Connect with us

9info.co.id | BATAM – Ketua RW 05 Kelurahan Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batuampar, Ramli Nasution, bersama warga menyesalkan langkah Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) Batam yang melaporkan Anggota DPRD Kota Batam Ruslan Sinaga ke Badan Kehormatan (BK) DPRD Batam atas tudingan pelanggaran etika.

‎Ramli menegaskan, Ruslan Sinaga justru hadir ke RSBK dalam rangka menindaklanjuti aduan warga terkait dugaan permintaan uang jaminan (DP) kepada pasien Unit Gawat Darurat (UGD).

‎“Saya sebagai tokoh masyarakat sangat menyesalkan tindakan pihak rumah sakit. Bahkan ada oknum anggota DPRD Provinsi Kepri yang datang dan terkesan memback-up pihak rumah sakit saat kami berada di RSBK,” ujar Ramli, Rabu (24/12/2025).

‎Ramli menegaskan dirinya merupakan saksi langsung atas kedatangan Ruslan Sinaga ke rumah sakit tersebut. Ia menyebut, persoalan itu bermula dari laporan warga, khususnya Aren, suami pasien yang mengaku diminta DP oleh pihak rumah sakit.

‎“Masalah ini saya yang melaporkan langsung ke Ibu Dewan Ruslan Sinaga. Jadi tidak benar kalau beliau datang tanpa dasar,” tegasnya.

‎Ramli juga membantah anggapan bahwa dirinya memiliki kepentingan politik dengan Ruslan Sinaga. Ia mengaku mengenal Ruslan saat kegiatan reses di lingkungan tempat tinggalnya.

‎“Jujur, saya tidak ada kepentingan politik. Saya mengenal beliau saat reses. Saya melihat kinerja dan responnya terhadap masyarakat sangat baik. Kami sebagai warga merasakan langsung keberpihakan beliau,” ungkap Ramli.

‎Menurutnya, tindakan Ruslan Sinaga murni sebagai bentuk kepedulian wakil rakyat terhadap masyarakat kecil yang tengah kesulitan mendapatkan layanan kesehatan.

‎“Yang dibela Ibu Dewan Ruslan ini rakyat kecil. Kalau soal etika, seharusnya dilihat dulu akar masalahnya. Jangan wakil rakyat yang membela masyarakat malah disudutkan,” pungkasnya.

ruslan sinaga

Ruslan Sinaga – Anggota DPRD Kota Batam Fraksi Hanura.

Ruslan Sinaga Tegaskan Datang Bela Warga dan Tolak Pelayanan Kesehatan Berbasis DP

‎Anggota DPRD Kota Batam Ruslan Sinaga angkat bicara terkait laporan Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) Batam ke Badan Kehormatan (BK) DPRD Batam yang menuding dirinya bersikap arogan dan melanggar etika.

‎Ruslan menegaskan, kedatangannya ke RSBK semata-mata untuk menindaklanjuti aduan warga yang disampaikan melalui Ketua RW terkait dugaan permintaan uang jaminan (DP) sebesar Rp2,5 juta kepada pasien UGD karena status BPJS tidak aktif selama dua bulan.

‎“RW menyampaikan kepada saya, pasien diminta DP Rp2,5 juta. Kalau tidak dibayar, pasien tidak ditangani. Akhirnya keluarga pasien terpaksa meminjam uang ke tetangga,” ujar Ruslan dalam keterangannya.

‎Ia menjelaskan, pihak rumah sakit sempat menyampaikan bahwa DP akan dikembalikan setelah BPJS pasien diaktifkan kembali. Namun hingga pasien selesai menjalani perawatan, pengembalian dana tersebut belum juga direalisasikan.

‎“Sudah dua minggu dibilang masih proses. Padahal uang itu uang pinjaman warga,” ungkapnya.

‎Menindaklanjuti hal tersebut, Ruslan bersama Ketua RW dan keluarga pasien mendatangi RSBK. Ia menegaskan datang dengan itikad baik dan mempertanyakan dasar pemungutan DP serta keterlambatan pengembalian dana.
‎“Saya datang baik-baik, hanya ingin penjelasan,” katanya.

‎Namun Ruslan mengaku harus menunggu lebih dari satu jam tanpa kejelasan, bahkan dipingpong dari satu lokasi ke lokasi lain tanpa bertemu pihak manajemen rumah sakit.

‎“Saya menunggu lama, manajemen katanya mau turun tapi tidak datang. Ini soal kepentingan rakyat,” tegasnya.

‎Situasi tersebut, lanjut Ruslan, membuat dirinya bersikap lebih tegas. Ia menilai wajar jika emosinya muncul karena persoalan yang dihadapi menyangkut hak masyarakat kecil.

‎“Kalau anggota DPRD saja diperlakukan seperti itu, bagaimana rakyat biasa? Yang saya bela ini rakyat kecil,” ujarnya.

‎Ruslan juga mempertanyakan kebijakan rumah sakit yang menahan DP dengan alasan menunggu klaim BPJS, padahal pemerintah telah menyediakan mekanisme pelayanan kesehatan menggunakan KTP bagi warga yang BPJS-nya tidak aktif.

‎“Kalau BPJS mati, seharusnya bisa pakai KTP. Jangan sampai pelayanan kesehatan justru memberatkan masyarakat,” tegasnya.

‎Terkait laporan ke BK DPRD Batam, Ruslan menilai tudingan pelanggaran etika tidak melihat persoalan secara utuh.
‎“Jangan hanya lihat reaksinya, tapi lihat penyebabnya. Ada sebab kenapa saya bersikap tegas,” katanya.

‎Sebagai tindak lanjut, DPRD Batam berencana menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan menghadirkan pihak RSBK, BPJS Kesehatan, dan Dinas Kesehatan Kota Batam.

‎“RDP ini penting agar persoalan jelas dan tidak terulang. Saya ingin pelayanan kesehatan tanpa DP, sejalan dengan program Presiden Prabowo,” ujarnya.
‎Ruslan juga menyatakan siap menghadapi pemeriksaan BK DPRD Batam dengan menghadirkan saksi dari RW, RT, dan keluarga pasien.

‎“Saya siap dan tidak gentar. Saya akan tetap berdiri membela masyarakat,” pungkasnya. (RP)

Continue Reading
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

BP Batam International Football Festival 2026: Membangun Fondasi Sepak Bola Dari Perbatasan

BP Batam International Football Festival 2026: Membangun Fondasi Sepak Bola Dari Perbatasan

9info.co.id | BATAM – Keberhasilan Ramadhan Sananta menembus panggung sepak bola nasional menjadi bukti nyata bahwa talenta dari Kepulauan Riau (Kepri) mampu bersaing di level tertinggi.

Terinspirasi dari jejak striker Tim Nasional Indonesia tersebut, Badan Pengusahaan (BP) Batam menginisiasi BP Batam International Football Festival 2026, sebuah gerakan pembinaan sepak bola usia dini untuk kategori umur U-8, U-10, dan U-12.

Semangat pembinaan ini mengemuka dalam pertemuan santai antara Pembina BP Batam International Football Festival yang juga Anggota/Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, bersama Ramadhan Sananta di Restoran Pagi Sore, Batam.

Dalam suasana hangat, keduanya berdiskusi mengenai masa depan sepak bola Kepri, pentingnya pembinaan sejak dini, serta strategi membuka jalan bagi talenta lokal menuju pentas dunia.

Menurut Fary Francis, Kepri memiliki modal besar berupa bakat-bakat muda. Namun, mereka membutuhkan ruang berkembang melalui kompetisi yang berkelanjutan.

“Jejak Sananta membuktikan anak daerah bisa mencapai level tertinggi. Tugas kita sekarang adalah membuka jalan agar lahir lebih banyak ‘Sananta baru’ dari Batam dan Kepri. Kita ingin anak-anak memiliki mimpi besar dan kesempatan yang sama untuk mewujudkannya,” ujar Fary.

Dalam kesempatan tersebut, Ramadhan Sananta turut menitipkan pesan motivasi bagi anak-anak di tanah kelahirannya agar tidak gentar mengejar mimpi.

“Saya berasal dari daerah yang sama dengan kalian. Jangan pernah takut bermimpi besar. Terus berlatih, disiplin, dan jangan menyerah saat gagal. Tidak ada kesuksesan instan. Jika saya bisa menembus Timnas, saya percaya anak-anak Kepri juga bisa melangkah lebih jauh,” kata Sananta.

Ia menegaskan bahwa asal daerah bukanlah hambatan untuk berprestasi, melainkan kemauan keras untuk berproses setiap hari.

“Siapa tahu, beberapa tahun lagi kalian yang mengenakan lambang Garuda di dada,” ujarnya optimis.

BP Batam International Football Festival 2026 dirancang bukan sekadar sebagai turnamen, melainkan gerakan membangun ekosistem sepak bola yang sehat dan kompetitif.
Selain aspek olahraga, ajang ini diharapkan mampu mendongkrak sektor pariwisata olahraga (sport tourism), menggerakkan ekonomi masyarakat, serta memperkuat citra Batam sebagai kota investasi yang modern dan berdaya saing.

Mengingat posisi strategis Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia, kota ini berpotensi menjadi pusat pengembangan sepak bola usia dini di kawasan regional.

Adapun pembinaan usia dini dinilai selaras dengan upaya pemerintah dalam membentuk karakter generasi muda yang disiplin, sportif, dan percaya diri. Sepak bola ditempatkan bukan lagi soal menang atau kalah, melainkan sebagai ruang menyemai harapan.

Festival ini nantinya akan mempertemukan akademi serta pemain muda dari tiga negara: Indonesia, Singapura, dan Malaysia.

Untuk itu, BP Batam International Football Festival 2026 diharapkan menjadi momentum kebangkitan sepak bola usia dini di Kepri.

Melalui kolaborasi antar-akademi, dukungan regulasi pemerintah, serta keterlibatan orang tua, Batam tengah meletakkan fondasi pembinaan jangka panjang.

Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menyambut positif kegiatan ini.

Ia menilai ajang olahraga internasional dapat menjadi instrumen efektif dalam memperkuat penataan kota di mata dunia.

“Batam tidak hanya dikenal sebagai kota industri, tetapi juga kota yang dinamis, aman, dan nyaman untuk agenda internasional. Festival seperti ini mengirimkan pesan positif bahwa Batam memiliki ekosistem yang mendukung pariwisata olahraga sekaligus daya tarik investasi,” kata Amsakar.

Ia menambahkan, pembangunan Batam tidak boleh bertumpu pada infrastruktur fisik semata, tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan kreativitas lokal.

“Investor tidak hanya melihat kawasan industri, tetapi juga kualitas hidup kota, talenta muda, dan kemampuan daerah menggelar acara yang tertata. Kegiatan ini menampilkan wajah Batam yang terus bergerak maju,” imbuhnya.

Pandangan senada disampaikan oleh Wakil Kepala BP Batam sekaligus Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra.

Ia menilai festival ini memberikan dampak berlapis (multiplier effect) bagi daerah, mulai dari geliat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hingga perluasan jejaring internasional.

“Kita ingin Batam dikenal sebagai kota yang nyaman untuk tinggal, bekerja, dan tumbuh. Kehadiran para peserta, pelatih, dan keluarga dari negara tetangga akan membawa energi positif,” tutup Li Claudia. (RUD)

 

Continue Reading
Kolom Iklan

Berita Lain