9info.co.id | BATAM – Upaya menjaga eksistensi adat dan budaya Batak di tengah perkembangan masyarakat perkotaan terus dilakukan di Kota Batam. Salah satunya melalui Festival Batam Bonapasogit 2026 yang digelar Yayasan Yonkenedia dengan mengangkat berbagai seni, tradisi, serta nilai kearifan lokal masyarakat Batak.
Festival tersebut menghadirkan sejumlah perlombaan yang melibatkan berbagai kelompok usia dan komunitas, di antaranya Lomba Tor-Tor Batak Dewasa, Tor-Tor Batak Anak, Parsinabung, Fashion Show Busana Batak, Fashion Show Budaya Batak, serta Parsinabung Marumpasa.
Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan sebagai ajang hiburan dan kompetisi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali budaya Batak kepada generasi muda yang lahir dan tumbuh di tanah perantauan.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Yonkenedia, Johannes Kennedy Aritonang, mengatakan gagasan membangun wadah pelestarian budaya Batak di Batam telah muncul sejak dirinya masih lajang.
Menurutnya, keberadaan komunitas dan wadah budaya menjadi penting karena masyarakat Batak yang berada di perantauan tetap membutuhkan ruang untuk menjalankan, mempelajari, dan meneruskan adat istiadat kepada generasi berikutnya.
“Awalnya saya sudah menginginkan adanya komunitas yang mengayomi dan menjadi wadah pelestarian budaya Batak di tanah perantauan, khususnya di Kota Batam,” ujar Johannes.
Batam dan Perkembangan Pelaksanaan Adat Batak
Johannes menjelaskan, pada masa lalu masyarakat Batak yang tinggal di perantauan kerap harus kembali ke kampung halaman untuk melaksanakan berbagai prosesi adat, termasuk perkawinan.
Kondisi tersebut terjadi karena pada saat itu sarana pendukung serta sumber daya untuk melaksanakan prosesi adat secara lengkap di Batam masih terbatas.
Namun, perkembangan komunitas Batak di Batam dalam satu dekade terakhir menunjukkan perubahan. Pelaksanaan berbagai kegiatan adat mulai dilakukan di Kota Batam dengan memanfaatkan gedung serbaguna dan melibatkan raja parhata dari komunitas marga masing-masing.
“Seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, sekitar 10 tahun terakhir pelaksanaan adat sudah mulai banyak dilakukan di Batam. Sarana gedung serbaguna dan raja parhata dari komunitas marga juga sudah tersedia,” katanya.
Meski demikian, Johannes menilai perkembangan tersebut perlu diikuti dengan kesepahaman antarkomunitas agar pelaksanaan adat tetap memiliki standar pemahaman yang sama, khususnya menyangkut makna dan filosofi setiap tahapan adat.
Batam Dinilai Berkembang sebagai Pusat Komunitas Batak
Johannes juga melihat perkembangan jumlah dan kehidupan sosial masyarakat Batak di Batam telah menjadikan kota ini memiliki posisi penting sebagai salah satu pusat komunitas Batak di luar kampung halaman.
Ia menggunakan istilah Bonapasogit untuk menggambarkan perkembangan tersebut.
“Kalau dari segi jumlah, Batam sudah masuk kategori Bonapasogit ketiga. Pertama Tapanuli Raya sebagai kampung halaman, kemudian DKI Jakarta, dan Batam sebagai kota yang masyarakat Batak juga sudah menganggapnya sebagai kampung halaman,” ujarnya.
Menurut Johannes, perkembangan komunitas Batak di Jakarta menunjukkan bahwa adat dan budaya dapat beradaptasi dengan kehidupan perkotaan tanpa harus menghilangkan nilai dasarnya.
“Di Jakarta sudah dimodifikasi dan dibuat lebih modern tanpa menghilangkan tradisi dari kampung halaman,” katanya.
Menurutnya, penyesuaian tersebut diperlukan agar pelaksanaan adat dapat berlangsung secara lebih sederhana dan efisien, namun tetap menjaga substansi serta filosofi yang terkandung di dalamnya.
Modernisasi dan Tantangan Jati Diri Generasi Muda
Di sisi lain, Johannes menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda Batak di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi.
Menurut dia, kemajuan pendidikan, teknologi dan kehidupan global perlu berjalan beriringan dengan penguatan identitas budaya.
“Jangan sampai kemajuan teknologi justru menghilangkan jati diri. Kita berlomba-lomba menjadi lebih maju dan modern, tetapi akhirnya meninggalkan akar budaya sendiri,” katanya.
Ia menilai generasi muda yang lahir di kota-kota besar seperti Batam perlu tetap mendapatkan pemahaman mengenai budaya Batak, termasuk martarombo, sebagai salah satu bentuk pengenalan terhadap hubungan kekerabatan.
“Minimal setiap generasi yang merantau memiliki bekal seperti martarombo. Kita harus memahami hubungan kekerabatan karena itu juga bisa menjadi kekuatan sosial dan ekonomi,” ujarnya.
Johannes juga mengungkapkan pengalaman pribadinya dalam memberikan pendidikan kepada anak. Ia pernah menyekolahkan anaknya ke luar negeri dengan harapan memperoleh pendidikan dan pengalaman yang lebih luas.
Namun, pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa kemajuan pendidikan perlu tetap disertai pemahaman terhadap budaya dan kearifan lokal.
“Saya berharap anak-anak bisa lebih maju dari kita. Namun saya mengaku ada kekurangan karena kurang menerapkan budaya ataupun kearifan lokal budaya sendiri,” katanya.
Karena itu, ia berharap generasi muda Batak dapat berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan identitas budaya.
“Jangan sampai kemajuan itu menutupi ataupun menghilangkan jati diri,” tegasnya.
Yayasan Yonkenedia Buka Ruang Kolaborasi
Sementara itu, Ketua Panitia Festival Batam Bonapasogit 2026, Mangihut Rajagukguk, mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk mempertemukan berbagai tokoh marga dan lembaga adat Batak yang berada di Kota Batam.
Menurutnya, keberadaan wadah yang dapat memfasilitasi komunikasi antarkomunitas menjadi penting untuk memperkuat pelaksanaan kegiatan kebudayaan.
“Supaya suatu acara semakin meriah, kita kumpulkan tokoh-tokoh marga dan lembaga adat Batak. Sementara belum ada yang melayani, Yayasan Yonkenedia siap memfasilitasi. Kita isi kekosongan ini,” ujar Mangihut.
Ia menegaskan bahwa Festival Batam Bonapasogit merupakan kegiatan sosial yang orientasinya bukan untuk mencari keuntungan.
“Ini kegiatan sosial. Kita tidak ingin mengambil keuntungan,” katanya.
Mangihut berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bersama bagi masyarakat Batak di Batam untuk memperkenalkan budaya kepada generasi muda sekaligus memperkuat komunikasi dan kebersamaan antarkomunitas.
Dorong Efisiensi Pelaksanaan Adat
Hal senada disampaikan Niko Nikson Situmorang. Ia menilai pelaksanaan adat Batak di Kota Batam perlu terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, terutama dari sisi efisiensi waktu.
Menurutnya, efisiensi tidak berarti mengurangi nilai maupun menghilangkan filosofi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Adat ini serius, jangan bertele-tele. Kita miris melihat pelaksanaan adat budaya Batak di Kota Batam yang sampai memakan waktu begitu panjang,” ujar Niko.
Ia berpandangan, sejumlah tahapan dalam pelaksanaan adat dapat ditata secara lebih efektif sehingga tidak membutuhkan waktu yang terlalu panjang.
“Seharusnya bisa diefisienkan waktunya tanpa mengurangi makna dan filosofi pelaksanaan adat yang sebenarnya,” katanya.
Menjaga Budaya di Tengah Perubahan Zaman
Festival Batam Bonapasogit 2026 pada akhirnya menjadi bagian dari upaya mempertemukan pelestarian budaya dengan realitas kehidupan masyarakat Batam sebagai kota metropolitan dan daerah tujuan perantauan.
Melalui seni tari, busana, tradisi parsinabung, serta berbagai kegiatan budaya lainnya, Yayasan Yonkenedia mendorong agar budaya Batak tidak hanya dipertahankan dalam kegiatan seremonial, tetapi juga dipahami dan diwariskan kepada generasi muda.
Bagi masyarakat Batak di perantauan, keberadaan budaya bukan sekadar simbol identitas. Di dalamnya terdapat nilai kekerabatan, tata kehidupan sosial, penghormatan terhadap orang tua dan leluhur, serta filosofi kehidupan yang diwariskan lintas generasi.
Karena itu, perkembangan zaman dan modernisasi diharapkan tidak menjadi alasan untuk meninggalkan akar budaya, melainkan menjadi ruang untuk mengembangkan tradisi agar tetap relevan dan dapat diterima oleh generasi berikutnya.
Festival Batam Bonapasogit 2026 menjadi salah satu ruang yang mempertemukan dua hal tersebut: menjaga akar budaya sekaligus membuka ruang adaptasi bagi kehidupan masyarakat Batak di tanah perantauan. (Mat).