Connect with us

9info.co.id – Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), Jenderal TNI Dr. Dudung Abdurachman, Selasa (21/2/2023) menerima laporan Korps Kenaikan Pangkat 55 Perwira Tinggi (Pati) TNI AD di Aula Jenderal Besar A.H. Nasution, Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad), Jakarta.

Mereka yang melaporkan kenaikan pangkatnya , terdiri dari seorang Pati berpangkat Letnan Jenderal (Letjen TNI), 10 Pati berpangkat Mayor Jenderal (Mayjen TNI) dan 44 Pati berpangkat Brigadir Jenderal (Brigjen TNI).

Satu-satunya Pati yang naik pangkat menyandang bintang tiga adalah Letjen TNI Dr. Anton Nugroho, M.M.D.S., kini menjabat Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Danpussenif).

Sedangkan 10 Pati yang dinaikkan pangkatnya menjadi Mayjen TNI terdiri dari Mayjen TNI Yos Trioso, S.E. (Ketua LP2M Unhan); Mayjen TNI Nissa Yani (Aslog Panglima TNI); Mayjen TNI Ketut Duara, S.E., M. Tr (Han) (Danseskoad); Mayjen TNI Widjanarko, S.Sos. (Pa Sahli Kasad Tk. III Bidang Intekmil dan Siber); Mayjen TNI Gathut Setyo Utamo, S.I.P., M.I.P. (Tenaga Ahli Pengkaji Bidang Geografi Lemhanas).

Selanjutnya Mayjen TNI Dr. Drs. A. Jaka Tandang, M.C.S., M.A.P., (Asintel Kasad); Mayjen TNI Agus Prangarso, S.Sos. (Pasahli Kasad Tk. III Bidang Banusia); Mayjen TNI Hari Arif Wibowo, S.I.P. (Aslog Kasad); Mayjen TNI Eka Wijaya Permana, S.H. (Wadanpuspomad); dan Mayjen TNI Mujahidin, S.H. (Staf Ahli Bidang Ideologi dan Politik BIN).

Sedangkan 44 Pati lainnya yang dinaikkan pangkatnya menjadi Brigadir Jenderal (Brigjen TNI) menduduki jabatan di dalam dan di luar struktur TNI/TNI AD, antara lain Kepala Dinas Psikologi Angkatan Darat (Kadispsiad) Brigjen TNI Heny Setyono, S.Psi. M.Si.; Dir. H Bais TNI Brigjen TNI Safta Feryansyah, S.E., S.I.P dan Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia BSSN Brigjen TNI Rory Ojak Halomoan Sitorus, S.I.P., M.Si.(Han) serta Karo Humas Setjen Kemhan Brigjen TNI Edwin Adrian Sumantha, S.H.,PG. Dipl., M.Han., beserta 40 Pati berpangkat Brigjen lainnya. (Nat)

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Kasus Kematian Bripda NS Terkuak, Empat Polisi Resmi Di PTDH dan Jadi Tersangka

Kasus Kematian Bripda NS Terkuak, Empat Polisi Resmi Di PTDH dan Jadi Tersangka

9info.co.id | BATAM – Kasus kematian tragis Bripda Natanael Simanungkalit (NS) mengguncang publik. Polda Kepulauan Riau akhirnya menjatuhkan sanksi tegas berupa Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) terhadap empat personel Ditsamapta Polda Kepri yang diduga terlibat dalam penganiayaan hingga menyebabkan korban meninggal dunia.

‎Putusan tersebut diambil dalam Sidang Komisi Kode Etik Profesi (KKEP) yang digelar pada Jumat (17/4/2026) di Ruang Sidang KKEP Polda Kepri.

‎Kepastian ini disampaikan langsung oleh Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol. Dr. Nona Pricillia Ohei, didampingi Dirreskrimum Kombes Pol. Ronni Bonic serta Kabid Propam Kombes Pol. Eddwi Kurniyanto dalam keterangan pers di Lobi Polda Kepri, Jumat malam.

‎Dalam pernyataannya, pihak kepolisian juga menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Bripda NS.

‎“Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik dan keluarga diberikan kekuatan,” ujar Kabid Humas.
‎Terbukti Bersalah, Langsung Dipecat
‎Empat personel yang menjalani sidang etik yakni Bripda AS, Bripda AP, Bripda GSP, dan Bripda MA.

‎Hasil sidang menyatakan keempatnya terbukti melanggar kode etik profesi Polri. Selain dinyatakan melakukan perbuatan tercela, mereka juga dijatuhi sanksi administratif paling berat, yakni PTDH.
‎Kabid Propam menegaskan, keputusan tersebut diambil berdasarkan fakta persidangan yang kuat.

‎“Seluruh unsur pelanggaran terpenuhi, berdasarkan alat bukti, saksi, dan keterangan ahli. Karena itu dijatuhi sanksi PTDH,” tegasnya.

Tidak Hanya Etik, Proses Pidana Berjalan

‎Tak berhenti di sanksi etik, proses hukum pidana terhadap para pelaku juga terus berjalan.

‎Dirreskrimum Polda Kepri mengungkapkan bahwa kasus ini telah naik ke tahap penyidikan dan penetapan tersangka.

‎Bripda AS lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka pada 15 April 2026. Setelah pengembangan, tiga nama lainnya yakni Bripda GSP, Bripda MA, dan Bripda AP turut ditetapkan sebagai tersangka.

‎Para tersangka dijerat dengan Pasal 466 ayat (3) KUHP sebagai pasal primer, subsider Pasal 468 ayat (2) KUHP juncto Pasal 20 huruf c KUHP terkait penyertaan dalam tindak pidana penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

‎Ancaman hukuman tidak main-main, yakni hingga 7 tahun penjara untuk pasal primer dan maksimal 10 tahun penjara untuk pasal subsider.

‎“Siapa pun yang terbukti terlibat akan diproses secara tegas, profesional, dan berkeadilan,” tegas Dirreskrimum.

Tiga Pelaku Ajukan Banding

‎Atas putusan sidang etik tersebut, Bripda AS menyatakan menerima. Namun tiga lainnya yakni Bripda AP, Bripda GSP, dan Bripda MA memilih melawan dengan mengajukan banding dalam waktu tiga hari sesuai ketentuan.

Komitmen Tegas Polda Kepri

‎Kasus ini menjadi sorotan luas dan viral di masyarakat. Polda Kepri pun menegaskan tidak akan memberi toleransi terhadap pelanggaran hukum maupun etik di internal kepolisian.

‎“Ini bentuk komitmen kami menjaga disiplin, marwah institusi, serta kepercayaan publik,” tutup Kabid Humas.

‎Kasus kematian Bripda NS kini menjadi simbol bahwa penegakan hukum tidak pandang bulu bahkan terhadap aparat itu sendiri. (Hum)

Continue Reading
Kolom Iklan

Berita Lain