak. Dengan sistem yang semakin transparan dan adil, pemerintah berharap basis perpajakan nasional dapat semakin kuat dan mampu mendukung pembangunan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.

Penulis:

‎Mortigor Afrizal Purba, S.E.Ak., M.Ak., C.A., ASEAN CPA
‎Pimpinan Kantor Jasa Akuntan Mortigor Afrizal Purba sekaligus Dosen Akuntansi dan Perpajakan di Universitas Putera Batam

Continue Reading
Kolom Iklan

Berita Lain