Connect with us

9info.co.id | BATAM – Keributan antara warga yang diduga sebagai pedagang kaki lima dengan petugas keamanan PT WASCO Engineering Indonesia viral di media sosial Facebook baru-baru ini.

‎Kejadian tersebut terjadi di kawasan industri sekitar Jalan Row 30, Tanjung Uncang, dan memunculkan kembali polemik lama soal pemanfaatan fasilitas umum yang belum tertata secara jelas.

‎Dari pantauan redaksi di lapangan, keributan dipicu oleh larangan dari pihak security PT WASCO terhadap karyawan dan masyarakat yang memarkir kendaraan di sepanjang Jalan Row 30. Lokasi ini sebagian telah dikuasai oleh kios-kios liar yang sebelumnya pernah ditertibkan oleh Pemerintah Kota Batam melalui operasi Satpol PP pada tahun 2021.

‎Namun kini, kios-kios itu kembali muncul dan memicu kemacetan serta mengganggu akses keluar masuk perusahaan di sekitar kawasan tersebut, termasuk PT SAP dan PT Putra Riau Enterprise.

‎“Saat ini sisi akses jalan keluar masuk Row 30 terhalang oleh pedagang liar yang berjualan. Ini sangat mengganggu akses ke lokasi kami,” ungkap Dedi, perwakilan manajemen PT SAP.

‎Ia menyebut para pedagang tersebut merupakan eks bangunan liar hasil penertiban sebelumnya. Selain itu, keberadaan parkir liar di sepanjang Row 30 juga turut memperparah kemacetan dan dinilai sebagai bentuk pelanggaran terhadap fungsi ruang milik jalan.

‎Dedi mengaku pihaknya telah berulang kali menyampaikan keluhan kepada PT WASCO agar karyawannya tidak parkir sembarangan di Row 30, namun hingga kini belum mendapat solusi.

‎“Kami sudah beberapa kali meminta PT WASCO agar karyawan mereka tidak parkir sembarangan di Row 30. Kami harap pemerintah melalui Dishub dan Satpol PP segera melakukan penertiban sesuai aturan yang berlaku,” tegasnya.

‎Polemik tak berhenti di Row 30. Pantauan di lapangan juga menunjukkan bahwa jalan utama Row 100yang merupakan jalur publik kini telah digunakan sebagai lokasi parkir roda dua oleh perusahaan-perusahaan di sekitarnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan dari masyarakat terkait transparansi penggunaan lahan tersebut, mengingat tidak ada keterangan resmi dari pihak pemerintah hingga saat ini.

‎Ketika dikonfirmasi, Kepala Dinas Perhubungan Kota Batam, Salim, enggan memberikan komentar, menambah spekulasi publik mengenai ketidaktegasan atau kurangnya pengawasan pemerintah daerah dalam penataan kawasan industri.

‎“Masalah ini sudah terlalu lama tanpa tindakan tegas. Ini merugikan kami sebagai penerima alokasi lahan,” tambah Dedi, yang juga mengungkap bahwa PT Putra Riau Enterprise telah mengajukan permohonan penertiban serupa sejak lama namun belum direspons.

‎Kondisi kawasan Row 30 dan Row 100 yang padat dengan pedagang dan kendaraan parkir sembarangan kini menjadi sorotan. Masyarakat dan pelaku usaha berharap Pemerintah Kota Batam dapat segera turun tangan dengan tindakan konkret, baik melalui penataan ulang, penegakan hukum, maupun pengawasan pemanfaatan fasilitas umum secara adil dan terbuka.

‎Situasi ini juga menimbulkan pertanyaan lebih lanjut: Apakah pihak perusahaan telah menyiapkan fasilitas parkir internal yang memadai? Atau justru ketiadaan sarana ini yang menyebabkan menjamurnya parkir liar dan kios ilegal?

‎Pemerintah diharapkan segera melakukan audit tata ruang dan menegakkan aturan demi kepastian hukum, keteraturan kawasan industri, dan keadilan bagi semua pihak. (Mat)

‎

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Dukung Kebutuhan Data Centre, Citramas Group Investasi Rp 600 Miliar Bangun SWRO Kabil

Dukung Kebutuhan Data Centre, Citramas Group Investasi Rp 600 Miliar Bangun SWRO Kabil

9info.co.id | BATAM – Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menghadiri Groundbreaking pembangunan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Kabil, Kamis (5/11/2026).

Pembangunan SWRO tahap pertama ini merupakan komitmen investasi dari Citramas Group dengan nilai proyek sebesar USD 32,8 juta atau sekitar Rp 600 miliar.

Amsakar menjelaskan, pembangunan SWRO Kabil ini akan berlangsung dalam dua tahapan. Tahap pertama ini memiliki kapasitas produksi sebesar 300 lps. Pembangunan akan berlanjut untuk tahap kedua dengan kapasitas produksi 400 lps.

Kehadiran fasilitas pendukung investasi ini, lanjut Amsakar, merupakan langkah strategis dalam memperkuat pasokan air untuk proyek Data Centre dan Kawasan Terintegrasi di dalamnya.

Menurutnya, pembangunan ini tidak hanya menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek kemajuan Batam, tetapi juga menjadi kontribusi dunia usaha dalam memperkuat kesiapan infrastruktur investasi.

“Kami mengapresiasi langkah Citramas yang telah mengambil bagian dalam memperhatikan pasokan air di Batam. Ini merupakan komitmen investasi yang patut kita dukung bersama karena kebutuhan air menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan industri, termasuk pengembangan Data Centre di Batam,” ujar Amsakar.

Ia berharap, investasi tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan kawasan industri sekaligus memperkuat daya saing Batam sebagai tujuan investasi.

Pembangunan ini juga menjawab tantangan pasokan air untuk pengembangan investasi Data Centre ke depannya.

“Investasi tidak hanya berbicara tentang pembangunan fasilitas usaha, tetapi juga bagaimana kita memastikan infrastruktur pendukungnya tersedia dengan baik. Ketersediaan air yang memadai akan memberikan kepastian bagi pelaku usaha untuk mengembangkan kegiatan investasinya. Karena itu, sinergi seperti ini perlu terus kita perkuat,” tambahnya.

Sementara itu, kebutuhan air untuk kawasan Kabil Industrial Estate (KIE) dan Nongsa Digital Park (NDP) selama ini telah mendapat dukungan dari pembangunan embung mandiri yang berada di wilayah Kabil. Embung tersebut memiliki kapasitas sekitar 5.200 meter kubik per hari (60,2 lps) untuk mendukung kebutuhan air di kawasan tersebut.

Selain pembangunan SWRO, Citramas Group tengah mempercepat pembangunan embung di wilayah Nongsa Digital Park. Upaya ini menjadi bagian dari penguatan infrastruktur air untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan seiring dengan berkembangnya aktivitas industri dan investasi di kawasan Nongsa.

BP Batam memandang pengembangan infrastruktur air melalui investasi dan penyediaan fasilitas pendukung secara berkelanjutan sebagai langkah penting dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif.

“Melalui kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha, Batam diharapkan semakin siap memenuhi kebutuhan infrastruktur dasar, memberikan kepastian bagi investor, serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat. Dan pembangunan ini harus kita dukung agar tidak ada kendala dan dapat terselesaikan sampai waktu yang telah ditentukan,” tutup Amsakar.

Senada, CEO Citramas Group, Michael Wiluan, menambahkan bahwa pihaknya menyadari keberhasilan pengembangan Data Centre bergantung pada ketersediaan infrastruktur dasar yang andal. Khususnya pasokan air bagi keberlangsungan industri.

Pembangunan SWRO Kabil ini, lanjutnya, menjadi salah satu langkah strategis agar pertumbuhan investasi digital tersebut dapat terealisasi optimal.

Di samping SWRO, Citramas juga telah memastikan pasokan energi lain seperti listrik dan konektivitas internet dengan beberapa mitra strategis serta instansi terkait dapat tercukupi.

“Kami hari ini akan memulai tahapan pembangunan fasilitas SWRO 300 lps tahap pertama dengan target operasi hingga November 2027 dari total rencana kapasitas 700 lps. Pembangunan ini sekaligus menjadi bagian komitmen kami untuk membangun kawasan industri yang tidak hanya kompetitif tapi ikut bertanggung jawab terhadap pengelolaan infrastruktur pendukung investasi,” tegas Michael Wiluan.

Michael menjelaskan bahwa selama ini Citramas Group juga telah menggarap suplai air bersih untuk kebutuhan Kawasan Kabil dan Nongsa secara mandiri sejak tahun 1992 melalui ketersediaan embung seluas 4 hektare di dalam kawasan Kabil.

Saat ini, lanjut Michael, produksi air bersih tersebut mencapai 5.200 meter kubik per hari (60,2 Lps). Dan pada awal tahun 2027, kapasitas tersebut akan ditingkatkan menjadi 10.000 meter kubik per hari (atau setara dengan 115,74 Lps), melalui penambahan embung baru di Nongsa serta proses daur ulang air limbah industri.

“Kami turut mengapresiasi dukungan BP Batam terhadap pertumbuhan investasi. Kami ingin agar pembangunan ini dapat berjalan lancar hingga waktu yang ditargetkan,” pungkasnya. (DN)

Continue Reading

Berita Lain