Connect with us
david dan mangihut

Klarifikasi Terbuka, David Sembiring, S.H, : Mangihut Rajagukguk Tak Terlibat dalam Proyek Penjualan Pasir Seatrium

More Videos

9info.co.id | BATAM — Polemik seputar proyek penjualan pasir sedimen Seatrium akhirnya mendapatkan titik terang. Dalam konferensi pers yang digelar pada Selasa pagi (07/05), Hendrick Rajagukguk bersama mitra kerjanya, Sahat Siburian, memberikan klarifikasi terbuka terkait tudingan yang melibatkan nama Mangihut Rajagukguk, S.E., M.M., dalam proyek tersebut.

Didampingi penasihat hukumnya David Sembiring, S.H., keduanya menegaskan bahwa Mangihut Rajagukguk tidak memiliki keterlibatan dalam kerja sama penjualan pasir maupun pendanaan proyek.

“Berdasarkan Akta Notaris Perjanjian Kerjasama Penjualan Pasir Seatrium Nomor: 152/L/2025, nama Mangihut tidak tercantum sebagai pihak yang terlibat dalam kerja sama maupun permodalan,” jelas Hendrick.

Proyek ini sendiri merupakan hasil perjanjian jual beli antara Hendrick Rajagukguk dan Abrizal Azim Zaini yang disepakati pada tahun 2024, dengan volume penjualan mencapai 150.000 meter kubik pasir sedimen. Dalam pelaksanaannya, Hendrick menggandeng Sahat Siburian sebagai mitra dengan pembagian keuntungan resmi di bawah akta notaris.

Perselisihan muncul saat alat pengeruk pasir yang disewa dari Hendriyanto Dakhi mengalami kendala perizinan, menimbulkan kerugian bagi pihak penyedia alat. Dalam upaya mencari solusi, Hendrick sempat meminta masukan pribadi dari adiknya, Mangihut Rajagukguk.

Namun, kehadiran Mangihut belakangan disalahartikan oleh publik sebagai bentuk keterlibatan langsung dalam proyek. Menanggapi hal ini, Hendrick menegaskan bahwa hal tersebut tidak benar.

“Beliau (Mangihut) hanya memberikan nasihat secara kekeluargaan dan tidak terlibat dalam bisnis maupun keuntungan proyek. Tidak ada kontribusi finansial atau permintaan saham dari beliau,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Hendrick juga secara terbuka meminta maaf kepada Mangihut dan keluarganya atas pencemaran nama baik yang timbul akibat kesalahpahaman ini. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Hendriyanto Dakhi yang telah memilih penyelesaian damai dan mencabut laporan pengaduan.

Sahat Siburian turut memperkuat pernyataan tersebut, menyebut bahwa semua aktivitas proyek telah dilakukan secara profesional dan transparan, sesuai dengan hukum yang berlaku.

Sebagai penutup, Hendrick dan Sahat menghimbau media serta masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang tidak terverifikasi mengenai Mangihut Rajagukguk, demi menjaga kebenaran dan nama baik semua pihak.

“Kami siap memberikan klarifikasi tambahan jika diperlukan. Mari kita jaga objektivitas bersama,” pungkas Hendrick.(RP)

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Dukung Kebutuhan Data Centre, Citramas Group Investasi Rp 600 Miliar Bangun SWRO Kabil

9info.co.id | BATAM – Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menghadiri Groundbreaking pembangunan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Kabil, Kamis (5/11/2026).

Pembangunan SWRO tahap pertama ini merupakan komitmen investasi dari Citramas Group dengan nilai proyek sebesar USD 32,8 juta atau sekitar Rp 600 miliar.

Amsakar menjelaskan, pembangunan SWRO Kabil ini akan berlangsung dalam dua tahapan. Tahap pertama ini memiliki kapasitas produksi sebesar 300 lps. Pembangunan akan berlanjut untuk tahap kedua dengan kapasitas produksi 400 lps.

Kehadiran fasilitas pendukung investasi ini, lanjut Amsakar, merupakan langkah strategis dalam memperkuat pasokan air untuk proyek Data Centre dan Kawasan Terintegrasi di dalamnya.

Menurutnya, pembangunan ini tidak hanya menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek kemajuan Batam, tetapi juga menjadi kontribusi dunia usaha dalam memperkuat kesiapan infrastruktur investasi.

“Kami mengapresiasi langkah Citramas yang telah mengambil bagian dalam memperhatikan pasokan air di Batam. Ini merupakan komitmen investasi yang patut kita dukung bersama karena kebutuhan air menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan industri, termasuk pengembangan Data Centre di Batam,” ujar Amsakar.

Ia berharap, investasi tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan kawasan industri sekaligus memperkuat daya saing Batam sebagai tujuan investasi.

Pembangunan ini juga menjawab tantangan pasokan air untuk pengembangan investasi Data Centre ke depannya.

“Investasi tidak hanya berbicara tentang pembangunan fasilitas usaha, tetapi juga bagaimana kita memastikan infrastruktur pendukungnya tersedia dengan baik. Ketersediaan air yang memadai akan memberikan kepastian bagi pelaku usaha untuk mengembangkan kegiatan investasinya. Karena itu, sinergi seperti ini perlu terus kita perkuat,” tambahnya.

Sementara itu, kebutuhan air untuk kawasan Kabil Industrial Estate (KIE) dan Nongsa Digital Park (NDP) selama ini telah mendapat dukungan dari pembangunan embung mandiri yang berada di wilayah Kabil. Embung tersebut memiliki kapasitas sekitar 5.200 meter kubik per hari (60,2 lps) untuk mendukung kebutuhan air di kawasan tersebut.

Selain pembangunan SWRO, Citramas Group tengah mempercepat pembangunan embung di wilayah Nongsa Digital Park. Upaya ini menjadi bagian dari penguatan infrastruktur air untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan seiring dengan berkembangnya aktivitas industri dan investasi di kawasan Nongsa.

BP Batam memandang pengembangan infrastruktur air melalui investasi dan penyediaan fasilitas pendukung secara berkelanjutan sebagai langkah penting dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif.

“Melalui kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha, Batam diharapkan semakin siap memenuhi kebutuhan infrastruktur dasar, memberikan kepastian bagi investor, serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat. Dan pembangunan ini harus kita dukung agar tidak ada kendala dan dapat terselesaikan sampai waktu yang telah ditentukan,” tutup Amsakar.

Senada, CEO Citramas Group, Michael Wiluan, menambahkan bahwa pihaknya menyadari keberhasilan pengembangan Data Centre bergantung pada ketersediaan infrastruktur dasar yang andal. Khususnya pasokan air bagi keberlangsungan industri.

Pembangunan SWRO Kabil ini, lanjutnya, menjadi salah satu langkah strategis agar pertumbuhan investasi digital tersebut dapat terealisasi optimal.

Di samping SWRO, Citramas juga telah memastikan pasokan energi lain seperti listrik dan konektivitas internet dengan beberapa mitra strategis serta instansi terkait dapat tercukupi.

“Kami hari ini akan memulai tahapan pembangunan fasilitas SWRO 300 lps tahap pertama dengan target operasi hingga November 2027 dari total rencana kapasitas 700 lps. Pembangunan ini sekaligus menjadi bagian komitmen kami untuk membangun kawasan industri yang tidak hanya kompetitif tapi ikut bertanggung jawab terhadap pengelolaan infrastruktur pendukung investasi,” tegas Michael Wiluan.

Michael menjelaskan bahwa selama ini Citramas Group juga telah menggarap suplai air bersih untuk kebutuhan Kawasan Kabil dan Nongsa secara mandiri sejak tahun 1992 melalui ketersediaan embung seluas 4 hektare di dalam kawasan Kabil.

Saat ini, lanjut Michael, produksi air bersih tersebut mencapai 5.200 meter kubik per hari (60,2 Lps). Dan pada awal tahun 2027, kapasitas tersebut akan ditingkatkan menjadi 10.000 meter kubik per hari (atau setara dengan 115,74 Lps), melalui penambahan embung baru di Nongsa serta proses daur ulang air limbah industri.

“Kami turut mengapresiasi dukungan BP Batam terhadap pertumbuhan investasi. Kami ingin agar pembangunan ini dapat berjalan lancar hingga waktu yang ditargetkan,” pungkasnya. (DN)

Continue Reading

Berita Lain

Exit mobile version