Connect with us

9info.co.id | BATAM – Pelaksanaan reses Anggota Komisi I DPRD Kota Batam, Jimmy Siburian, di lingkungan RT 02/RW 15 Kelurahan Mangsang, Kecamatan Sei Beduk berlangsung khidmat dan penuh antusias dari masyarakat setempat.

‎Kegiatan reses tersebut turut dihadiri Anggota Komisi III DPR RI, Rizki Faisal, yang hadir pada hari terakhir kegiatan reses yang digelar di kawasan Bida Ayu, Tanjung Piayu, Kota Batam.

‎Selain itu, acara juga dihadiri oleh Camat Sei Beduk, Kapolsek Sei Beduk, Lurah Mangsang, serta sejumlah tokoh masyarakat dan warga yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan berbagai aspirasi secara langsung kepada para wakil rakyat.

‎Dalam kesempatan itu, Rizki Faisal juga membagikan bantuan sembako kepada masyarakat yang hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap warga.

‎Dalam sambutannya, Rizki Faisal menekankan pentingnya sinergitas antara seluruh pemangku kepentingan di daerah, baik pemerintah, aparat keamanan maupun masyarakat.

Dihadiri Anggota DPR RI Rizki Faisal,SE.,MM., Reses Anggota Komisi I DPRD Batam Jimmy Siburian Tampung Aspirasi Warga Mangsang

Anggota DPR RI Rizki Faisal,SE.,MM., Hadir dalam Kegiatan Reses Anggota Komisi I DPRD Batam Jimmy Siburian Tampung Aspirasi Warga Mangsang

‎“Setiap pemangku jabatan di wilayah harus menjaga sinergitas dan kerja sama yang baik. Dengan kebersamaan tersebut, pembangunan daerah dapat berjalan lebih cepat, lancar, dan tepat sasaran,” ujarnya.

‎Sementara itu, dalam sesi dialog bersama masyarakat, sejumlah aspirasi disampaikan warga, di antaranya permintaan renovasi bangunan Posyandu, bantuan seragam bagi kader Posyandu, serta perbaikan saluran air atau drainase di lingkungan mereka yang dinilai perlu segera ditangani.

‎Menanggapi hal tersebut, Jimmy Siburian menyatakan komitmennya untuk mengakomodir dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat tersebut melalui jalur kelembagaan di DPRD Kota Batam.

‎Ia menegaskan bahwa kegiatan reses merupakan momentum penting bagi anggota legislatif untuk mendengar langsung kebutuhan masyarakat di daerah pemilihan.

‎“Kami hadir untuk mendengar langsung apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Aspirasi yang disampaikan akan kami perjuangkan agar dapat direalisasikan sesuai dengan mekanisme yang ada,” kata Jimmy.

‎Melalui kegiatan reses ini, diharapkan komunikasi antara masyarakat dan wakil rakyat dapat terus terjalin dengan baik, sehingga berbagai persoalan di lingkungan warga dapat segera mendapatkan perhatian dan solusi dari pemerintah daerah. (Mat).

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Skandal Infrastruktur di Lubuk Baja? Jalan Hancur, Drainase Diduga Ditutup, Respons Pemerintah Dipertanyakan

Skandal Infrastruktur di Lubuk Baja? Jalan Hancur, Drainase Diduga Ditutup, Respons Pemerintah Dipertanyakan

9info.co.id | BATAM – Kondisi memprihatinkan Jalan Raden Patah Blok 3, Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam, memicu sorotan publik dan berpotensi menjadi isu viral.

‎Kerusakan jalan yang semakin parah, disertai dugaan penutupan drainase tanpa bak kontrol, menimbulkan pertanyaan serius terhadap kinerja dan pengawasan pemerintah daerah.

‎Berdasarkan pantauan tim media di lapangan, ruas jalan tersebut dipenuhi lubang di berbagai titik dan kerap tergenang air saat hujan turun. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan serta mempercepat kerusakan infrastruktur.

‎Sejumlah pelaku usaha di kawasan itu mengaku terdampak langsung. Salah satunya, Lambok Pranata Sihombing, yang secara terbuka menyampaikan kekecewaannya terhadap minimnya perhatian pemerintah.

‎“Kami taat membayar pajak, tetapi kondisi jalan seperti ini seolah dibiarkan. Ini bukan kerusakan baru, sudah cukup lama,” ujarnya.

‎Permasalahan tidak berhenti pada kerusakan jalan. Temuan di lapangan menunjukkan adanya dugaan penutupan saluran drainase di sepanjang ruas Jalan Raden Patah, yang bahkan dimanfaatkan sebagai area parkir, mulai dari kawasan sekitar sekolah hingga mendekati area hotel. Ironisnya, penutupan tersebut tidak disertai pembangunan bak kontrol sebagai bagian dari standar sistem drainase yang semestinya.

‎Akibatnya, setiap kali hujan turun, kawasan ini dilaporkan mengalami genangan air dengan ketinggian mencapai sekitar 30 sentimeter. Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat kerusakan badan jalan.

‎Dari hasil investigasi, beberapa titik drainase terlihat tertutup permanen tanpa sistem pengendalian air yang memadai. Situasi ini semakin diperparah dengan adanya aktivitas pembangunan di sekitar kawasan dekat The L Hotel, di mana akses drainase di depan proyek juga diduga telah ditutup tanpa perencanaan teknis yang jelas.

‎Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran masyarakat akan potensi banjir yang lebih besar ke depan. Warga menilai, tanpa penanganan serius, kawasan ini dapat berubah menjadi titik rawan genangan permanen.

‎“Kalau hujan turun, ini bisa jadi seperti kolam. Harusnya ada bak kontrol, jangan asal tutup drainase,” tambah Lambok.

‎Dari perspektif hukum, dugaan penutupan drainase tanpa izin dan tanpa memenuhi standar teknis berpotensi melanggar ketentuan terkait tata kelola infrastruktur dan perlindungan lingkungan. Selain itu, pembiaran terhadap jalan rusak dapat dikategorikan sebagai bentuk kelalaian dalam penyelenggaraan pelayanan publik oleh pemerintah.

‎Sorotan juga mengarah kepada BP Batam yang dinilai belum optimal dalam melakukan pengawasan terhadap aktivitas pembangunan di kawasan tersebut. Padahal, setiap kegiatan pembangunan wajib memperhatikan keberlanjutan fungsi fasilitas umum, termasuk sistem drainase.

‎Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat pernyataan resmi dari Pemerintah Kota Batam maupun BP Batam terkait kondisi tersebut. Minimnya respons ini justru memperkuat persepsi publik adanya pembiaran terhadap persoalan yang berdampak langsung pada masyarakat.

‎Warga dan pelaku usaha mendesak pemerintah serta instansi terkait untuk segera mengambil langkah konkret, mulai dari perbaikan jalan, normalisasi drainase, hingga evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas pembangunan di lokasi tersebut. Tanpa tindakan cepat dan terukur, kerusakan infrastruktur ini dikhawatirkan akan terus meluas dan menimbulkan kerugian yang lebih besar. (RP).

Continue Reading
Kolom Iklan

Berita Lain