Connect with us

9info.co.id | SUMUT – Proses Lelang Umum (E-Tender) Pengadaan Jasa Tenaga Kerja Outsourcing untuk Fungsi Pengamanan dan Airport Rescue & Fire Fighting (ARFF) di Bandara Internasional Kualanamu (KNIA) yang digelar PT Angkasa Pura Aviasi (AP Aviasi) kini menuai polemik. PT Duta Agung Group, salah satu peserta tender, melayangkan protes keras setelah hasil lelang yang sebelumnya menyatakan mereka sebagai satu-satunya peserta lolos kualifikasi justru dibatalkan sepihak oleh AP Aviasi.

Kontroversi memanas setelah muncul dugaan adanya “permainan internal” antara AP Aviasi dan IAS Support—anak perusahaan dari PT Integrasi Aviasi Solusi yang berada dalam grup Injourney. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa paket proyek tersebut selama ini selalu dimenangkan IAS Support meski perusahaan itu diduga tidak memiliki SIO/BUJP yang sah sebagai penyedia jasa pengamanan.

Investigasi menyebutkan IAS Support diduga tetap digunakan oleh AP Aviasi meski belum mengantongi izin operasional BUJP untuk wilayah Polda Sumut. Kejanggalan lainnya muncul ketika IAS Support mulai mengurus izin BUJP justru setelah dinyatakan gugur pada evaluasi administrasi dan teknis tender Avsec Kualanamu karena tidak memenuhi persyaratan tersebut.

Di tengah proses pengurusan izin itu, AP Aviasi tiba-tiba membatalkan hasil tender yang sebelumnya memenangkan PT Duta Agung Group dengan alasan masa berlaku penawaran telah kedaluwarsa. Padahal, dokumen penawaran telah diperpanjang sesuai permintaan resmi panitia pengadaan.

“Awalnya hasilnya ditunda hampir empat bulan, lalu mendadak dibatalkan. Padahal hanya satu perusahaan yang lolos, yaitu kami,” ujar Direktur PT Duta Agung Group, Sukdeep Ibrahim Shah, Kamis (6/11/2025). Ia menduga pembatalan tender berkaitan dengan proses pengurusan izin BUJP IAS Support yang sebelumnya tidak memenuhi syarat.

Sukdeep juga menyoroti negosiasi yang disebut tidak wajar. AP Aviasi meminta manajemen fee turun hingga 2,27%, jauh di bawah standar dan tidak realistis dibandingkan perusahaan existing yang selama ini dikontrak AP Aviasi dengan manajemen fee 9,8%. “Ini sangat tidak masuk akal. Semua harga kami sudah di bawah HPS. Kami menduga keputusan ini untuk memuluskan anak perusahaan sendiri,” tegasnya.

PT Duta Agung menyatakan siap menempuh jalur hukum jika tidak ada klarifikasi memadai dari AP Aviasi, termasuk opsi pidana, perdata, maupun menggugat ke PTUN.

Hingga berita ini diturunkan, Plt Direktur Utama PT Angkasa Pura Aviasi, Yosrizal Syamsuri, belum memberikan respons. Sementara itu, Direktur Human Capital AP Aviasi, Haris, menyerahkan urusan tersebut kepada tim legal perusahaan. “Nanti team legal yang memberikan keterangan resmi,” ujarnya singkat melalui pesan WhatsApp.

Dihubungi terpisah, pihak Legal AP Aviasi, Hikmat, menyatakan masih melakukan pengecekan prosedur dan regulasi. Namun ketika ditanya mengenai dugaan keterlibatan IAS Support yang belum memiliki izin BUJP, tidak ada jawaban lanjutan.

Dalam surat keberatan resmi tertanggal 3 November 2025, PT Duta Agung Group merinci sejumlah pelanggaran prosedur yang diduga dilakukan panitia pengadaan, mulai dari negosiasi tidak wajar, manipulasi masa berlaku penawaran, hingga dugaan penyalahgunaan wewenang. Mereka menuntut evaluasi ulang proses tender sebelum menempuh langkah hukum.

Jika tidak ada klarifikasi resmi, PT Duta Agung menegaskan akan membawa persoalan ini ke aparat penegak hukum serta melaporkannya kepada pemegang saham dan otoritas terkait demi mendapatkan kepastian hukum. (Tim)

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Dukung Kebutuhan Data Centre, Citramas Group Investasi Rp 600 Miliar Bangun SWRO Kabil

Dukung Kebutuhan Data Centre, Citramas Group Investasi Rp 600 Miliar Bangun SWRO Kabil

9info.co.id | BATAM – Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menghadiri Groundbreaking pembangunan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Kabil, Kamis (5/11/2026).

Pembangunan SWRO tahap pertama ini merupakan komitmen investasi dari Citramas Group dengan nilai proyek sebesar USD 32,8 juta atau sekitar Rp 600 miliar.

Amsakar menjelaskan, pembangunan SWRO Kabil ini akan berlangsung dalam dua tahapan. Tahap pertama ini memiliki kapasitas produksi sebesar 300 lps. Pembangunan akan berlanjut untuk tahap kedua dengan kapasitas produksi 400 lps.

Kehadiran fasilitas pendukung investasi ini, lanjut Amsakar, merupakan langkah strategis dalam memperkuat pasokan air untuk proyek Data Centre dan Kawasan Terintegrasi di dalamnya.

Menurutnya, pembangunan ini tidak hanya menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek kemajuan Batam, tetapi juga menjadi kontribusi dunia usaha dalam memperkuat kesiapan infrastruktur investasi.

“Kami mengapresiasi langkah Citramas yang telah mengambil bagian dalam memperhatikan pasokan air di Batam. Ini merupakan komitmen investasi yang patut kita dukung bersama karena kebutuhan air menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan industri, termasuk pengembangan Data Centre di Batam,” ujar Amsakar.

Ia berharap, investasi tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan kawasan industri sekaligus memperkuat daya saing Batam sebagai tujuan investasi.

Pembangunan ini juga menjawab tantangan pasokan air untuk pengembangan investasi Data Centre ke depannya.

“Investasi tidak hanya berbicara tentang pembangunan fasilitas usaha, tetapi juga bagaimana kita memastikan infrastruktur pendukungnya tersedia dengan baik. Ketersediaan air yang memadai akan memberikan kepastian bagi pelaku usaha untuk mengembangkan kegiatan investasinya. Karena itu, sinergi seperti ini perlu terus kita perkuat,” tambahnya.

Sementara itu, kebutuhan air untuk kawasan Kabil Industrial Estate (KIE) dan Nongsa Digital Park (NDP) selama ini telah mendapat dukungan dari pembangunan embung mandiri yang berada di wilayah Kabil. Embung tersebut memiliki kapasitas sekitar 5.200 meter kubik per hari (60,2 lps) untuk mendukung kebutuhan air di kawasan tersebut.

Selain pembangunan SWRO, Citramas Group tengah mempercepat pembangunan embung di wilayah Nongsa Digital Park. Upaya ini menjadi bagian dari penguatan infrastruktur air untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan seiring dengan berkembangnya aktivitas industri dan investasi di kawasan Nongsa.

BP Batam memandang pengembangan infrastruktur air melalui investasi dan penyediaan fasilitas pendukung secara berkelanjutan sebagai langkah penting dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif.

“Melalui kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha, Batam diharapkan semakin siap memenuhi kebutuhan infrastruktur dasar, memberikan kepastian bagi investor, serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat. Dan pembangunan ini harus kita dukung agar tidak ada kendala dan dapat terselesaikan sampai waktu yang telah ditentukan,” tutup Amsakar.

Senada, CEO Citramas Group, Michael Wiluan, menambahkan bahwa pihaknya menyadari keberhasilan pengembangan Data Centre bergantung pada ketersediaan infrastruktur dasar yang andal. Khususnya pasokan air bagi keberlangsungan industri.

Pembangunan SWRO Kabil ini, lanjutnya, menjadi salah satu langkah strategis agar pertumbuhan investasi digital tersebut dapat terealisasi optimal.

Di samping SWRO, Citramas juga telah memastikan pasokan energi lain seperti listrik dan konektivitas internet dengan beberapa mitra strategis serta instansi terkait dapat tercukupi.

“Kami hari ini akan memulai tahapan pembangunan fasilitas SWRO 300 lps tahap pertama dengan target operasi hingga November 2027 dari total rencana kapasitas 700 lps. Pembangunan ini sekaligus menjadi bagian komitmen kami untuk membangun kawasan industri yang tidak hanya kompetitif tapi ikut bertanggung jawab terhadap pengelolaan infrastruktur pendukung investasi,” tegas Michael Wiluan.

Michael menjelaskan bahwa selama ini Citramas Group juga telah menggarap suplai air bersih untuk kebutuhan Kawasan Kabil dan Nongsa secara mandiri sejak tahun 1992 melalui ketersediaan embung seluas 4 hektare di dalam kawasan Kabil.

Saat ini, lanjut Michael, produksi air bersih tersebut mencapai 5.200 meter kubik per hari (60,2 Lps). Dan pada awal tahun 2027, kapasitas tersebut akan ditingkatkan menjadi 10.000 meter kubik per hari (atau setara dengan 115,74 Lps), melalui penambahan embung baru di Nongsa serta proses daur ulang air limbah industri.

“Kami turut mengapresiasi dukungan BP Batam terhadap pertumbuhan investasi. Kami ingin agar pembangunan ini dapat berjalan lancar hingga waktu yang ditargetkan,” pungkasnya. (DN)

Continue Reading

Berita Lain