Connect with us

9info.co.id | BATAM – Suasana penuh semangat menyelimuti acara KPR Massal Gesya Eternal Marina-2 yang digelar di Hotel Harmoni One, Batam Centre, Sabtu (20/9/2025).

‎Dalam momentum ini, tercatat sebanyak 131 akad KPR berhasil dilakukan secara serentak bersama Bank BTN Konvensional dan BTN Syariah, menjadikannya salah satu akad massal rumah subsidi terbesar secara nasional pada tahun 2025.

‎Acara ini turut dihadiri tokoh penting, di antaranya Komisaris Utama Gesya Group Rionaldi Sinaga, Direktur Utama Gesya Group Anju Lumbanraja, serta Pendiri Garda Radiapoh, H. Sinaga, S.H., M.H. bersama Ibu Ratnawati Sidabutar.

‎Dalam sambutannya, Radiapoh menyampaikan apresiasi tinggi kepada pihak Bank BTN dan BTN Syariah atas kolaborasi dalam mewujudkan impian masyarakat memiliki hunian layak.

‎“Kami menyampaikan selamat kepada seluruh konsumen Gesya Group. Kolaborasi ini membuktikan bahwa impian besar selalu dimulai dari rumah,” ujarnya.

‎Senada dengan itu, Ibu Ratnawati Sidabutar juga menekankan pentingnya rumah sebagai fondasi kebahagiaan keluarga.

‎“Impian dimulai dari rumah, dan hari ini adalah bukti nyata bagi para konsumen Gesya Group,” tuturnya.

Apresiasi dari bank BTN

Komisaris Utama Gesya Group Rionaldi Sinaga, Direktur Utama Gesya Group Anju Lumbanraja, serta Pendiri Garda Radiapoh, H. Sinaga, S.H., M.H. bersama Ibu Ratnawati Sidabutar. Mendapat Apresiasi dari BTN dan BTN syariah

Dari pihak perbankan, Indrasakti Agung Branch Manager kantor Cabang Batam BTN Konvensional dan Efran perwakilan BTN Syariah turut menyampaikan apresiasi atas pencapaian Gesya Group. Mereka menyebutkan bahwa keberhasilan akad massal ini merupakan bentuk nyata kinerja pengembang yang konsisten mendukung program perumahan subsidi pemerintah.

‎Selain prosesi akad, acara ini juga dikemas dengan nuansa kekeluargaan. Konsumen terlihat antusias mengikuti rangkaian hiburan, pembagian hadiah, hingga kejutan spesial bagi konsumen yang berulang tahun pada bulan September.

‎Sebagai bentuk penghargaan, Bank BTN Konvensional dan BTN Syariah menyerahkan piagam apresiasi kepada Gesya Group PT Rezeki Tiga Bersaudara, atas dedikasi dan kontribusinya dalam mendukung penyediaan rumah subsidi nasional.

‎Momentum ini sekaligus menjadi penegasan komitmen Gesya Group bersama mitra perbankan dalam membantu masyarakat mewujudkan hunian impian.

‎Tagline acara: “Impian Dimulai dari Rumah – BTN Syariah & Gesya Group.” (RP).

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Tim Peduli Isenabasa Temui Amsakar, Dugaan Pengalihan Aset 2,3 Hektare Bikin Kepala BP Batam Terkejut

Tim Peduli Isenabasa Temui Amsakar, Dugaan Pengalihan Aset 2,3 Hektare Bikin Kepala BP Batam Terkejut

9info.co.id | BATAM – Upaya memperjuangkan aset Yayasan Isenabasa Barelang terus dilakukan. Sebagai tindak lanjut penyelamatan aset yang diduga telah dialihkan kepada pihak lain, Tim Peduli Isenabasa melakukan audiensi dengan Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, pada Jumat (24/7/2026).

‎Dalam pertemuan tersebut, Tim Peduli Isenabasa memaparkan kronologi dugaan pengalihan lahan seluas sekitar 2,3 hektare di kawasan Batam Centre yang sejak awal dialokasikan Otorita Batam untuk pembangunan kawasan budaya lima sub-etnis Batak.

‎Menurut perwakilan Tim Peduli Isenabasa Jhonson Fidoli Sibuea, Amsakar Achmad mengaku terkejut setelah menerima penjelasan mengenai dugaan beralihnya aset Yayasan Isenabasa kepada yayasan lain.

‎Tim Peduli Isenabasa pun meminta Kepala BP Batam agar memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut serta merekomendasikan langkah-langkah administrasi untuk mengembalikan aset yang dinilai merupakan hak Yayasan Isenabasa Barelang.

‎Dalam audiensi itu, tim juga menyampaikan hasil penelusuran yang menemukan adanya perubahan data alokasi lahan yang semula tercatat atas nama Yayasan Isenabasa Barelang menjadi atas nama Yayasan Yonkenedia.

‎Perubahan tersebut dinilai menimbulkan pertanyaan mengenai legalitas proses administrasi yang dilakukan.

‎”Kami mempertanyakan legalitas pengalihan lahan tersebut. Peralihannya diduga dilakukan tanpa melalui prosedur resmi dan tanpa sepengetahuan pengurus Yayasan Isenabasa,” ujar perwakilan Tim Peduli Isenabasa.

‎Berdasarkan data yang dimiliki, Yayasan Isenabasa Barelang sebelumnya memperoleh Penetapan Lokasi (PL) Nomor 2820090151.C1 yang diterbitkan pada 29 Mei 2008 dengan luas 21.928 meter persegi.

‎Namun, berdasarkan data terbaru, lahan tersebut tercatat menggunakan PL Nomor 224092123 atas nama Yayasan Yonkenedia, dengan peruntukan rumah tapak seluas 12.885 meter persegi, fasilitas sosial swasta/BUMN seluas 5.870 meter persegi, serta kawasan komersial seluas 1.996 meter persegi.

‎Perwakilan Tim Peduli Isenabasa lainya, Wirya, menjelaskan bahwa lahan yang berada di belakang Perumahan Puri Legenda, Batam Centre, sejak awal diperuntukkan sebagai kawasan perkampungan budaya lima sub-etnis Batak, yakni Toba, Simalungun, Karo, Pakpak, serta Mandailing/Angkola, berikut pembangunan gedung serbaguna sebagai pusat kegiatan sosial dan budaya masyarakat Batak di Batam.

‎”Ketika kami melakukan pengecekan, ternyata data kepemilikan lahan telah berubah. Kami menduga telah dialihkan kepada Yayasan Yonkenedia,” katanya.

‎Polemik semakin berkembang setelah muncul informasi bahwa Ketua Pembina Yayasan Yonkenedia diduga merupakan orang yang sama dengan Ketua Pembina Yayasan Isenabasa Barelang.

‎Wirya juga menegaskan bahwa dokumen asli alokasi lahan yang diterbitkan Otorita Batam hingga kini masih berada dalam penguasaan Sekretaris Yayasan Isenabasa Barelang, Sabar Malau.

‎Karena itu, pihaknya mempertanyakan bagaimana proses pengalihan administrasi dapat dilakukan apabila dokumen asli tidak pernah diserahkan.

‎”Bagaimana mungkin aset yayasan dialihkan tanpa sepengetahuan pembina, pengurus maupun pengawas? BP Batam perlu memberikan penjelasan kepada publik mengenai proses administrasi tersebut. Mengapa pengalihan dapat dilakukan tanpa penarikan dokumen asli yang sah dari kami,” tegasnya.

‎Sebagai bentuk keseriusan memperjuangkan aset tersebut, para tokoh dan perwakilan lima sub-etnis Batak di Kota Batam telah membentuk Tim Peduli Isenabasa.

‎Tim ini bertugas menelusuri seluruh proses administrasi dan legalitas pengalihan lahan serta menyiapkan langkah hukum apabila ditemukan adanya pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku.

‎”Langkah ini kami lakukan untuk menyelamatkan aset yang sejak awal diberikan Otorita Batam untuk kepentingan sosial masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok tertentu,” ujar Wirya.

‎Didampingi tim kuasa hukum Yayasan Isenabasa Barelang, pihaknya juga mengungkap adanya dugaan unsur mens rea atau niat jahat dalam proses penguasaan aset tersebut. Namun, mereka menyerahkan pembuktian dugaan tersebut kepada aparat penegak hukum sesuai mekanisme yang berlaku.

‎Hingga berita ini diterbitkan, pihak BP Batam maupun Yayasan Yonkenedia belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pengalihan lahan tersebut.

‎Redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak-pihak terkait guna memenuhi prinsip keberimbangan dalam pemberitaan. (Tim)

Continue Reading
Kolom Iklan

Berita Lain